Dari Tas Anyaman, Sri Utami Mampu Melipatgandakan Rp.200 Ribu Menjadi Rp.15 Juta

Minggu, 07 November 2021, Dibaca : 607 x Editor : samian

Arifin Jauhari
KREATIF : Di tengah pandemi Covid-19, Sri Utami tetap berupaya jalankan produksi tas sampai dapat hasil berlipat ganda.


SuaraBanyuurip.com - Arifin Jauhari

Bojonegoro - Dampak pandemi terbukti memukul hampir di semua sektor perekonomian, dan menyebabkan penurunan daya beli masyarakat. Kendati tak semua pelaku usaha gulung tikar akibat dampak pandemi Covid-19, dan masih ada yang berhasil bertahan dan meningkatkan investasi usahanya. Bahkan sampai berlipat ganda.

Sri Utami salah satunya. Perempuan pemilik brand "Ikitasku" itu mampu melipatgandakan dari modal awal Rp.200 ribu menjadi Rp.15 juta di masa pandemi melalui penjualan tas anyaman plastik buatannya.

Baca Lainnya :

    "Awalnya saya itu kalau belanja ke pasar, cuma bawa tas kresek. Waktu ketemu teman bawa tas anyaman plastik kok bagus. Akhirnya saya membeli ke tempat dia, ternyata teman saya itu bisa menganyam. Dari situ saya tertarik belajar," kata Sri Utami memulai kisahny, kepada SuaraBanyuurip.com, Minggu (07/11/2021).

    Sambil menari-narikan jemarinya diantara bahan plastik yang sedang dianyam untuk dijadikan tas belanja cantik, Sri Utami menceritakan, pada pertengahan 2019 merupakan masa dimana ia memberanikan diri memulai usaha kerajinan tas anyaman. Kala itu ia hanya mampu membuat produksi satu tas saja.

    Baca Lainnya :

      "Itu dulunya ya belajar kesana kemari, studi banding juga kemana-mana untuk menambah wawasan dan ketrampilan," ujarnya.

      Pada awal pandemi Covid-19, dan baru menjual beberapa terpaksa produksi tas anyamannya harus berhenti total selama kurang lebih tiga bulan. Namun pelan tetapi pasti, perempuan kelahiran 27 Pebruari 1982 ini berupaya bangkit kembali.

      "Dulu, modal awal cuma sekira Rp.200 ribu. Sampai bahannya sering nempil biar tetap bisa produksi. Alhamdulillah berkembang, dua tahun berjalan sekarang kalau Rp.15 juta ya ada, tapi ini modal berputar terus," terangnya.

      Perempuan yang berdomisili di Jalan Brigjen Sutoyo, Gang Kholil, Desa Sukorejo, Kecamatan Kota, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, ini mengaku memakai strategi pemasaran secara online selain offline untuk memperluas jangkauan penjualannya. Tetapi terbatas masih dalam platform media sosial (Medsos) Facebook dan Instagram.

      Meskipun demikian, upaya tersebut menuai hasil yang signifikan. Karena terbantu sistem reseller lewat medsos yang ia gunakan. Tak ayal, hasil produksinya kini mampu menembus beberapa kota besar di Indonesia.

      "Sekarang bisa kirim sampai ke Bandung, Jakarta dan Gresik. Pesenan untuk hajatan sekarang juga banyak," ucapnya.

      Disinggung tentang omzet, Sri mengaku paling sedikitnya dalam sebulan saat sedang sepi tercapai sekira Rp.8 juta. Jika kondisi ramai, bisa mencapai dua sampai tiga kali lipatnya. Hanya saja Sri enggan menyebutkan jumlah angka pastinya soal omzet tertingginya.

      Peningkatan kapasitas produksi, diiringi penambahan tenaga perajin yang terserap dari lingkungan sekitar. Kini ia dibantu empat orang, yang mana tiap orangnya menggarap per bagian. Lantaran kerajinan tas buatannya dikerjakan tanpa menggunakan mesin sama sekali. Hanya didukung cetakan untuk ukuran tas yang terbuat dari kayu.

      "Satu perajin yang sudah pinter bisa buat empat sampai lima tas. Kalau ada pesanan jumlah besar saya kerjasama dengan tim perajin lain. Dan bagian yang paling sulit dikerjakan perajin yaitu bikin ketupat yang jadi pengunci anyaman tas ini," tambahnya.

      Dijelaskan, produk tas berbahan plastik buatannya terdiri dari beberapa tingkat kualitas. Mulai dari biasa, premium dan super premium. Rentang harga yang dipatok pun bervariasi. Menyesuaikan pada kualitas, tingkat kesulitan, dan ukuran.

      "Harga tas merk Ikitasku ini ada yang Rp.10 ribu untuk tas kecil, dan Rp.15 ribu. Bervariasi, ada juga yang mahal antara Rp.100 ribu sampai Rp.125 ribu," tandasnya.

      Perempuan berparas cantik ini mengaku, sejauh ini ia belum pernah mendapatkan pembinaan dari manapun. Baik support pengalaman, penjualan maupun modal. Meski berdomisili di sekitar ladang minyak dan gas bumi (Migas).

      "Sampai saat ini saya belum pernah diberikan pembinaan, baik dari operator migas yang ada di Bojonegoro maupun terkait lainnya. Itupun tak menjadikan soal, saya akan berusaha berdiri diatas kaki sendiri untuk mencukupi kebutuhan hidup," pungkasnya.(fin)

       


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more