Daerah Migas Rawan Masalah Perempuan

Sabtu, 26 April 2014, Dibaca : 1479 x Editor : nugraha

SuaraBanyuurip.com - Edy Purnomo

Tuban - Desa-desa sekitar industri Minyak dan Gas Bumi (Migas) merupakan wilayah yang rentan dengan masalah perempuan. Hal itu diungkapkan Direktur Koalisi Perempuan Ronggolawe (KPR), Nunuk Fauziah kepada suarabanyuurip.com.

Menurut Nunuk, masalah perempuan ini, kerap terjadi di wilayah industri, tak terkecuali di sejumlah wilayah eksploitasi migas yang ada di Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Baca Lainnya :

    "Banyak sekali permasalahan perempuan yang lazim terjadi di sekitar wilayah industri. Tidak terkecuali di Kabupaten Tuban," jelas Nunuk, Jumat (25/4/2014).

    Nunuk mengatakan, salah satu permasalahan diantaranya banyaknya perempuan yang bekerja menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di sejumlah negara. Termasuk Malaysia, Hongkong, dan beberapa negara lain.

    Baca Lainnya :

      Itu terjadi di beberapa desa yang ternyata masuk di wilayah Asset IV Field Cepu.

      "Karena mereka tidak mendapatkan tempat lagi di desa mereka. Sudah tidak ada lagi pekerjaan bagi perempuan tersebut dan justru berasal dari desa sekitar industri," kata Nunuk.

      Menurut dia, banyaknya perempuan yang menjadi TKW menimbulkan dampak serius. Salah satunya adalah menjadi korban perdagangan manusia (Traficking). Di mana mereka kerap ditipu dan di jual oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

      Hal itu, lanjut Nunuk, lebih diakibatkan pada kurangnya bekal yang dimiliki perempuan ketika akan bekerja ke luar negeri. "Ini sudah terjadi di Kabupaten Tuban, dan perlu mendapatkan perhatian serius," kata Nunuk.

      Masalah lain, kata Nunuk, adalah banyaknya perempuan di Tuban yang menjadi korban penipuan pekerja yang berasal dari luar kota. Karena kurangnya pemahaman, mereka kemudian terkena bujuk rayu dan melakukan nikah siri. Setelah itu ditinggalkan begitu saja ketika pekerja tersebut sudah tidak lagi di Tuban dan kembali ke tempat asalnya. Namun ketika ditelusuri, ternyata pekerja tersebut sudah mempunyai anak dan istri di tempat asalnya.

      "Bahkan kami menemukan sudah ada praktik kawin kontrak yang sangat merugikan perempuan, itu karena banyak orang tua yang mengidolakan pekerja industri karena alasan gaji tinggi dan kehidupan mapan," ujar Nunuk, mengungkapkan.

      Masalah terakhir, tambah Nunuk, adalah peranan perempuan yang sama sekali belum terlibat dalam pekerjaan. Mereka juga tidak mendapatkan porsi pendidikan secara layak.

      "Mana ada di Tuban? Perempuan dari ring 1 yang bisa ikut bekerja?" tanyanya.

      "Seharusnya sebelum berdiri, pemerintah maupun perusahaan sudah merencanakan pendidikan bagi masyarakat sekitar agar bisa ikut terlibat. Dan tidak diambilkan dari pekerja luar daerah," tandas Nunuk.(edp)


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more