Dewan Akan Anggarkan Kebutuhan PMI

Selasa, 05 Februari 2013, Dibaca : 2084 x Editor : nugroho

SuaraBanyuurip.com - Ririn W

Bojonegoro – DPR Bojonegoro menilai keberadaan Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Bojonegoro, Jawa Timur selama ini masih memprihatinkan. Selain kekurangan beberapa peralatan untuk kebutuhan persediaan donor darah, juga minimnya anggaran dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat sehingga dana yang ada hanya mampu mencukupi biaya operasional.

Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Bojonegoro, Nuswantoro, mengatakan, dana yang selama ini diterima PMI berupa hibah. Sebab keberadaan PMI tidak masuk dalam satuan kerja menjadi kendala dalam pengajuan penganggaran.

Baca Lainnya :

    “Karena APBD 2013 (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) sudah disahkan, maka anggaran untuk PMI akan diusulkan pada Perubahan- Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (P-APBD) nanti,” kata kata Nuswantoro kepada suarabanyuurip.com, Selasa (5/2/2013).

    Rencananya, anggaran dana yang akan dikucurkan kepada PMI tersebut digunakan  untuk pembelian alat bernama Centryfuge Retrigate atau alat pemisah darah untuk penderita Demam Berdarah dengan harga Rp 600 -Rp700 juta tiap unitnya dan Bus Multiguna untuk mobilisasi donor darah seharga Rp300 - 400 Juta tiap Unitnya.

    Baca Lainnya :

      “Bagaimanapun juga kebutuhan di PMI Bojonegoro ini sangat urgent. Sehingga kami (Dewan) akan berusaha semaksimal mungkin agar semua kebutuhan tersebut bisa terpenuhi. Selama ini kan pasien yang membutuhkan darah masih bergantung pada kiriman dari luar kota,” tegasnya.

      Nuswantoro menerangkan, kebutuhan darah yang ada di Bojonegoro mencapai 12.000 liter dalam satu tahunnya. Sedangkan  PMI hanya mampu menyediakan 600 liter setiap tahu. Sehingga setiap tahunnya stok darah masih terdapat kekurangan 600 liter.

      ”Kita harapkan jika semua peralatan dan kebutuhan bisa terpenuhi dapat mencukupi stok darah di Bojonegoro,” pungkasnya.

      Sementara itu, Sekretaris PMI Cabang Bojonegoro, Sukohawidodo, membenarkan adanya keterbatasan biaya selama ini dalam menjalankan operasional di tubuh PMI. Bahkan, selama ini pihaknya tidak mampu membeli alat-alat yang menjadi kebutuhan pokok.

      “Meskipun kami mendapatkan bantuan peralatan dari PMI Pusat, tetapi itu masih kurang,” sambung Sukohawidodo.

      Dia mengungkapkan, pada tahun 2012 lalu PMI mendapat dana hibah dari Pemkab Bojonegoro sebesar Rp 300 juta, Dana itu hanya cukup digunakan sebagai biaya operasional karyawan, pelatihan dan pelantikan.

      ”Kami sangat berharap DPRD bisa membantu PMI agar mendapatkan peralatan dan alat transportasi yang bertujuan meningkatkan kebutuhan darah di wilayah Bojonegoro. Karena selama ini masih mengandalkan dari Kabupaten lain yang tentu saja membutuhkan banyak biaya,” pungkas Sukohawidodo. (rien)


Show more