Bergegas Merangkul Selaksa Pohon

Kamis, 11 November 2021, Dibaca : 281 x Editor : nugroho


SuaraBanyuurip.com - d suko nugroho

Program penanaman pohon tak sekadar penghijauan untuk merawat lingkungan. Pertamina EP Cepu melihatnya sebagai program berkelanjutan untuk menjaga lingkungan masa depan.

Pohon Trembesi tumbuh subur di kanan kiri sepanjang jalan nasional Bojonegoro - Padangan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Tingginya sudah mencapai lebih dari lima meteran. Rantingnya bercabang dengan dedaunan rimbun.

Baca Lainnya :

    Sesekali daun itu bergoyang diterpa angin menghadirkan udara sejuk di musim kemarau. Tak jarang pengendara motor yang melintas berhenti, sekadar berteduh melepas capek di bawahnya dari sengatan matahari. Setelah itu kembali melanjutkan perjalanan.

    "Tempatnya enak dan teduh karena banyak pohonnya," ujar Wawan, warga Bangkle, Kabupaten Blora, Jawa Tengah yang mengaku dari Surabaya kepada Suarabanyuurip.com, pertengahan Oktober 2021 lalu.

    Baca Lainnya :

      Rindangnya pepohanan di sepanjang jalan tersebut banyak dimanfaatkan pedagang kecil untuk mengais rezeki. Mereka menjajakan aneka minuman untuk menjala rupiah dari pelintas kawasan yang masuk teritorial Bumi Angling Darma itu.

      "Lumayan. Kalau ramai, sehari bisa dapat sejuta rupiah lebih," ujar Rohman penjual es kelapa muda di kawasan jalan yang masuk wilayah Desa Leran, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro.

      Lelaki paruh baya itu menggunakan kendaraan roda tiga sebagai lapak dagangan. Ia mulai membuka dagangan pukul 09.00 WIB hingga 15.00 WIB.

      Penghijauan di sepanjang jalan Bojonegoro - Padangan sebelumnya minim akibat dampak proyek pelebaran jalan nasional pada tiga tahun silam. Pepohonan di kanan kiri jalan dibabat habis. Setelah proyek rampung, sepanjang jalan mulai ditanami lagi.

      "Sebelum dilebarkan tahun 2019 lalu banyak pohon Mahoninya. Kemudian diganti Trembesi, sekarang jadi lebih rindang dan sejuk," kata Kepala Desa Leran, Muttabi'in ditemui terpisah.

      Penanaman Trembesi di sepanjang tersebut merupakan program penghijauan dari Pertamina EP Cepu (PEPC). Program penghijauan berkelanjutan itu, sejatinya juga dilakukan oleh perusahaan ini di sepanjang jalan raya Surabaya – Bojonegoro, termasuk pula di ruas jalan perbatasan Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

      Trembesi memiliki karakter kuat, dan manfaat komplit untuk lingkungan. Di antaranya untuk peneduh, mampu menyerap karbon dioksida dari asap knalpot kendaraan, memproduksi oksigen, dan menyerap air saat musim penghujan.

      “Satu batang pohon Trembesi mampu menyerap 28,5 ton gas Co2 setiap tahunnya, jika ditanam secara luas dapat menurunkan konsentrasi gas secara efektif dalam waktu yang lebih singkat," tutur Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro, Hanafi, dikonfirmasi terpisah.

      Penanaman pohon yang dilakukan Pertamina EP Cepu secara masif ini, menurut Hanafi, sejalan dengan  Bojonegoro Green, salah satu program prioritas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) sekarang ini. Program ini menargetkan penanaman 500 ribu pohon Trembesi.

      Harapannya dengan penanaman pohon tersebut dapat meminimalisir emisi karbon. Selain sebagai bagian dari skema hidup sehat di lingkungan yang hijau. Udara yang dihirup jika kualitas oksigennya bagus akan membantu terjaganya kesehatan, dan lingkungan masyarakat. Melalui cara itu ke depan masyarakat bisa lebih produktif.

      "Pertamina EP Cepu telah berkontribusi menjaga lingkungan masyarakat, sudah lebih dari 16 ribu pohon ditanam sejak tahun 2018 dari target 25 ribu pohon,” tegas mantan Kepala Dinas Pendidikan Bojonegoro.

      “Karena itu penting bagi semua pihak untuk turut serta dalam menjaga kelestarian lingkungan termasuk program penghijauan,” pungkas Hanafi.

      Bagi Pertamina EP Cepu, timpal Jambaran – Tiung Biru (JTB) Site Office & PGA Manager Edy Purnomo, penanaman pohon yang dilakukan sebagai bentuk komitmen korporate dalam penerapan kegiatan operasi yang berwawasan lingkungan. Sekaligus mendukung kelestarian lingkungan, dan penerapan analisa dampak lingkungan secara tepat.

      “Kami merancang program ini secara sustainable (berkelanjutan-Red) dengan skema matang,” tegas pria komunikatif itu saat dikonfrontir secara terpisah pekan ketiga Oktober 2021.

      Diantara program yang diinisiasi Pertamina EP Cepu adalah penanaman pohon di sekitar badan jalan, lingkungan sekitar operasi perusahaan, hingga lingkungan sekolah. Perusahaan mafhum jika lingkungan lembaga pendidikan bagus, bisa membangkitkan kenyamanan bagi proses kegiatan belajar mengajar.

      Yang pasti lingkungan sekolah yang sehat, dan bersih juga menjadi salah satu pendukung keberhasilan dunia pembelajaran. Jika lingkungan hijau dan nyaman kegiatan belajar mengajar akan lebih nyaman dan menyenangkan.

      Sederet lembaga pendidikan menjadi perhatian tersendiri dari operator lapangan minyak dan gas bumi (Migas) Jambaran-Tiung Biru (JTB) tersebut. Di ladang Migas yang berlokasi di wilayah Kecamatan Ngasem, Tambakrejo, dan Kecamatan Purwosari di Kabupaten Bojonegoro itu, ada sembilan sekolah menjadi sasaran program Green School. Yakni SDN 1 dan SDN 2 Bandungrejo, Kecamatan Ngasem; SDN 1 Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo; SDN 1 Pelem, SDN 2 Pelem, SDN 1 Kaliombo, SDN 2 Kaliombo, SDN 4 Kaliombo, dan SMPN 2 Purwosari, Kecamatan Purwosari.

      “Kami mengikuti program Green School yang dilaksanakan sejak 2019,” ujar Kepala SDN 1 Pelem, Sri Endang Setyani.

      Skema programnya pihak sekolah mendapat pelatihan tentang penataan lingkungan sehat berbasis sekolah. Mewujudkan lingkungan sekolah yang bersih, hijau dan sehat. Pola pendidikan tentang lingkungan ini melatih siswa untuk sadar akan budaya lingkungan bersih dan sehat.

      Dari program ini, Endang bersama tim pengembang sekolahnya mulai menata lingkungan sekolah. Salah satunya membuat taman dengan memanfaatkan halaman sekolah. Di taman itu ditanami aneka jenis tanaman hias seperti baugenvil, gelombang cinta, dan tanaman gantung lainnya.

      "Semua tanaman itu ditanam dan dirawat oleh siswa," ujar wanita ramah itu kepada Suarabanyuurip.com, Minggu (31/10/2021).

      Sekolah ini berencana memanfaatkan green house yang ada untuk mengembangkan tanaman hidroponik. Pola penanaman di lahan sempit tersebut juga termasuk bagian program Green School.  Para guru dan tenaga kependidikan, dan siswa juga telah dilatih metode hidroponik dan aeroponik.

      "Pada tahap awal ini kami ingin menanam Sawi dengan metode hidroponik, selanjutnya akan dikembangkan sayuran lainnya," bebernya.

      Sejak program Green School digulirkan tiga tahun lalu manfaatnya sudah terasa. Telah tumbuh kesadaran, dan kepedulian para siswa untuk menjaga lingkungan sekolah. Seperti merawat kebun hingga menjaga kebersihan lingkungan.

      Sayangnya pandemi Covid-19 yang merambah Bojonegoro, memaksa kegiatan belajar mengajar secara daring sejak Maret 2020 lalu. Hal itu berdampak pada menurunnya kegiatan pengelolaan lingkungan sekolah. Setelah sebaran virus tertangani dengan vaksinasi program tersebut kini dimulai lagi.

      "Harapannya kami bisa masuk Sekolah Adiwiyata, semoga ada program-program lingkungan yang berkelanjutan untuk sekolah ini," pungkas wanita guru yang memimpin SDN 1 Pelem sejak Februari 2018 lalu.

      Program lingkungan dan penghijauan yang dilaksanakan Pertamina EP Cepu, salah satunya gerakan penanaman pohon, mendapat apresiasi dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). SKK Migas mendorong program tersebut membumi di setiap wilayah kerja hulu migas, sebagai upaya mengurangi polusi dan meningkatkan penyerapan karbon.

      “Program penanaman pohon ini sebagai perimbangan peningkatan kegiatan di hulu Migas dalam rangka mengejar pencapaian target satu juta BOPD (Barrel Oil Per Day) minyak, dan 12 MMscfd gas pada tahun 2030,” kata Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto, saat kunjungan kerja di lokasi proyek gas Jambaran – Tiung Biru di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro, Kamis (10/6/2021) lalu.

      Gerakan penanaman pohon dari industri hulu Migas sebagai komitmen menjaga lingkungan. Kini lembaga pengawas kinerja operator Migas itu, semakin menggalakkan pelaksanaan program tersebut sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam menjaga lingkungan. Targetnya pada tahun 2021 akan ada penanaman satu juta pohon.

      Di lain sisi mulai tahun 2021 SKK Migas memasukkan program itu di Daerah Aliran Sungai (DAS), dan lahan kritis di wilayah-wilayah kerja kontraktor kontrak kerja sama (KKKS). Hal itu menjadi salah satu Key Performa Indicator (KPI) Organisasi. Keputusan ini untuk memastikan program dilakukan dengan baik.

      "Untuk pelaksanaan program kita koordinasikan bersama Kementerian Lingkungan Hidup, dan Kehutanan atau KLHK," tegas mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) itu.

      Dwi menjelaskan, program rehabilitasi DAS mulai dicanangkan pada tahun 2015, dan terdapat 12 KKKS yang terlibat dalam kegiatan untuk merevitalisasi lahan kritis di daerah sekitar kegiatan operasi. Kegiatan telah dilakukan di lahan seluas 6.140 hektar.

      Sesuai data dari SKK Migas, sebagaimana dikutip Dwi Sutjipto, sampai bulan April 2021 terdapat 5.417 hektar DAS dan lahan kritis telah dilakukan penanaman dengan status yang berjenjang. Dari luasan itu hamparan lahan seluas 1.154 hektar di antaranya telah selesai penanaman, dan tiga tahap pemeliharaan. Kini telah diserahkan kepada Kementerian KLHK.

      "Sisanya sedang dalam proses penanaman, dan pemeliharaan," tegas mantan Direktur Utama PT Semen Gresik (Persero) Tbk, kini PT Semen Indonesia (Persero) Tbk.

      Pria berkacamata minus ini berharap, agar gerakan penanaman pohon dilaksanakan KKKS secara lebih masif lagi. Meskipun di lapangan kegiatan industri hulu migas tidak memerlukan pembukaan lahan yang luas, namun tetap menggalakkan penanaman pohon di sekitar daerah operasinya untuk mendukung usaha menekan emisi.

      Sedangkan Edy Purnomo dari Pertamina EP Cepu menambahkan, sejak 2018 hingga 2021 pihaknya telah menanam lebih dari 20 ribu pohon di sejumlah wilayah Kabupaten Bojonegoro. Baik di jalan nasional, poros umum kecamatan, poros desa, area embung,  sekitar lokasi proyek Jambaran – Tiung Biru maupun wilayah lainnya.

      Khusus untuk program pemberdayaan lingkungan ini, Pertamina EP Cepu bekerja sama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Bojonegoro. Diantaranya, Ademos, IDFoS, Bojonegoro Institut (BI), dan LPM Indonesia. Tak melupakan pula melibatkan Dinas Lingkungan Hidup Bojonegoro.

      Subholding Upstream Pertamina juga mengimplementasikan pengelolaan lingkungan hidup berkelanjutan dalam pelaksanaan proses bisnis di hulu migas. Hal tersebut sesuai dengan komitmen Pertamina dalam mengimplementasikan nilai-nilai Environment, Social, and Governance (ESG) secara berkelanjutan.

      Sejatinya beragam program dengan fokus keberlanjutan untuk mengatasi perubahan iklim atau mengurangi dampak lingkungan. Lembaga milik Pertamina ini melakukannya di seluruh regional, khususnya Regional Jawa, dan Kalimantan.

      "Program-program yang dijalankan ini mendukung upaya pemerintah mewujudkan target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs)," sebut Corporate Secretary Subholding Upstream Pertamina, Arya Dwi Paramita, Selasa (02/11/2021).

      Saat ini Subholding Upstream Pertamina tengah menjalankan dua projek utama. Yakni, efisiensi energi dan pengurangan emisi, dan rencana penerapan energi terbarukan melalui penggunaan Panel Surya.

      Efisiensi energy di Subholding Upstream dilakukan melalui pengurangan bahan bakar fosil, meningkatkan keandalan, dan efisiensi mesin serta optimalisasi sistem produksi. Dengan berbagai macam program yang dilakukan di tingkat zona, target pengurangan emisi mencapai 33.296 ton Co2eq,  dan mencatatkan potensi efisiensi biaya hingga Rp66,4 miliar.

      Selain itu pengurangan emisi dilakukan melalui program penonaktifan suar (flare), pengurangan suar (flare) gas, dan pemanfaatan gas. Dalam pelaksanaannya mencatatkan target pengurangan emisi hingga 83.895 ton Co2eq.

      “Masih ada program lain yang sedang dalam tahap perencanaan, dan persiapan dari Subholding Upstream sehingga kontribusi pengurangan emisi akan terus meningkat,” tambah Arya.

      Telah direncakan penerapan energi terbarukan melalui penggunaan Panel Surya. Ini nantinya dapat berkontribusi dalam pengurangan emisi. 

      Rangkaian program yang mengarah pada penghijauan dan pengelolaan lingkungan hidup telah digulirkan oleh jajaran Pertamina. Program berkelanjutan tersebut melibatkan masyarakat, stakeholder, dan jajaran pemerintah. 

      "Bagi kami menanam pohon bukan sekadar merawat lingkungan, tapi juga menjaga masa depan," pungkas Edy Purnomo. (suko)



      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more