Alat Pemrosesan Gas JTB Seberat 60 Ton Melintas, Polisi Terapkan Rekayasa Lalu-lintas

Jum'at, 10 Januari 2020, Dibaca : 335 x Editor : nugroho


SuaraBanyuurip.com - d suko nugroho

Bojonegoro – Petugas kepolisian pengawal mobilisasi peralatan pemrosesan gas Jambaran- Tiung Biru (JTB) oleh PT Rekayasa Industri (Rekind), terpaksa harus melakukan rekayasa lalu-lintas saat Selexsol Section 2 seberat 60 ton-bukan 90 ton seperti yang diberitakan sebelumnya, dengan panjang 33 meter, sampai di Jembatan Jetak, Kelurahan Jetak, Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Jumat (10/1/2020) dini hari, pukul 01.05 Wib.

Kendaraan dari arah barat dan timur harus melintas secara bergantian karena dilakukan sistim buka tutup. Sebab truk trailer pengangkut Selexsol Section 2 berhenti di sebelah timur Jembatan Jetak, untuk menunggu kepastian pekerja yang sedang mengecek kekuatan jembatan.

Baca Lainnya :

    Truk trailer pengangkut Selexsol Section 2 memenuhi lebih dari separo badan jalan. Akibatnya terjadi penumpukan kendaraan di bundaran Jetak, maupun di sebelah barat jembatan. 

    Alat yang menyerupai rudal-selexsol Section 2- tersebut sebelumnya berhenti di rest area jembatan Timbang, Kecamatan Baurno, Rabu (8/1/2020) malam. Kemudian melanjutkan perjalan, Kamis (9/1/2020) malam, pukul 22:00 wib.

    Baca Lainnya :

      Setelah melewati jembatan, truk trailer pengangkut Selexsol Section 2 berhenti rest area rumah makan Desa Ngulanan, Kecamatan Dander. Dijadwalkan akan kembali melanjutkan perjalanan pada Jumat (10/1/2020) malam ini, pukul 22.00 Wib, menuju lokasi proyek gas processing facility (GPF) JTB di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem. 

      Site Manager PT Rekayasa Industri  (Rekind), pelsksana proyek EPC-GPF JTB, Zainal Arifin menjelaskan, panjang maupun berat Selexsol tersebut berbeda dengan Absorber Section 2 yang sudah masuk ke lokasi proyek gas processing facility (GPF) di Desa Bandungrejo, pada 8 Desember 2019. 

      Absorber Section 2 dan 3 masing-masing memiliki panjang 15 meter dan 16 meter,  dengan berat 98 dan 103 ton.

      Mobilisasi alat pemrosesan gas JTB ini, lanjut Zainal, terdiri dari empat trip. Yakni selexsol dua unit dan absorber dua unit.

      “Absorber yang belum masuk satu dan empat, dan Selexsol section 1," ujar Zainal kepada suarabanyuurip.com, Jumat (10/1/2020) malam.

      Dikatakan, Absorber Section 1 memiliki berat 106 ton, dengan panjang 15 meter berdiameter 4 meter. Sedangkan Absorber Section 4 memiliki berat 100 ton, dengan panjang 17 meter berdiameter 4 meter.

      Sementara untuk Selexsol Section 1 memiliki berat 91 ton, dengan panjang 34 meter berdiameter 4 meter.

      "Untuk dua trip pengangkutan akan kita lakukan lagi mulai tanggal 13 sampai 28 Januari," ucapnya.

      Ada lima jembatan di Bojonegoro yang sudah diperkuat untuk menahan beban peralatan. Yakni Jembatan Semar Mendem di Desa Trojalu, Kecamatan Baureno; Jembatan Besuki Kulon di Desa Kedung Bondo, dan Jembatan Pacal di Desa Kabunan, keduanya di Kecamatan Balen; Jembatan Jetak di Kelurahan Jetak, Kecamatan Bojonegoro; dan Jembatan Kalitidu di Kecamatan Kalitidu.

      “Dari hasil evaluasi, jembatan yang sudah diperkuat setelah dilewati Absorber pertama hanya turun 13 mili dari ambang batas 36 mili,” tegasnya.

      Mobilisasi peralatan gas JTB ini menempuh jarak sepanjang sekira 136 Kilo Meter (KM). Denngan rute Maspion Jetty Gresik – Jl. Sukomulyo Raya – Jl. Roomo – Jl. KIG Raya Barat – Jl. KIG Raya Selatan – Jl. Doktor Wahidin – Jl. Gresik Babat – Jl. Gotong Raya – Jl. Patung Sapi – Jl Baurno Bojonegoro – Jl. Ahmad Yani – Jl. Untung Suropati – Jl. Rajekwesi – Jl. Raya Cepu – JTB site.(suko)



      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more