Cerita Sriyati, Perajin Pande Besi Generasi Keempat yang Tetap Bertahan

Sabtu, 15 Agustus 2020, Dibaca : 246 x Editor : nugroho

joko kuncoro
MASIH BERTAHAN : Sriyati dan suaminya perajin pande besi saat membuat alat pertanian di bengkelnya Desa Kedaton, Kecamatan Kapas


SuaraBanyuurip.com -  Siang itu, Jalan Raya Kapas-Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, tampak ramai kendaraan berlalu-lalang. Langit cerah, matahari menyorotkan sinarnya. Dari salah satu bangunan, terdengar suara gesekan besi yang dipukul bergantian.

Suara datang dari dua orang memukul lempengan besi secara bergantian. Pakaiannya kotor karena harus berjibaku dengan perciakan api dan arang.

Mengenakan jilbab ungu, Sriyati memukul lempengan besi, bergantian dengan suaminya. Sriyati sapaan akrabnya tersenyum ramah ketika SuaraBanyuurip.com datang memperkenalkan diri.

Baca Lainnya :

    Angin menyapu pelan dari persawahan yang bersebelahan dengan rumah sekaligus bengkel pande besi miliknya. Sriyati berbagi kisah tentang pekerjaan yang dijalaninya hampir 20 tahun lebih itu. Ia dan suami membuat alat pertanian. 

    “Ya, bagaimana pun harus tetap dipertahankan. Karena, hingga kini sangat jarang pembuatan alat pertanian dengan cara tradisional,” kata Sriyati saat ditemui di bengkelnya Desa Kedaton, Kecamatan Kapas, Sabtu (15/8/2020).

    Baca Lainnya :

      Ia mengatakan, menekuni pekerjaan pande besi ini sudah dilakoni secara turun menurun dan merupakan warisan keluarga. Sehingga tidak bisa lepas begitu saja. Hingga kini, sudah sampai empat generasi.

      “Nantinya, juga akan dilanjutkan oleh anak saya,” katanya.

      Dalam proses pembuatan alat pertanian, ia masih mempertahankan cara tradisional untuk menjaga kualitas hasil alat yang dibuatnya. Ia mengaku selama ini tidak pernah mengalami kesulitan dalam pembuatan. Hanya saja pernah sampai kuwalahan memenuhi pemesanan. Terutama dalam pembuatan alat pertanian, seperti sabit, cangkul, dan celurit.

      Dia mengaku, pernah menerima pememesanan alat pertanian dari Kalimantan hingga satu truk penuh. Dan dikerjakan dalam waktu satu bulan setengah. Namun, dalam pengerjaannya dibantu dari beberapa adiknya untuk memeprcepat produksi.

      “Waktu itu, penjualan hingga Rp 65 juta,” ungkapnya.

      Dalam sehari, ia dengan suaminya bisa membuat 25 sabit. Bahkan bisa lebih, tergantung ukuran pemesanan. Terkadang, ada juga yang meminta dibuatkan pedang.

      “Kalau pedang, biasanya dua hari baru selesai. Karena, bahannya harus halus dan bagus,” kata perempuan usia 55 tahun itu. (joko kuncoro)


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more