Eko Peye dan Cerita Proses Kreatif Membuat Patung Samin Surosentiko

Selasa, 15 September 2020, Dibaca : 137 x Editor : nugroho

joko kuncoro
KREATIF : Eko Peye, seniman Bojonegoro saat membuat Patung Samin Surosentiko saat ini menjadi monumen di Kampung Samin.


SuaraBanyuurip.com - Joko Kuncoro

Bojonegoro - Senyum Eko Peye Fibermans mengembang saat memegang patung Samin Surosentiko. Ditemui di rumahnya di Desa Ngrowo, Kecamatan Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Senin (14/9/2020), ia menceritakan proses kreatifnya membuat patung, menggambar, dan kreativitas lainnya. Karena ternyata selain membuat patung Surosentiko, ia juga menggambar sketsa hingga menciptakan lagu.

Eko Peye, sapaan akrabnya, menuturkan ia pernah mengalami kesulitan dalam membuatan patung terutama membuat patung realis karena dituntut punya tingkat kemiripan objek yang tinggi. Namun dengan ketekunannya belajar saat kuliah jurusan seni rupa dan desain selama tujuh tahun di Jogjakarta, kini mudah saja membuat patung.

Baca Lainnya :

    ‘’Kalau sekarang tidak kesulitan, karena sudah dipelajari di bangku perkuliahan. Namun, bagi orang pemula atau non akademis pasti mengalami kesulitan,’’ ujarnya kepada SuaraBanyuurip.com.

    Dalam satu bulan, EKo hanya bisa menyelesaikan satu patung saja. Karena proses pembuatannya cukup memakan waktu lama. Dan juga, beberapa kegiatan lainnya yang harus dia lakukan.

    Baca Lainnya :

      Dalam pembuatan patung, harus melalui tujuh tahap pembuatan. Seperti membuat sketsa dua dimensi, kemudian diubah ke bentuk tiga dimensi. Setelah itu baru tahap modeling, kemudian membuat dan mengisi cetakan dari fiber glass seperti bahan atom, dan masih banyak lagi.

      Dia mengatakan, selain membuat patung sesuai keinginan sendiri, ia juga menerima pemesanan pembuatan patung dari semua kalangan. Satu patung biasanya dibanderol seharga Rp 45 juta sesuai ukuran. 

      Sekitar 300 patung lebih telah dibuatnya, dan itu berbagai macam bentuk patung. Patung buatannya sudah tersebar di mana-mana, seperti patung tentara Alugoro yang berada di Kabupaten Blora, patung Samadun ketua Yayasan IKIP PGRI Bojonegoro dan patung Samin Surosentiko  menjadi koleksi pribadinya.

      Bapak dengan dua anak ini terus membuat patung berbagai bentuk. Namun, ia merasa Kota Bojonegoro ini belum maju akan kecintaan terhadap kesenian. Seakan-akan pegiatan kesenian ini belum tersentuh dalam segi fasilitas.

      ‘’Semisal kota maju kesenian, pasti memiliki galeri atau gedung untuk mewadahi karya. Namun, kami tetap berkarya karena mengadakan sebuah pameran kesenian bisa di mana saja. Seperti di kedai kopi, pantai dan tempat-tempat nyaman lainnya. Karena kami tidak tergantung terhadap pemerintah,’’ kata ketua Komunitas Sang Rupa itu.

      Sebenarnya, Eko lebih suka menyebut dirinya sebagai perupa daripada pematung. Karena ia juga memiliki bakat melukis dan menggambar sketsa karikatur sejak di bangku SMA. Tak hanya membuat patung saja, ternyata Eko bisa menggambar dengan menggunakan media apa saja. Untuk satu gambar ukuran A3 saja, seharga Rp 2 juta dan itu pun tergantung ukurannya. Bahkan, dia telah menciptakan lagu bergenre keroncong yang berjudul Getuk Ayu.

      “Saya sehari bisa menggambar dua sampai empat sketsa karikatur. Dan itu pun sesuai keginanan saya, tidak terpaku dalam satu jenis aliran saja. Di meja saya setiap hari sudah tersiapkan alat menggambar. Jadi, lebih gampang ketika mau menggambar suatau objek,’’ ungkap pria alumni SMA N 3 Bojonegoro itu. 

      Bagi eko seorang pegiat kesenian apa pun, dia adalah orang-orang pilihan Tuhan. Yang dikirim untuk memperindah alam semesta. Dia mempunyai keinginan, pegiat kesenian terutama di Kota Bojonegoro in bisa diberdayakan untuk bertumbuh kembang. Sehingga, bisa mempunyai generasi mencintai kesenian. (jk)



      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more