Esai Coromono: Jongos dan Kita yang Sok Tuan

Jum'at, 19 Maret 2021, Dibaca : 1078 x Editor : nugroho

Sumber Ilustrasi: Pixabay
Esai Coromono: Jongos dan Kita yang Sok Tuan


                     Oleh: Kajar Djati

Kapan istilah jongos dipakai? Sebentar saya cari tahu dulu. Sejumlah sumber menyebut, jongos sudah dipakai pada abad ke-19 di Hindia Belanda. Jongos menunjuk pada orang laki-laki yang bertugas membantu seorang tuan. Jika jongos merujuk orang laki-laki, maka babu merujuk perempuan. Keduanya sama-sama bermanka pembantu atau orang yang melayani.

Achmad Sunjayadi (2019) dalam buku Pariwisata di Hindia Belanda (1891-1942) menyebut kata jongos berasal dari bahasa Belanda jongens yang berarti anak laki-laki. Tugasnya adalah melayani tuan dan nyonya rumah tangga eropa (Belanda) di Hindia Belanda abad ke-19.

Baca Lainnya :

    Jongos punya ciri-ciri khusus, diantaranya cekatan, tidak banyak omong, dan bersedia melakukan apa saja perintah tuannya. Sebuah foto yang dimuat Java the Wonderland (1900) memperlihatkan para jongos memikul tamu wisata memakai tandu menuju Priangan. Para jongos bertelanjang dada dan kaki berjalan, sedang wisatawan duduk di tandu.

    Tapi itu gambaran jongos dulu. Kini, jongos punya wajah berbeda. Makna jongos pun lebih dimaknai sebagai penyakit psikologis, bukan pada ciri-ciri fisik, melainkan pada mental. Guru Besar STF Driyarkara & Universitas Indonesia cum budayawan Mudji Sutrisno menyebut mental jongos untuk menggambarkan seseorang yang sukanya menghamba atau ABS (asal bapak senang).

    Baca Lainnya :

      Mental jongos juga ternyata dipunyai oleh orang yang suka disanjung dan dihormati. Yakni mereka sebenarnya minder akan tetapi memandang orang lain seperti jongos. Artinya ia seakan-akan bermental tuan, akan tetapi sebenarnya juga bermental jongos.

      Pada era teknologi informasi ini, kita perlu tidak malu, atau bolehlah malu-malu kecil bahwa kita sebenarnya juga bermental jongos. Jongos selalu bergantung pada orang lain, menunggu kebaikan orang lain, menunggu perintah orang lain. Dan bukankah kita menunggu sesuatu yang ada di luar kita agar mengubah kehidupan kita. Beras kita menunggu dari luar, kedelai kita menunggu dari luar, dan lain sebagainya.

      Dan pada skup paling kecil yakni diri kita, ternyata juga tak kalah jongosnya. Kita, sadar atau tidak, telah dijongoskan oleh smarhphone, oleh media sosial, oleh informasi-informasi yang mengepung kita setiap hari. Kita sangat sulit menepuk dada dan berkata: ini lho saya, tuan bagi diri saya sendiri.

      Duh, bagaimana ya?


Show more