Kenalkan Budaya Sejak Dini, Bojonegoro SMART Datangkan Dua Dalang Kondang

Minggu, 05 September 2021, Dibaca : 493 x Editor : samian

Arifin Jauhari
LESTARIKAN BUDAYA : Sanggar Literasi Bojonegoro SMART kenalkan tradisi dan kebudayaan lokal kepada anak-anak sejak usia dini.


SuaraBanyuurip.com - Arifin Jauhari

Bojonegoro - Demi melestarikan budaya lokal yang ditengarai kian berkurang diminati, Sanggar Literasi Bojonegoro SMART berupaya rutin mengenalkan tradisi dan kebudayaan lokal kepada anak-anak muda sejak usia dini.

Salah satu caranya dengan mendatangkan dua dalang kondang ke sanggar yang berlokasi di Desa Campurejo, Kecamatan Kota, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Minggu (05/09/2021). Dimana desa tersebut merupakan desa ring satu lapangan minyak dan gas bumi (migas) yang dikelola oleh Pertamina EP Zona 11 Sukowati Field.

Baca Lainnya :

    Pemilik Sanggar Literasi Bojonegoro SMART, Oktian Ika Ardhiani mengaku, mendatangkan  dalang kondang Bojonegoro Ki Hadi dan dalang cilik Ananda Rozzak Wiratama, bertujuan untuk mengenalkan wayang kulit kepada generasi muda sejak usia dini.

    "Kesenian wayang kulit merupakan kebudayaan asli Indonesia. Untuk tetap melestarikan kesenian ini, kita kenalkan kepada generasi muda sedini mungkin," katanya kepada SuaraBanyuurip.com.

    Baca Lainnya :

      Diharapkan, hadirnya dalang kondang Bojonegoro dan dalang cilik bisa memicu motivasi generasi muda nguri-uri (melestarikan) kesenian wayang kulit, khususnya pada anak-anak yang belajar di Sanggar Literasi Bojonegoro SMART.

      "Dari sini, kedepannya kita harapkan lahir dalang-dalang muda yang berbakat meneruskan tradisi wayang kulit di Indonesia," tandas perempuan yang juga menjabat Kepala SDN Glagahsari, Kecamatan Soko.

      Di tempat yang sama, Ki Hadi menilai, gempuran kebudayaan yang datang dari luar negeri saat ini sangat mengkhawatirkan bagi eksistensi kebudayaan lokal. Tanpa ada regenerasi, tidak menutup kemungkinan kebudayaan lokal berpotensi akan tergeser dan dilupakan oleh generasi berikutnya.

      Sehingga adanya ruang edukasi semacam ini, lanjut Ki Hadi, memiliki tujuan supaya kebudayaan adiluhung jawa, jangan sampai tergeser, atau punah digerus kebudayaan asing.

      "Kalau didiamkan saja, kedepan wayang kulit ini bisa jadi akan luntur, tetapi kalau ada regenerasi wayang kulit akan tetap lestari," ujarnya.(fin)

       


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more