Cerdaskan Anak Pinggir Bengawan Solo, Muhammad Roqib Dirikan Kampung Ilmu

Senin, 08 November 2021, Dibaca : 252 x Editor : nugroho

joko kuncoro
Muhammad Roqib, pendiri Kampung Ilmu Bojonegoro.


SuaraBanyuurip.com - Joko Kuncoro

Bojonegoro - Semenjak masih menjadi mahasiswa di Universitas Brawijaya Malang, Muhammad Roqib sudah mendampingi anak-anak di Kali Brantas untuk belajar. Panggilan jiwa itulah yang kemudian membuatnya mendirikan Kampung Ilmu Bojonegoro yang kini telah memiliki 150 an anak didik.

Kini pria asal Desa/Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur itu, setelah selesai kuliah masih melanjutkan kegiatan sosialnya di tempat ia tinggal. Yakni di bantaran Sungai Bengawan Solo tepatnya di Kecamatan Purwosari.

Baca Lainnya :

    "Sebelum saya mendirikan Yayasan Kampung Ilmu memang semenjak menjadi mahasiswa banyak berinteraksi dengan masyarakat pinggiran Kali Brantas," kata Roqib mengawali cerita.

    Awalnya, ia memiliki kesadaran di dunia pendidikan saat masih menjadi mahasiswa di Malang. Waktu itu, Roqib sapaan akrabnya setelah pulang kuliah mengajar anak-anak yang berada di pemukiman kumuh yakni Kali Brantas.

    Baca Lainnya :

      "Ya, saya ke pemukiman padat untuk mengajak anak-anak belajar yakni dengan car masuk dari rumah ke rumah," jelasnya sebagaimana dikutip dari Channel YouTube dariNOL.

      Rata-rata mereka tinggal di tepi-tepi Kali Brantas yang bangunannya dari kardus atau sasak bambu jika banjir pasti terseret. Dia mengatakan banyak usia anak di sana yang putus sekolah karena tak mepunyai biaya. Akhirnya banyak usia anak yang utus sekolah, penjual koran, hingga pengamen.

      Bermula dari situ ia mempunyai panggilan untuk untuk mengajar anak-anak terutama di pinggiran Kali Brantas. Dan setelah itu, ia bersama teman-temannya mendirikan organisasi  untuk mendampingi anak-anak di pemukiman kumuh.

      "Selepas itu selesai kuliah saya sempat menjadi jurnal di berbagai macam media. Karena saya lebih banyak berinteraksi masyarakat secara langsung pada 2011 lalu mendirikan Kampung Sinau," kata Roqib juga sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Gresik itu.

      Roqib menjelaskan, kebetulan kondisi daerah masyarakat miskin di Malang dan Bojonegoro itu berbeda. Malang tepatnya di pinggiran kota sementara di Bojonegoro ada dua tipikal kemiskinan yakni di bantaran Sungai Bengawan Solo dan hutan.

      Langkah awal untuk merintis Komunitas Kampung Ilmu yang sebelumnya Kampung Sinau Roqib meminjamkan buku kepada anak-anak sebrang Sungai Bengawan Solo seperti di Kasiman.

      "Ya setiap pagi anak-anak menyeberang sungai untuk sekolah daerah ke Purworsari. Setiap pagi meminjami meraka buku supaya saat sekolah bisa membacanya," jelasnya.

      Selain itu, ia juga membuka perpustakaan umum untuk masyarakat sekitar tempatnya tinggal. Dan membantu anak kurang mampu dan yatim piatu. Bermula dari gerakan kecil itu, kata dia, masyarakat menyambut dengan baik.

      "Kemudian pada 2015 lalu teman saya membantu mendirikan lembaga agar bisa diterima luas masyarakat. Dan berdirilah Kampung Ilmu," jelasnya.

      Dia mengatakan, Kampung Ilmu ini hadir dan semoga memberikan manfaat bagi masyarakat luas sesuai dengan tujuan visi misi. Karena keberadaan Kampung Ilmu ini juga mencerdaskan kehidupan bangsa.

      "Pertama mengucapkan terimakasih tentu dukungan masyarakat penting agar bisa berkelanjutan karena eberadaan kami mencerdaskan kehidupan bangsa," tambahnya.(jk)


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more