Desa Terdampak Pertanyakan Pengalihan CSR Migas

Minggu, 30 Agustus 2020, Dibaca : 283 x Editor : nugroho

dok/sbu
LAPANGAN KEDUNG KERIS: Pemdes Sukoharjo meminta agar CSR Migas bagi desa-desa terdampak tidak dikurangi.


SuaraBanyuurip.com - d suko nugroho

Bojonegoro - Desa-desa terdampak industri Migas di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mempertanyakan skema baru pembagian program tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) 60% untuk desa ring satu, dan 40% desa di luar ring.

Kebijakan baru yang diterapkan operator migas sesuai permintaan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro itu dinilai mengurangi porsi CSR bagi desa-desa ring satu.

Baca Lainnya :

    Kepala Desa Sukoharjo, Kecamatan Kalitidu, Sulistiyawan menyampaikan seharusnya desa penghasil atau desa ring satu mendapat porsi CSR lebih besar dibanding desa-desa lainnya. Sebab, masyarakat ring satu yang pertama kali akan merasakan dampak negatif dari kegiatan eksplorasi maupun produksi migas.

    "Yang merasakan resiko paling awal ya warga terdampak. Bukan warga di Bubulan atau Temayang sana," ujar Sulis, panggilaan akrabnya, kepada suarabanyuurip.com, Minggu (30/8/2020).

    Baca Lainnya :

      Menurut Kepala desa ring satu Lapangan Minyak Kedung Keris (KDK), Blok Cepu itu, pihaknya tidak mempersoalkan apabila CSR diratakan untuk desa-desa di luar ring satu. Namun jangan mengurangi porsi bagi desa-desa terdampak.

      "Apalagi ADD sekarang ini banyak yang digunakan untuk penanganan Covid-19. Jadi jika porsi CSR dikurangi tentu akan berdampak pada pembangunan di desa," tandas Sulis. 

      Oleh karena itu, dirinya meminta kepada operator migas tidak mengurangi porsi CSR bagi desa ring satu. Karena desa yang jauh dari ring satu juga sudah mendapatkan peningkatan ADD yang juga berasal dari dana bagi hasil minyak yabg diterima oleh pemkab.

      "Tahun 2019 kemarin, kita mendapat jatah Rp200 juta. Untuk tahun ini belum tahu, karena baru kita usulkan pembangunan TPT dan saluran untuk jalan baru lintas selatan desa," ungkap Sulis. 

      Senada disampaikan Kepala Desa Campurejo, Kecamatan Bojonegoro, Edi Sampurno. Kades ring satu Lapangan Sukowati, Blok Tuban, mengaku skema pembagian CSR Migas sekarang ini merugikan desa-desa terdampak.

      "Nggak apa-apa CSR migas ini mau dialihkan kemana, tapi jangan mengurangi porsi desa ring satu," kata Edi, di sela-sela menghadiri satu tahun kabarpasti.com di Warung Knoman Desa Campurrejo, Kamis (27/8/2020).

      Menurutnya, pengurangan jumlah CSR bagi desa-desa ring satu akibat dialihkan ke luar desa terdampak sekarang ini justru sama saja mengambil hak masyarakat sekitar industri migas. 

      "Adil tidak harus diratakan. Karena dampak negatif atau kegagalan industri migas yang pertama kali merasakan adalah warga sekitar," tandasnya. 

      Edi mengungkapkan, tahun ini desanya hanya memperoleh CSR sekitar Rp142 juta yang diwujudkan untuk pembangunan satu ruang kelas.

      "Kami sudah menyurati DPRD agar masalah ini rapatkan untuk menemukan solusi bagaimana porsi CSR bagi desa-desa ring satu tidak berkurang akibat kebijakan tersebut," pungkasnya. 

      Sebelumnya, Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bojonegoro, Anwar Murtadlo menyampaikan, skema baru  pembagian CSR tersebut untuk pemerataan pembangunan. Sehingga pelaksanaan CSR harus diselaraskan dengan rencana pembangunan jangka menengah (RPJMD) Bojonegoro yang menitikberatkan pada sumber ekonomi kerakyatan, dan sosial budaya lokal untuk terwujudnya masyarakat yang beriman, sejahtera, dan berdaya saing.

        "Visi itu diturunkan dalam tujuh visi pembangunan, dan sekarang sedang dimatangkan," pungkasnya.(suko)


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more