10 Tahun Warga Nguken - Bojonegoro Manfaatkan Sumur Gas Peninggalan Belanda

Selasa, 31 Agustus 2021, Dibaca : 368 x Editor : nugroho

Ahmad Sampurno
EKONOMIS : Kusnadi memanfaatkan gas dari sumur peninggalan Belanda untuk kebutuhan memasak sehari-hari.


SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno

Bojonegoro - Kusnadi, warga Desa Nguken, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur sudah 10 tahun memanfaatkan gas rawa di desanya untuk kebutuhan memasak sehari-hari. Pria berusia 70 tahun itu mengaku tidak takut tinggal berdampingan dengan sumur gas peninggalan kolonial Belanda.

Untuk memanfaatkan gas liar sebagai ganti bahan bakar memasak itu, Kusnadi hanya membutuhkan peralatan sederhana. Sebuah kantong plastik berfungsing menampung gas supaya tidak keluar. Kemudian gas dialirkan melalui instalansi sederhana beruapa pipa plastik menjulur sampai bagian dapur.

Baca Lainnya :

    Warga RT 4/2 Desa Nguken ini menceritakan, pertama kali memanfaatkan gas liar setelah terjadi keretakan pada casing (pelapis) sumur gas peninggalan Belanda yang berada di samping rumahnya mengeluarkan gas liar pada 10 tahun lalu, dan memunculkan bau tidak sedap. 

    Berulang kali Kusnadi mencoba menambal rembesan gas yang keluar, namun tetap bocor karena tekanannya cukup besar.

    Baca Lainnya :

      “Akhirnya disarankan teman saya untuk memanfaatkan gas itu sampai sekarang,” ucapnya.

      Kusnadi mengaku sudah 10 tahun memanfaatkan gas liar dari sumur untuk bahan bakar memasak dengan intalasi sederhana. Sampai sekarang ini belum pernah terjadi kebakaran atau ledakan yang membahayakan. 

      “Alhamdulillah, sampai sekarang masih aman,” katanya belum lama ini. 

      Cara Kusnadi memanfaatkan gas liar dari sumur peninggalan Belanda mengundang ketertarikan warga lainnya. Namun, dirinya mengaku tidak berani menyarakan kepada warga untuk memanfaatkan gas liar. Dia   tidak mau mengambil risiko jika suatu saat disalahkan, jika terjadi sesuatu.

      “Saya hanya bisa bantu untuk pemasangan instalasi, kalau untuk tanggung jawab, saya tidak berani. Jadi warga bisa secara mandiri apabila ingin memanfaatkannya,” ujar mantan kepala desa ini. 

      Sebenarnya, lanjut Kusnadi, apabila bisa dikelola dengan baik, gas liar di Nguken akan bisa membantu warga. Bahkan bisa menghemat pengeluaran kebutuhan bahan bakar memasak warga di sini. 

      “Saya sendiri sudah merasakanya. Selama ini kami tidak pernah membeli tabung gas elpiji untuk mesak. Dari sisi keamanan, lebih aman gas alam ini dari pada gas dalam kemasan tabung,” bebernya.

      Namun ununtuk memanfaatkan gas liar ini, tambah Kusnadi, api jangan sampai padam. Fungsinya untuk membakar gas yang keluar agar lebih aman dari pada gas dibiarkan terbuang liar. 

      “Selama ini api tidak pernah padam,” pungkasnya.

      Warga lain, Murtiah (60), mengaku tidak tahu persis kapan sumur gas yang dikenal warga peninggalan Belanda itu dibor. Sejak dirinya masih kecil sumur gas  itu sudah ada. 

      “Sejak zaman nenek-nenek saya dulu sudah ada,” ungkap wanita yang tinggal tidak jauh dari lokasi sumur. 

      Ia pun sebenarnya menyatakan keinginannya untuk ikut memanfaatkan gas liar dari sumur tersebut. Namun dirinya masih merasa takut jika terjadi keadaan bahaya. 

      “Mungkin kalau ada dari pemerintah, kita mau,” jelasnya.   

      Pernah Diusulkan Dikelola Pemerintah

       Keluarnya gas liar dari sumur peninggalan Belanda ini pernah diusulkan Pemerintah Desa Nguken kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, sebelum dimanfaatkan. Namun karena terbentur berbagai aturan, sumur tersebut terbengkalai hingga sekarang, dan dimanfaatkan secara tradisional oleh Kusnadi.

      Kusnadi mengungkapkan, saat dirinya masih menjabat Kepala Desa Nguken, lokasi tersebut sering dikunjungi. Baik dari kalangan pengusaha mupun pemerintah hingga dari Kementerian ESDM. 

      “Saat itu saya sendiri yang mengajukan untuk dilakukan pengelolaan. Tapi, kembali lagi mentok aturan. Lokasi sumur sendiri sebenarnya mlik negara, sehinga tidak ada kendala jika persolan lahan,” ungkap Kusnadi.

      Kusnadi masih masih menyimpan harapan jika suatu saat nanti pemerintah ada niatan untuk melakukan pengembangan.

      Dikonfirmasi terpisah, Kepala Desa Nguken, Arif Syaifudin, mengaku tidak berani mengambil sikap terkait dengan keberadaan sumur gas peninggalan belanda itu. 

      “Kami tidak berani, Mas,” katanya. 

      Di sekitar lokasi sumur tua tersebut terdapat 40 Kepala Keluarga. Mereka menempati tanah negara.  

      “Luasan sekira 1 hektar,” ucapnya.(ahmad sampurno) 



      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more