FKUB : New Normal Jangan Sampai Picu Lonjakan Kasus Corona

Senin, 01 Juni 2020, Dibaca : 270 x Editor : nugroho

ririn wedia
BERI MASUKAN : Ketua FKUB, KH Alamul Huda sampaikan masukan kepada Pemkab Bojonegoro saat rakor konsep new normal.


SuaraBanyuurip.com -  Ririn Wedia

Bojonegoro - Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, meminta agar Gugus Tugas Kabupaten Bojonegoro benar-benar memikirkan ulang kebijakan kenormalan baru atau New Normal di tengah pandemi Covid-19 yang akan dilaksanakan pemerintah pusat.

"Jangan sampai kejadian di Korea Selatan terjadi di Indonesia termasuk Bojonegoro," tegas Ketua FKUB Bojonegoro, Alamul Huda, saat rapat koordinasi di Pendopo Malowopati, bersama Pemkab Bojonegoro, Minggu (31/5/2020) kemarin. 

Baca Lainnya :

    New normal secara umum adalah kebijakan membuka kembali aktivitas ekonomi, sosial, dan kegiatan publik secara terbatas dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan Covid-19. Mulai membiasakan cuci tangan dengan air mengalir, memakai masker, menjaga jarak (physical distancing), dan protokol lainya yang ditetapkan sesuai kondisi di setiap bidang atau sektor di masyarakat, sehingga aktivitas ekonomi dan sosial publik tetap dapat berjalan. 

    "Sekarang saja, masih banyak warga yang tidak taat aturan seperti berkumpul di warung kopi, cafe, swalayan, bahkan juga masih ada yang tidak menggunakan masker," ungkap Gus Huda, biasa disapa. 

    Baca Lainnya :

      Oleh karena itu, Ia menyarankan Pemkab Bojonegoro mensosialisikan konsep new normal kepada masyarakat secara baik dan benar. Karena new normal di pemikiran masyarakat adalah melakukan semua hal yang sebelumnya dilarang kemudian diperbolehkan. 

      "Kalau sampai tidak tersampaikan dengan baik, kita akan seperti Korea Selatan. Jumlah kasus Corona semakin meningkat," ingatnya. 

      Bupati Bojonegoro, Anna Muawanah,  menyampaikan, seminggu yang lalu, Pemkab Bojonegoro mendapat surat dari Kementerian Dalam Negeri jika status Kejadian luar Biasa Corona  tidak perlu diperpanjang. 

      "Kemarin juga ada beberapa imbauan dari pemerintah pusat bahwa dalam waktu dekat ini diminta untuk menyusun konsep new normal," imbuhnya.

      Menurut Bupati, konsep new normal di daerah tidak sama antara kabupaten satu dengan yang lain. Hal ini karena budaya masyarakat di Indonesia yang sangat beragam.

      "Untuk itulah, kita mengundang tokoh-tokoh dari pendidikan, keagamaan, dunia usaha, kesehatan, temasuk dari pariwisata dan juga pondok pesantren, untuk memberikan masukan. Jarena rasa-rasanya pemerintahan atau negara Indonesia akan menerapkan tatanan hidup baru atau new normal," tandasnya.

      Pemkab Bojonegoro sekarang ini membutuhkan masukan yang komprehensif untuk menyusu konsep New Normal. Sehingga, saat  pemerintah pusat ataupun provinsi melonggarkan aturan pemkab Bojonegoro sudah siap melaksanakannya.

      "Semua saran yang kami terima akan disusun dan menjadi masukan saat  new normal benar-benar diberlakukan," pungkasnya.(rien)



      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more