Industri Hulu Migas Hasilkan Penerimaan Negara Rp 96,7 Triliun di Semester 1

Sabtu, 17 Juli 2021, Dibaca : 317 x Editor : nugroho

ist/Kementerian ESDM
TUMPUAN PEMERINTAH : Menteri ESDM Arifin Tasrif di dampingi pejabat EMCL melihat fasilitas pemrosen minyak Banyu Urip, Blok Cepu


SuaraBanyuurip.com - d suko nugroho

Jakarta - Industri hulu migas masih menjadi penopang pendapatan negara. Di tengah tantangan nasional menghadapi pandemi Covid -19, industri padat teknologi, modal dan risiko ini selama periode Semester - I tahun 2021 berhasil menghasilkan penerimaan negara sekitar US$ 6,67 Miliar atau setara Rp. 96,7 Triliun. Penerimaan sebesar ini adalah 91,7% dari target yang dicanangkan dalam APBN 2021.

“Seperti juga dirasakan oleh sektor lain, pandemi Covid-19 memberikan tantangan yang cukup berat bagi industri hulu migas. Namun SKK Migas bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama atau KKKS menghadapi pandemi ini dengan melakukan usaha-usaha yang kreatif. Syukur pada Semester - I tahun 2021 ini kami berhasil memberikan penerimaan negara yang optimal,” kata Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto dalam kegiatan Jumpa Pers Kinerja Hulu Migas Semester - I tahun 2021 melalui keterangan tertulisnya, Jumat (16/7/2021).

Baca Lainnya :

    Dwi menambahkan tingginya penerimaan negara tidak lepas dari harga minyak yang berangsur membaik setelah sempat jatuh di tahun 2020 lalu. Harga ICP (Indonesian Crude Price) menunjukkan kenaikan, bahkan per Juni 2021 mencapai US$ 70,23/barel. 

    "Momentum ini akan kami gunakan secara maksimal untuk mendorong KKKS agar lebih agresif dalam merealisasikan kegiatan operasi,” tegas mantan Direktur Pertamina ini.

    Baca Lainnya :

      Penerimaan negara yang maksimal juga merupakan buah usaha hulu migas mengoptimalkan kegiatan dan biaya. Kegiatan yang dilakukan antara lain melalui pemilihan prioritas kegiatan work order dan maintenance routine & inspection, efisiensi general administration khususnya akibat adanya pembatasan kegiatan. 

      “Upaya ini berhasil membuat biaya per barel pada Semester - I tahun 2021 sebesar US$ 12,17/BOE, lebih rendah dibandingkan Semester - I tahun 2020 sebesar 13,71 US$/BOE,” jelas Dwi.

      Capaian lifting migas pada Semester I – 2021 rata-rata 1,64 juta barel setara minyak per hari (MBOEPD). Dari sejumlah itu, lifting minyak sebesar 667 ribu barel minyak per hari (BOPD), atau 95% dari target APBN yang ditetapkan untuk tahun ini sebesar 705 ribu BOPD, sedangkan lifting gas sebesar 5.430 MMSCFD dari target APBN sebesar 5.638 MMSCFD atau tercapai 96%.

      Untuk mengejar capaian target lifting, Dwi menjelaskan SKK Migas dan KKKS sedang bahu membahu merealisasikan program Filling The Gap (FTG). 

      "Melalui Program FTG, telah ada tambahan minyak rata-rata 1.900 BOPD. Tambahan ini diluar rencana tambahan yang direncanakan dalam WP&B (Work, Program, & Budget) 2021. Ke depan, kami akan meneruskan Program FTG dan juga mengajak KKKS untuk melakukan akselerasi WP&B-nya sehingga diharapkan target APBN 2021 dapat terpenuhi,” tandas Dwi.

      Usaha lain yang dilakukan SKK Migas untuk mengejar capaian target adalah mengupayakan 3 insentif hulu migas agar dapat disetujui oleh pemerintah. Ketiga insentif tersebut adalah tax holiday untuk pajak penghasilan di semua wilayah kerja migas, penyesuaian biaya pemanfaatan Kilang LNG Badak sebesar US$ 0,22 per MMBTU, dan dukungan dari kementerian yang membina industri pendukung hulu migas (industri baja, rig, jasa dan service) terhadap pembahasan pajak bagi usaha penunjang kegiatan hulu migas.(suko) 





      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more