Inspirasi Warung Kopi, Memotivasi Warga Blok Cepu Tingkatkan Ekonomi

Rabu, 01 Juli 2020, Dibaca : 1346 x Editor : samian


Sekalipun hidup di tengah gemerlapnya ladang minyak Banyu Urip, Blok Cepu, yang konon menjadi penyumbang lifting terbesar nasional tak lantas membuat kehidupan warga masyarakat sekitar menjadi berkecukupan. Tak sedikit yang masih hidup kurang layak. Wawan dan Parwi hingga kini masih peras keringat mengembangkan usahanya secara mandiri tanpa sentuhan bantuan program dari manapun untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga misalnya.

Sekira 600 hektar lahan pertanian yang tersebar di enam desa dari 12 desa di Kecamatan Gayam, Kabupaten, Bojonegoro, Jawa Timur, terbebaskan untuk kepentingan proyek minyak dan gas bumi (Migas) Banyu Urip, Blok Cepu. Ke enam desa itu adalah Desa Gayam, Mojodelik, Bonorejo, Brabowan, Sudu, dan Ngraho.

Lenyapnya ratusan hektar lahan pertanian beberapa tahun silam tersebut kini telah meninggalkan bekas yang pahit dirasakan oleh warga ring satu Lapangan minyak yang dioperatori ExxonMobil Cepu Limited (EMCL). Pasalnya, warga desa sekitar Banyu Urip yang rata-rata sebagai petani sekarang ini baru merasakan betapa sulitnya mengembangkan perekonomiannya. Setelah lapangan minyak Blok Cepu diproduksi.

Baca Lainnya :

    Bahkan tak sedikit warga setempat yang harus bekerja keluar daerah untuk bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari. Hal itu seperti dirasakan Wawan, dan Parwi, warga Desa Gayam, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

    Sambil memasang belahan bambu untuk kandang baru, Wawan membuka cerita tentang kondisi kehidupannya sehari-hari. Kehidupannya cukup sulit meski tinggal di desa ring satu ladang minyak Banyu Urip. Ia harus merantau di Surabaya, bahkan keluar jawa, hanya untuk menjadi tenaga kuli agar bisa mendapatkan penghasilan demi mencukupi kebutuhan hidup sendiri dan neneknya. Karena tidak mempunyai lahan pertanian.

    Baca Lainnya :

      "Dulu mudah meski menjadi buruh tani ataupun ternak kabing dan sapi karena lahan persawahan masih luas untuk dijadikan tempat mengembala. Sekarang baru merasakan dampaknya setelah pembebasan lahan, sulit sekali mengembangkan ekonomi untuk mencukupi kebutuhan hidup," ujarnya kepada Suarabanyuurip.com, Rabu (01/07/2020).

      Disadari, tak bisa ikut berjuang mangais rezeki baik di proyek Banyu Urip maupun di proyek Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) karena faktor pengalaman dan pendidikan.

      "Saya hidup sebatang kara dari keluarga tidak mampu, dan menjadi tulang punggung nenek. Jadi tidak sekolah karena tidak punya biaya. Bisanya cuman bertani dan ternak maupun kerja bangunan sebagai kuli," ucapnya.

      Untuk bisa mengatasi kelesuan ekonominya, ada tokoh masyarakat Gayam memberikan solusi dengan sebuah komunitas inspirasi warung kopi untuk berbudidaya ayam potong. Munculnya ide tersebut saat berbincang di sebuah warung kopi tak jauh dari lokasi well pad C Banyu Urip. Cara ini dirasa tepat untuk memulai lembaran baru membuka lapangan pekerjaan sendiri di desanya bersama nenek.

      Termotivasi dari cara tersebut, tak tanggung-tanggung sebagai modal awal Wawan menjual dua ekor sapinya senilai Rp 30 juta. Meski tak tergunakan keseluruhan, uang Rp 30 juta dibuat untuk mendirikan kandang ukuran 8x3 meter dari kayu dan bambu, terpal plastik, kipas, bibit, pakan dan lain-lain.

      "Mulai bulan Januari 2020, saya mengadu nasib menggeluti budidaya ayam potong dengan bibit 400 ekor ayam," tutur pemuda yang sejak kecil sudah ditinggal meninggal  bapak dan ibu.

      Warga RT 10, RW 02 ini menjelaskan, masa pertumbuhan 400 ekor ayam dalam 10 hari menghabiskan pakan sebanyak 2,5 kwintal. Setelah masa pertumbuhan, sehari menghabiskan pakan 50 kilogram (Kg), dan total selama 20 hari menghabiskan pakan sebanyak 7,5 kwintal. Mendekati masa panen, yaitu selama sebulan total keseluruhan menghabiskan 1,25 ton pakan.

      "Di bulan Februari panen, dan jualnya dipengepul lokal sini saja. Rata-rata sekilo dihargai Rp 20.000. Sekali panen bisa tujuh  kwintal lebih daging. Keuntungan kotor Rp14 juta. Setelah dipotong modal dan lainnya, alhamdulilah hasilnya bisa dirasakan yaitu mendapat keuntungan bersihnya Rp 4 juta 800 ribu," tutur pemuda yatim piatu ini.

      Sambil sesekali mengusap keringat diwajahnya, Wawan mengatakan, menginjak di pembibitan ketiga, usaha yang dilakukan sudah mulai ada perkembangan. Dari yang semula kandangnya hanya ukuran 8x3 meter dan bibit 400 ekor ayam. Sekarang berkembang membikin lagi kandang dengan ukuran lebih besar yaitu 4x20 meter. Diperkirakan kadang barunya ini nanti bisa di isi bibit sebanyak 1.120 ekor ayam.

      "Berapapun hasilnya tetap tak syukuri, terpenting modal utuh tidak rugi, masih dapat keuntungan untuk kebutuhan sehari-hari bersama nenek. Terima kasih Pak Sukoco atas bimbingannya sehingga dapat berbudidaya ayam potong secara mandiri tanpa bantuan progam dari manapun," tandasnya.

      Segendang seirama diungkapkan Parwi. Dipilihnya ikut budidaya ayam potong untuk menyambung hidup, dan kebutuhan biaya putrinya yang masih duduk di bangku SMP Negeri I Gayam kelas 9 dirasa cukup efektif untuk meningkatkan perekonomian. Selain tidak membutuhkan lahan yang luas, perawatannya mudah dipelajari dan tidak perlu meliarkan ayam keluar kandang.

      Beda dengan ternak kambing maupun sapi, ini cukup berat karena tak hanya membutuhkan modal banyak, tapi juga lahan yang luas. Sedangkan lahan pertanian yang ada sekarang sudah berkurang drastis kena pembebasan. Termasuk di lahan perhutani banyak yang dimanfaatkan warga sebagai lahan pertanian, juga ditanami kayu minyak putih oleh perhutani. Sehingga kesulitan untuk mencari tempat mengembala ternak.

      "Sekali panen dijual total, dan di isi bibit baru lagi. Selain hasilnya dapat dirasakan, kotorannya juga bisa dimanfaatkan untuk pupuk tanaman pertanian," sambung Parwi.

      Salah satu tokoh masyarakat Desa Gayam, Sukoco, mengatakan, tidak semudah membalikkan telapak tangan dalam membantu menciptakan peluang kerja bagi warga miskin dan mengubah mindset ketergantungan mendapatkan bantuan pemerintah. Apalagi yang tidak pernah mengenyam dunia pendidikan. Upaya ini dibutuhkan kepedulian yang benar-benar tulus, ikhlas, dan kesabaran dalam memberikan pemahaman agar bisa diterima dengan baik dan dilakukan.

      "Saya bersyukur ide melalui komunitas inspirasi warung kopi, budidaya ayam potong ini dapat diterima warga. Setidaknya mampu memberdayakan baik untuk warga yang tidak mengenyam pendidikan maupun tak punya pengalaman proyek migas dalam meningkatkan ekonominya," kata Sukoco, disela-sela mengecek pembuatan kandang baru milik Wawan.

      Pria berperawakan kurus ini menambahkan, dari yang semula hanya satu pembudidaya ayam potong, sekarang telah mengembang menjadi enam pembudidaya. Sistem diterapkan dalam budidaya ayam potong ini adalah sistem kandang close. Tujuannya selain ayam tetap berada dalam suhu dingin, lingkungan nyaman tidak berbau.

      Diharapkan kedepan setelah ada contoh yang sudah berjalan ini dapat berkembang terus di masyarakat untuk melakukan usaha yang sama. Tak hanya itu, Sukoco juga menyarankan, EMCL, maupun Pemkab Bojonegoro melalui dinas peternakan untuk memberikan dukungan penuh usaha yang dilakukan warga Gayam ini yang notabene adalah warga ring satu lapangan minyak Banyu Urip yang sudah berhasil diproduksi EMCL.

      Bahkan konon Lapangan Minyak Banyu Urip, menjadi penyumbang lifting terbesar nasional. Dengan produksi minyak mencapai 220 ribu barel per hari (Bph), atau setara 34.980.000 liter per hari (1 barel = 159 liter).

      Mengingat usaha yang dilakukan warga ini benar-benar mandiri tanpa program kemitraan dari manapun, dan tergolong cepat meningkatkan ekonomi masyarakat karena sebulan bisa dipanen. Sedangkan untuk pasar jualnyapun juga lebih mudah, karena pegepul atau pembeli lokal ada.

      Sukoco juga tidak memungkiri jika selama ini EMCL sudah memberikan bantuan program pemberdayaan di desa sekitar sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan.

      "Jadi apa jeleknya jika perusahaan maupun terkait lainnya ikut mendukungnya. Program jangka panjang yang  menelan ratusan juta rupiah, dan hasilnya belum bisa dirasakan warga segera saja didukung. Apalagi yang ini usaha ayam potong yang hasilnya cepat dirasakan, masa tidak," ucapnya.

      "Semoga saja semua pihak terketuk hatinya memberikan bantuan peningkatan usaha warga miskin ini," pungkas pria yang juga memproses daun tanaman minyak kayu putih. (Samian Sasongko)

       


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more