BOJONEGOROShetra

Rabu, 29 September 2021, Dibaca : 370 x Editor : nugroho

Dok.Murtadho
Murtadho


                           Oleh : Murtadho 

 Sruput kopinya dulu... !!!

Bumi Bojonegoro dianugrahi allah swt, dengan kekayaan alam berupa sumber minyak mentah yang konon terbesar di asia tenggara. Apalagi saat ini bisa dilihat peninggalan belanda berupa sumur minyak tua yang masih bisa dinikmati sampai sekarang. Walau dengan cara tradisional masyarakat Bojonegoro mengolah minyak mentah yang ilmunya didapat secara turun temurun, bukti sanggup mengolah minyak mentah menjadi sumber ekonomi.

Baca Lainnya :

    Bahkan orang di luar Bojonegoro pun menjadi terkagum-kagum, bagaimana masyarakat sekitar bisa mengolahnya tanpa dibekali keahlian khusus untuk mengolahnya. Tak ayal mereka berbondong ingin melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana hasil bumi itu diolah, bahkan tidak sedikit mereka ikut investasi.

    Tidak jauh dari lokasi sumur tua daerah Banyu Urip pun kandungan minyak mentahnyapun tidak bisa dianggap kecil. Sehingga negara mempercayakan pengolahannya ada perusahaan USA, ExxonMobil. Ditambah lagi pada belahan Bojonegoro lainnya juga terdapat kandungan minyak yang pengelolaannya oleh Petrochina-sekarang berganti Pertamina. Konon masih ada cadangan minyak lagi yang masih tersimpan, dan nilai kandungannya juga tidak kalah dengan lapangan Banyu Urip.

    Baca Lainnya :

      Wapres Boediono, saat bertandang ke Banyu Urip pada 24 April 2014, diberi paparan bahwa sejak beroperasi pada 2009, hingga kini lapanngan minyak Banyu Urip telah menghasilkan 36 juta barel minyak, yang nilainya setara dengan 3,47 miliar dolar AS. Adapun potensi kandungan minyak di Blok Cepu itu mencapai 445 juta barel. ExxonMobil menemukan cadangan minyak itu pada 2001, setelah membelinya dari Humpus Patragas (Tommy Soeharto) dan Ampolex (Australia) pada 1998. Kontrak Blok Cepo yang dipegang ExxonMobil berlaku hingga 2035.

      ExxonMobil berkiprah di Banyu Urip dan Blok Cepu lewat anak perusahaannya Mobil Cepu Limited, dan menjadi pemegang 45 persen saham. Pertamina, lewat PT Pertamina EP Cepu, juga memegang saham 45 persen. Sisa saham yang 10 persen dipegang oleh Badan Kerja Sama PI Blok Cepu (BKS), yang merupakan kumpulan BUMD para pemerintah daerah yang jadi tuan rumah: PT Sarana Patra Hulu Cepu (Pemprov Jawa Tengah), PT Asri Dharma Sejahtera (Pemkab Bojonegoro), PT Blora Patragas Hulu (Pemkab Blora), dan PT Petrogas Jatim Utama Cendana (Pemprov Jawa Timur). https://www.indoplaces.com/mod.php?mod=indonesia&op=view_region&regid=275

      Kue besar sumber daya alam migas telah membuat seantero jagad berbondong-bondong ingin mencicipinya. Kaangan konglomerat, politisi, presiden, gubernur bahkan sampai bupatipun pasti akan melibatkan itung-itungan apa dan berapa yang harus dibagi. Sekaligus sebagai bargaining politik setiap mendekati masa suksesi.

      Bagaimana dengan rakyat Bojonegoro sebagai ahli waris sah dari kekayaan tersebut, semenjak pemerintah Bupati Santoso, sebagai bupati penanda dimulainya eksplorasi setelah disepakatinya itung itungan dana bagi hasil migas, yang sejatinya bisa menambah PAD kabupaten Bojonegoro dimasa mendatang.

      Dilanjutkan Bupati Suyoto dua periode melahirkan rencana pengelolaan dana bagi hasil (DBH) migas dengan format dalam bentuk dana abadi pun mental, karena sebagian besar masyarakat menilai Bojonegoro masih butuh membangun dalam jangka waktu dekat. Selanjutnya format perda konten lokal-pun dengan harapan keterlibatan kontraktor lokal dalam menikmati kue sumber daya alam migas pun hanya menjadi isapan jempol belaka.

      Dan pembangunan sekelas pemilik APBD terbesar di Jawa Timur ini pun belum menampakkan hasilnya yang masif. Masih banyaknya jalan berlobang dan konsep pembangunan yang asal-asalan. Selama 10 tahun berkuasa, maksud mengajak masyarakat untukm fix it yourself dalam pembangunan ternyata juga tidak berhasil.

      Adalah Bupati Anna Mu’awanah sebagai bupati wanita satu satunya dalam sejarah Bupati di Bojonegoro. Dengan modal APBD Trilyunan 3 tahun periode pertama ini, membuat bupati Anna menggebrak pembangunannya yang terfokus dengan sangat masif, terbukti sebagian besar jalan di Bojonegoro sudah berubah dari paving menjadi COR.

      Sayangnya gerakan pembangunan yang masif tersebut tidak diimbangi dengan style leadership yang ngayomi ngopeni yang masif juga. Tahun pertama memimpin, sikap melawan kepada pihak yang berbeda pendapat tak dapat dihindari. Bahkan cenderung melakukan intimidasi baik secara verbal maupun non verbal, sehingga yang seharusnya ngayomi malah mateni, yang semestinya ngopeni malah dipateni. Kesimpulannya adalah bukan memperbanyak sahabat untuk bersama membangun sebaliknya malah menanam bermusuhan kepada siapapun.

      Yang baru update terjadi dan cenderung on progress perilaku bupati dan wabup membuat repot aparat kepolisian, dengan aksi wabup melaporkan bupati karena merasa tercemarkan nama baiknya saat di forum WAG. Menurut hemat penulis kejadian tersebut mestinya tidak perlu terjadi, jika kedua belah pihak dewasa dalam menghadapi perbedaan. Sehingga urusan rumah tangga pemerintahan cukup diselesaikan mereka berdua sebagai bupati dan wabup. Mbok yaow kalo belum bisa mengendalikan diri tidak usah sok-sokan berpolitik.

      Aksi laporan wabup tersebut memantik media untuk memuat berita running setiap hari, rival politik Anna-Wawan saat pilbup kemarin akhirnya ikut bersuara, bahkan mantan bupati dan calon gagal DPR-RI Suyoto pun merasa perlu mendamaikan mereka berdua lewat kanal salah satu media online, selanjutnya dahlan iskan bahkan sering membuat tulisan terkait polemik dua orang ini.

      Penulis menilai aksi para tokoh tersebut seyogyanya tidak perlu dilakukan lewat media, sehingga masyarakat Bojonegoro sang pemberi mandat pemerintahan tidak merasa dikecewakan dengan ulah semuanya, atau jangan jangan mereka punya agenda sendiri dengan aksinya itu, wallahu a’lam.

      Selanjutnya semua harus belajar mengendalikan diri dalam memimpin Bojonegoro ini, jangan jadikan Bojonegoro sebagai KURUSHETRA nya Mahabarata, rakyat yang dirugikan, uang berlimpah tidak terserap dengan baik untuk pembangunan, karena kegiatannya lebih dipenuhi dengan intrik kepentingan pribadi dari ada membangun.

      Yang terakhir siapa dan apa yang diuntungkan dari polemik BOJONEGOROshetra  kali ini.. ?

      Sruput kopinya lagi aagh... !!!

      Penulis adalah : warga Bojonegoro - 352215xxxxxx0002

       

       


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more