Anna dan Anwar Melawan Kebosanan

Meretas Emosi Pemilik Suara Pemilukada Tuban (1)

Jum'at, 27 November 2020, Dibaca : 283 x Editor : teguh

Suarabanyuurip.com/ist
Tiga Paslon Bupati dan Wabup Tuban mengambil nomor urut yang digelar KPU Tuban beberapa waktu lalu.


Oleh : Teguh Budi Utomo

Pemilukada Tuban 2020 serasa membumi di daerah seluas 1,839,94 Km2. Siapapun dan dimanapun membahas siapa yang akan mengganti Fathul Huda dan Noor Nahar Hussein yang akan berakhir pada bulan Juni 2021 mendatang. Mereka tak jadi incumbent lantaran sudah dua periode memimpin 1.298.302 penduduk yang menghuni 328 desa/kelurahan di 20 kecamatan.       

Penyelenggaran Pemilu di Bumi Ranggalawe, KPU Tuban, telah menetapkan tiga pasang calon (Paslon) Bupati dan Wabup Tuban periode 2021-2024. Mereka adalah Khozanah Hidayati dan Muhammad Anwar diusung PKB, dan didukung Nasdem, Gelora, dan Perindo; Aditya Halindra Faridzki dan Riyadi yang diberangkatkan Partai Golkar, Demokrat dan PKS; dan Setiajit dan Armaya Mangkunegara kandidat dari PDIP, Gerindra, PAN, PPP, dan PBB.   

Baca Lainnya :

    Beragam latar belakang dan spekulasi publik mewarnai pencalonan mereka. Salip menyalip di simpang jalan tak lepas dari proses perolehan rekomendasi Parpol pengusung. Ada yang menganggap, di ranah demokrasi, adegan keluar dari fatsun politik semacam itu adalah wajar.

    Terlepas dari itu kini mereka bertarung berebut simpati 942.519 orang, sesuai ketetapan KPU, sebagai Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilukada Tuban 2020. Jika dikalkulasi jumlah pemilih perempuan sebanyak 476.982, dan laki-laki 465.537, pemilih wanita lebih banyak 11.445 ketimbang pria.

    Baca Lainnya :

      Laiknya pengantin pesona ketiga Paslon tak bercacat. Gagah, cantik, dan bersahaja pada siapapun yang ditemuinya. Program pembangunan yang ditawarkannya, entah dibuatkan tim ahli atau dilaras sendiri, sangat apik dan menina bobo. Semua program layak diendoresement--walau masih sebatas wacana--untuk memikat pemilih.

      Jika merunut hasil sejumlah Pemilukada di berbagai daerah sebelumnya, ada nilai-nilai kultural mewarnai kemenangan dan kekalahan Paslon. Tak ketinggalan emosi pemilih juga berpengaruh terhadap kesuksessan. Sekalipun gairah jiwa tersebut  terkadang tak rasional, namun wajar karena hal itu ranah privat mayoritas pemilih.

      Pada konteks emosi jiwa pemilih, pasangan Anna dan Anwar (AMAN), bakal bertarung melawan masa lalu dengan kemonotonnya. Partai pengusungnya, PKB, dengan Bupati dan Wabup, Fathul Huda dan Noor Nahar Hussein, telah dua periode (10 tahun) memimpin daerah kantong pangan yang diiris Sungai Bengawan Solo.

      Dukungan Nahdliyin, warga Nahdlatul Ulama (NU), yang solid pada tahun 2011 silam mengantarkan Huda dan Noor Nahar menggantikan pasangan Haeny Relawati Rini Widyastuti dan Lilik Soeharjono. Tokoh Partai Golkar yang kini legislator di Senayan, Haeny  Relawati, selama satu dasa warsa memimpin wilayah yang dibalut pantai sepanjang 65 Km itu.

      Saya tak mengatakan, jika Huda dan Noor Nahar gagal memimpin Tuban. Kedua tokoh NU ini telah membesut warga dengan nilai-nilai religi sejak anak memasuki usia sekolah dengan target, diantaranya, ketika industri menghegemoni warga muda Tuban tak mudah terpengaruh dampak sosialnya. Selain itu perilaku religius sebagaimana ajaran Hadratus Syeik KH Hasyim Asyari, bisa dibumikan di daerah dengan banyak makam wali. Mereka juga sarat prestasi ketika memimpin Tuban. 

      Kendati demikian, rasa jenuh dan kebosanan--terkadang tak rasional--berpengaruh terhadap pilihan publik. Rasa jenuh sepanjang 10 tahun berkelindan terhadap emosi pemilih. Bisa jadi lantaran mazhab demokrasi kita tak mengenal periodisasi kepemimpinan terus menerus, sekalipun oleh figur berbeda namun berangkat dari parpol, atau organisasi sewarna.

      Bukti riil di Tuban adalah kalahnya pasangan Kristiawan dan Haeny ketika bertarung melawan Huda dan Noor Nahar pada Pemilukada 2011. Di Bojonegoro, istri Bupati Suyoto (2008-2018), Mahfudoh yang berpasangan dengan Kuswiyanto ditekuk oleh Anna Muawanah yang berduet dengan Budi Irawanto.

      Termasuk pula kekalahan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Puti Guntur Soekarno atas pasangan Khofifah Indar Parawansa dan Emil Dardak dalam Pemilukada Jatim 2018. Gus Ipul sebelumnya adalah Wagub Jatim selama dua periode berpasangan dengan Gubernur Soekarwo. 

      Sepanjang 120 bulan terus menerus para pasangan Bupati-Wabup dan Gubernur-Wagub tersebut, memiliki berbagai penghargaan sebagai apresiasi atas keberhasilannya memimpin. Ketika parpol pengusung, maupun organisasi pendukung yang menjadi identitasnya bertarung lagi di Pemilukada berikutnya, ternyata tak membuahkan hasil signifikan.  

      Pada konteks Pemilukada Tuban 2020, Anna dan Anwar yang diusung PKB dan diusung Nahdliyin menghadapi situasi itu. Sekalipun pendukungnya heboh, dan parpol maupun organisasi besar mendukungnya, jika tak cerdik dalam berstrategi politik akan bernasib serupa.

      Sejarah mencatat politik identitas yang cenderung sektarian, sangat menentukan kemenangan di awal pertarungan pada periode pertama. Setelah itu akan sulit karena emosi pemilih yang merasakan kepemimpinannya tak bisa lagi digiring. Wajar pula jika mereka berhasrat mencoba yang baru. (bersambung)


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more