Belajar Otodidak, Kini Mahir Menggambar Sketsa dan Lukisan

Jum'at, 21 Agustus 2020, Dibaca : 1184 x Editor : nugroho

joko kuncoro
KREATIF : Ahmad Latif Basya di antara lukisan hasil karyanya yang sudah mencapai 300 lebih.


SuaraBanyuurip.com -  Joko Kuncoro

Bojonegoro - Awalnya hanyalah coba-coba, namun kini menggambar sudah menjadi rutinitas Ahmad Latif Basya. Belajar secara otodidak, ia tekun berusaha. Hasilnya, jika dihitung karyanya sampai saat ini sudah berjumlah 300 lebih.

Basya, sapaan akrabnya menuturkan semua berawal dari kegemarannya melihat keindahan makhluk ciptaan Tuhan, seperti hewan, tumbuhan, dan alam. Oleh karena itu, ia berpikir pada dasarnya setiap kehidupan pasti memiliki filosofi dan karakter tersendiri. 

Baca Lainnya :

    “Lalu saya mencoba untuk menggambar semua itu," katanya Kamis (20/08/2020). 

    Sebanyak 300 karyanya berbentuk lukisan maupun sketsa wajah. Dalam sehari ia mampu menggambar tiga hingga empat sketsa wajah. 

    Baca Lainnya :

      "Bahkan, bisa lebih tergantung tingkat kesulitannya," katanya saat ditemui SuaraBanyuurip.com.

      Pemuda asal Desa Ngantru, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, ini mengatakan, satu bentuk sketsa wajah ia banderol sekitar Rp 200 ribu tergantung ukuran kertasnya.  Namun, berbeda dengan lukisan yang harganya lebih mahal karena berukuran besar dan peralatannya juga mahal. 

      Ia mengaku pernah melukis Harimau Jawa dan terjual hingga Rp 1,5 juta. 

      "Hingga kini lukisan itu yang paling mahal," kata lelaki usia 23 tahun itu. 

      Dalam keadaan pandemi seperti sekarang, tingkat pemesanan lukisannya pun juga ikut menurun. Karena, semua aktivitas pekerjaan berhent dan mempengaruhi penghasilan. 

      “Menurun drastis, dalam lima bulan terakhir terhitung hanya lima gambar dan lukisan yang terjual,” katanya.

      Alumni IAI Sunan Giri Bojonegoro ini juga berprofesi sebagai guru. Baru-baru ini, ia melukis perempuan berkemben membawa seikat padi di tangannya. Lukisan itu menunjukkan, bahwa dalam masa pandemi Covid 19 ini, para petani masih bisa makan tanpa terpengaruh dengan adanya virus.  

      “Ya, kurang lebih seperti itu. Karena, filosofinya dari keresahan kehidupan manusia," tuturnya.(jk)



      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more