GDM Organik Dorong Anak Muda Maksimalkan Peluang Ekspor Porang

Jum'at, 23 Oktober 2020, Dibaca : 147 x Editor : nugroho


                  Oleh : Diah Sulung Syafitri

PERIHAL ekspor-impor produk pertanian, masyarakat hanya melihat dari perspektif media seakan-akan kran impor dibuka lebih lebar daripada ekspor. Padahal, kalau baca beritanya proporsional, pemerintah juga tengah getol mendorong potensi ekspor produk olahan pertanian dari komoditas-komoditas yang jarang didengar masyarakat, salah satunya adalah tanaman Porang. Saya jadi inget pengalaman blusukan ke daerah Madiun, Jawa Timur, dan melihat langsung bagaimana salah satu komoditi pertanian yang “kayaknya” nggak ada harganya tapi setelah diolah bisa jadi rebutan negara-negara maju dan tentu saja punya nilai jual melejit.

Jadi, awal Februari kemarin sebelum pandemi COVID-19 merebak, saya dan tim GDM Organik berkesempatan liputan ke Madiun dan bertemu dengan salah satu petani pelopor budidaya tanaman Porang, yaitu pak Paidi. Hampir hari itu kehilangan kesempatan bertemu beliau karena bertepatan dengan hari keberangkatannya ke Bandara Juanda Surabaya untuk melaksanakan umroh. Saya dan tim liputan disambut hangat dan mulai ngobrol dari A-Z tentang awal mula beliau menemukan “harta karun” ditengah semak-semak hutan yang luput dari perhatian kebanyakan orang. Dari obrolan ini, saya banyak mendapatkan informasi bahwa potensi ekspor tanaman Porang ini begitu lebar karena negara-negara maju banyak membutuhkan komoditas ini untuk industri kesehatan, kecantikan, pesawat terbang, dan lain-lain. Bocorannya, lanjut pak Paidi, sejauh ini kita baru mampu memenuhi 1% dari total kebutuhan negara-negara maju tadi. Artinya, 90%-nya masih belum ada pemainnya! Gila sih, potensi pertanian yang teramat besar untuk dibiarkan nganggur begitu saja.

Baca Lainnya :

    Tanaman Porang (Amorphophallus Onchophyllus) bukan tanaman baru. Sejak jaman penjajahan Jepang, buyut-buyut saya dulu sudah mengenal tanaman ini beserta varietasnya, yaitu iles-iles dan suweg. Waktu kemunculan tanaman Porang adalah diantara awal musim hujan hingga awal musim kemarau. Saat musim kemarau, umbinya tertahan didalam tanah. Setelah tumbuh berulang selama 3 tahun, nah, baru lah umbinya cukup besar untuk dipanen. Biasanya, kakek dan nenek menjualnya ke pasar bersama dengan aneka bangsa umbi-umbian lain seperti uwi, gembili, gadung, ganyong, singkong, ketela, mbote, talas, dan lain sebagainya, dengan harga porang mentah basah hanya Rp 800-Rp 1000 perak. Hari ini harga porang mentah basah dihargai Rp 3.000,-. Kalau dikeringkan, normalnya di pasaran Indonesia dihargai Rp 19.000 per kilogram. Tapi jika diekspor, misalnya ke China, harga porang kering bisa menembus Rp 24.000 per kilogram. Itu masih mentahan, belum olahan.

    Pertanyaan yang tentu saja berkecamuk didalam otak saya sedari menunggu ujung cerita pak Paidi adalah “Lalu bagaimana caranya kita bisa meningkatkan nilai ekonomi dari tanaman Porang ini di panggung internasional?”. Sesuai dugaan saya, satu-satunya jalan adalah dengan mengolahnya terlebih dahulu menjadi barang setengah jadi. Hasil olahan tanaman Porang; diiris-diiris, dijemur, lalu dijadikan kripik, harganya bisa meningkat menjadi Rp 60.000 per kilogram! Terlebih, kalau diolah menjadi tepung dan diekspor ke Jepang, harganya menembus Rp 150.000 per kilogram! Ingin menangis rasanya membayangkan pundi-pundi uangnya.

    Baca Lainnya :

      Sebagai negara tropis, Indonesia tentu saja bisa merebut pasar ekspor dunia melalui produk pertanian olahan. Dalam hal ini, pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama agar pengembangan produk ekspor hasil olahan pertanian terealisasi sempurna. Sejauh ini, pemerintah sudah menyediakan stimulus berupa KUR (Kredit Usaha Rakyat) untuk mendorong petani mengolah produk pertaniannya terlebih dahulu. Lalu, dari segi masyarakat, inisiatif meningkatkan pengetahuan tentang pengolahan produk serta pengetahuan standar pengiriman barang ke luar negeri juga diperlukan. Kunci sukses pengiriman barang ke luar negeri dalam koridor bisnis adalah tahu produk/barang apa yang sedang diminati untuk dilempar ke pasar, serta beranikan diri untuk mencari informasi, menentukan harga keseluruhan dengan jujur, serta komunikasikan dengan baik kepada customer.

      Saya sempat berkunjung ke pabrik pengolahan umbi Porang milik pak Paidi yang tak jauh dari kediamannya dan melihat langsung prosesnya. Seru sekali melihat petani porang membersihkan umbi porang dari tanah dan kotoran untuk diiris dengan ketebalan sekitar 5cm dan kemudian dijemur dibawah terik matahari sampai benar-benar kering selama 5 hari. Porang harus benar-benar kering untuk menghindari timbulnya jamur yang dapat mengurangi kualitas dan harga jual porang. Sampai sini, irisan/chip porang tadi masih bisa diolah menjadi tepung porang yang tentu saja lebih akan meningkatkan nilai jualnya. Chip porang yang telah kering dimasukkan dalam disc mill (mesin penepung).  Selanjutnya, tepung porang dihaluskan menggunakan ball mill (mesin penepung). Proses selanjutnya disebut fraksinasi, yaitu saat kalsium oksalat dan zat pengotor yang lain akan dibuang dengan cara dihembuskan. Tidak cukup sampai disana, karena kalsium oksalat dapat menyebabkan gatal pada kulit, mengendap di ginjal, dan dapat merusak hati, maka dilakukan lagi proses pencucian menggunakan etanol. Hasil akhir yang didapat dari proses ini adalah tepung porang murni dengan kandungan glukomanan yang dominan. FYI, kandungan glukomanan pada umbi porang yang kering (64%) sangat potensial dimanfaátkan sebagai bahan baku pangan maupun kesehatan.

      Tepung porang murni ini lah yang kemudian diekspor ke negara-negara maju, dan sampai disana diolah menjadi mie jepang (shirataki), tahu jepang (konyaku), pembuat daging bagi para vegetarian, penguat kertas, bahan pengikat rasa pada bumbu penyedap, bahan lem, edible film, perekat tablet, hingga pembungkus kapsul. Secara nasional, berdasarkan data otomasi IQFAST (Indonesia Quarantine Full Automation System) Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian (Barantan), ekspor komoditas Porang juga meningkat hingga 160%. Kembali lagi teringiang cerita pak Paidi bahwa nilai ekspor tersebut terbilang “masih kecil” untuk memenuhi total kebutuhan pasar dunia. Kalau hanya petani-petani itu saja yang bergerak, tentu akan lambat mengatrol roda ekspor pertanian Indonesia ke atas. Oleh karenanya, pak Paidi pun melakukan sesuatu di desanya. Dia memberdayakan hampir seluruh warga desanya untuk menanam tanaman Porang loh. Dia juga mendirikan pabrik yang siap menerima serta membeli hasil panen umbi porang petani, setelah sebelumnya diedukasi terlebih dahulu bagaimana cara menumbuhkan porang yang benar.

      Eh, tunggu, bagian ini juga ada cerita menariknya. Kan yang kita tahu, tanaman Porang hanya tumbuh dibawah naungan pohon di semak-semak hutan. Terus, perlu menunggu beberapa tahun untuk bisa dipanen. Nah, pak Paidi tuh ternyata punya cara sendiri bagaimana tanaman ini bisa dibudidayakan di lahan persawahan gitu dan bisa dipanen lebih cepet, guys. Mantep nggak tuh. 

      Nah, kini terbukti ya, potensi ekspor dari produk pertanian tidak boleh dipandang sebelah mata. Kalau sudah diolah sedemikian rupa menjadi barang setengah jadi, nilai ekonominya nggak main-main, bisa meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia banget. Kini, saya juga berharap pada petani-petani muda Indonesia agar lebih melihat celah ragam komoditi ekspor yang jarang ada pemainnya namun sangat dibutuhkan pasar global. Sebagai negara agraris, selain tanaman porang, tentu masih banyak tanaman-tanaman lain yang potensial asalkan kita semua tak henti belajar, meneliti, serta eksplorasi terus-menerus.

      Penulis adalah Content Writing Media Sosial di GDM Organik



















      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more