Artefak Diduga Zaman Dinasti Ming dan Tang Ditemukan di Bojonegoro

Kamis, 09 Januari 2020, Dibaca : 767 x Editor : nugroho

ririn wedia
BENDA BERSEJARAH : Warga menunjukkan artefak yang diduga peninggalan Zaman Ming dan Tang.


SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro - Sejumlah benda bersejarah diduga dari zaman Dinasti Ming dan Tang ditemukan di lahan permukiman warga Desa Sudah, Kecamatan Malo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. 

Benda-benda tersebut berupa piring besar, guci dan piringan yang diduga untuk ritual ibadah penganut agama Hindu. Artefak ditemukan saat warga sedang menggali tanah untuk membangun rumah, dan sekarang disimpan warga.

Baca Lainnya :

    Kepala Desa Sudah, Agus Muklison mengatakan warga setempat sering menemukan benda-benda peninggalan sejarah. Namun dari temuan itu ada yang dikubur kembali, dibuang ke Sungai Bengawan Solo maupun di jual kepada kolektor.

    "Ada beberapa ditemukan fosil tulang gigi dikubur lagi, perhiasan emas juga pernah tapi dibuang lagi ke sungai," ujarnya kepada suarabanyuurip.com, Kamis (9/1/2020). 

    Baca Lainnya :

      Menurut Agus, warganya memilih membuang lagi  benda-benda sejarah yang ditemukan karena masih percaya hal mistis yang menyertai barang tersebut.

      "Ada yang nemu terus anaknya sakit, sehingga dibuang lagi," jelas pria yang belum genap setahun menjadi kepala desa itu.

      Pemerhati Cagar Budaya Kabupaten Bojonegoro, Harry Nugroho menjelaskan, artefak berupa guci sebanyak delapan biji (masih belum diketahui fungsinya), lempengan dari tembaga, piring (tempat buah) dari gerabah, dan tenong (diduga sebagai tempat perhiasan) itu kondisinya masih utuh.

      Barang-barang tersebut diduga merupakan peninggalan zaman Dinasti Ming dan Dinasti Tang. Dinasti Tang, lebih tua dengan ciri khas berwarna coklat agak kusam, yakni pada abad ke 7 hingga abad 10. Sedangkan untuk Dinasti Ming, pada abad 14 hingga abad 17 memiliki ciri keramik berwarna putih berhias biru.

      "Kemungkinan barang-barang tersebut dulu dibawa saudagar yang sedang singgah. Transportasi saat itu hanya melalui jalur air Sungai Bengawan Solo," pungkasnya. (rien). 



      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more