Reforminer Institute : Industri Hulu Migas Penyokong PDB

Rabu, 20 November 2019, Dibaca : 303 x Editor : nugroho

inilah.com
Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro.


SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno

Bali - Sektor hulu migas harus didukung semua pihak karena memiliki peranan strategis dalam memberikan kontribusi pada pembentukan produk domestik bruto (PDB) nasional dan porsi tenaga kerja yang terlibat.  

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro, saat menjadi narasumber Lokakarya Media Periode III SKK Migas Jabanusa-KKKS di Bali, Selasa (19/11/2019) lalu.

Baca Lainnya :

    Menurut Komaidi, investasi hulu migas membutuhkan 73 sektor pendukung dan 45 sektor pengguna. Dari 73 sektor pendukung tersebut memberikan kontribusi PDB sebesar 55,99 persen dan porsi tenaga kerja sebesar 61,53 persen. Sementara untuk sektor pengguna, kontribusi PDB yang dihasilkan mencapai 27,27 persen dan porsi tenaga kerja yang ditarik sebesar 19,34 persen. 

    "Jadi melihat sektor hulu migas dalam konteks ekonomi nasional kekinian jangan hanya dalam perspektif penerimaan negara yang tergambar secara statistik di APBN. Dibutuhkan analisis input dan output yang bersifat multiplier effect kegiatan investasi hulu migas secara komprehensif," tegasnya. 

    Baca Lainnya :

      Di tataran global, tambah Komaidi, kendati kampanye dan inovasi teknologi energi baru terbarukan (EBT) atau energi non-fosil terus dikampanyekan, namun trend demand minyak dan gas secara global cenderung bergerak naik secara konstan. Negara India, China, dan negara-negara di kawasan Asia Tenggara sampai tahun 2050 menjadi negara konsumen minyak dan gas dalam volume besar.  

      "Itu terjadi karena besarnya angka demografi dan pertumbuhan ekonomi mereka yang bergerak konstan," tandasnya.

      Jika perang dagang antara Amerika Serikat versus China mereda dan dinamika growth ekonomi global menggeliat kembali, dia memperkirakan terjadi demand migas di pasar internasional yang meningkat tinggi. 

      “Boleh saja kampanye energi nabati dan EBT terus digeber, tapi konsumen energi memandang energi fosil lebih efisien dan terbukti efektif mendukung growth ekonomi dan mobilitas orang di seluruh dunia. 
      Nyatanya, cost energi nabati jauh lebih mahal dibanding energi fosil,” pungkas Komaidi. 

      Kepala Perwakilan SKK Migas Jabanusa, Nur Wihadi menambahkan, capaian investasi hulu migas hingga September 2019, sebesar USD 8,4 miliar dan capaian penerimaan negara dari hulu migas sebesar USD 10,99 miliar.

      "Industri hulu migas masih menjadi salah satu sumber pendapatan negara terbesar," pungkasnya.


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more