Adipati Joyonegoro Beri Mbah Sudjan Pusaka Tombak Godong Andong

Minggu, 27 September 2020, Dibaca : 4319 x Editor : samian


Senjata pusaka zaman dulu memang menjadi andalan bagi para pemiliknya dengan kekuatan berbeda-beda untuk digunakan tameng diri, baik dimedan perang maupun lainnya pada masanya. Tak terkecuali Pusaka Tombak Totog Godhong Andong milik Mbah Sudjan yang konon bisa digunakan tetulung pada sesama dalam segala hal.

Terik matahari siang itu cukup panas. Terlihat seorang laki-laki duduk di teras rumah sambil menimang-nimang sebilah tombak seakan tak menghiraukan terik matahari yang kian menembus kulit.

Bahkan saat Suarabanyuurip.com menghampirinyapun ia tetap tenang tak menunjukkan rasa kepanasan. Dengan logat sopan santunnya yang kental mempersilahkan untuk duduk disebelahnya. Dia adalah Mbah Sudjan, sang juru kunci makam R. Adipati Djojonegoro di Desa Mojoranu, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Baca Lainnya :

    Mbah Jan, begitu karib laki-laki berusia 62 tahun itu disapa mulai membuka kisah dimilikinya pusaka jenis tombak totog. Pusaka yang cirinya menyerupai Godhong Andong (berdaun tunggal) tersebut diberi langsung oleh R. Adipati Djojonegoro melalui wisik atau gaib pada kisaran tahun ke 23 pengabdiannya sebagai juru kunci di makam R. Adipati Djojonegoro.

    Lebih lanjut Mbah Jan menerangkan, totog ini adalah nama dapur tombaknya, permukaan bilahnya seperti ngadhal meteng (kadal mengandung). Pusaka ini ia dapatkan saat bertirakat selama 40 hari. Pada hari yang ke 40, ia mendapat wisik (ilham) agar mengambil pusaka tombak totog di atas pusara R. Adipati Djojonegoro.

    Baca Lainnya :

      "Saat saya menerima wisik ingat betul, Eyang Joyonegoro, pesan agar pusaka yang diberikan dipakai untuk tetulung (memberi pertolongan) kepada siapa saja yang membutuhkan pertolongan dalam hal kebaikan," ujarnya.

      Selain pusaka tombak totog godhong andong, ada satu lagi pusaka yang dimilikinya berjenis rajah. Hanya saja Mbah Jan enggan untuk memperlihatkannya jika tidak pada malam selasa kliwon.

      "Sudah aturannya seperti itu, kalau tidak malam Selasa Kliwon saya tidak berani menunjukkan," katanya saat didesak  Suarabanyuurip.com untuk diperlihatkan, Sabtu (26/9/2020).

      Pria empat cucu dari ke empat anaknya ini bercerita, sebelum ahli waris membangun makam Eyang Joyonegoro demikian ia menyebutnya, pada tahun1992 sudah sering mendapat mimpi tentang Eyang Joyonegoro beserta harimau yang selalu ada di dekatnya.

      Namun ia abaikan, dan sampai pada akhirnya makam tersebut ditemukan oleh ahli waris pada Kamis (14/11/1991), dan dibangunan pada awal tahun 1992 oleh Drs. Moestadjab Boedisantoso Noto Adjinegoro, selaku keturunan langsung. Selesai pembangunan, keluarga ahli waris memintanya agar menjadi juru kunci. Setelah dua juru kunci sebelumnya sakit-sakitan.

      "Mungkin tidak kuat, Mas. Cuma dua sampai tiga bulan, habis itu baru saya ditunjuk," ucapnya.

      Sebelum mengakhiri ceritanya, Mbah Jan sempat mengeluhkan kondisi makam yang bangunannya sekarang mulai rapuh. Namun tak bisa merehap karena tidak punya dana. Ia berharap agar para pihak peduli demi melestarikan peninggalan nenek moyang.

      Sejak Eyang Moestajab meninggal, pemeliharaan makam hanya bergantung dari donasi para pengunjung pada hari-hari tertentu. Misal Jum'at Kliwon, Jum'at Legi dan Selasa Kliwon, serta dari dermawan yang merasa hajatnya terkabul setelah berziarah.

      "Semoga saja ada yang peduli membantu membangunnya, agar makam Eyang Joyonegoro menjadi bagus," tutup pria berkulit sawo matang ini.

      Dikutip dari laman Wikipedia Indonesia, R. Adipati Djojonegoro pernah menjabat sebagai Bupati Bojonegoro yang ke 14, periode tahun 1825-1827. (Arifin Jauhari)

       


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more