Kerupuk Kelenteng Khas Kota Migas Makin Diminati

Sabtu, 02 Januari 2021, Dibaca : 1085 x Editor : samian

Arifin Jauhari
PERTAHANKAN USAHA : Anton tetap meneruskan usaha kakeknya memproduksi kerupuk abang ijo yang memiliki rasa khas tersendiri.


Berdiri sejak tahun 1929, usaha pembuatan kerupuk yang dirintis oleh pasangan suami istri Tan Tjian Liem dan Oei Hay Nio, tentu tak sekedar menyimpan cerita asal muasal penamaan "Kerupuk Kelenteng" yang melegenda di kota Minyak dan Gas Bumi (Migas) sebutan lain Kabupaten Bojonegoro selama ini.

SEJUTA kisah menyertai 91 tahun usia usaha kerupuk yang pabriknya berada hanya sejauh lemparan batu dari Kelenteng Hok Swie Bio di Jalan Jaksa Agung Suprapto Bojonegoro, Jawa Timur.

Pemilik usaha kerupuk kelenteng generasi ke empat, Anton Indarno, membuka kisah awal mula kakek buyutnya Tan Tjian Liem dan dua kawannya belajar membuat kerupuk ke Sidoarjo pada kurun 1929. Disebabkan usaha toko yang digeluti sebelumnya dirasa tak memiliki laba yang memadai.

Baca Lainnya :

    "Setelah dirasa bisa membuat kerupuk, baru membuka usaha dalam bentuk kongsi, namun bubar. Sehingga Tan Tjian Liem memutuskan balik ke Bojonegoro dan berusaha berdiri di atas kaki sendiri," tutur Anton, sapaan karibnya kepada SuaraBanyuurip.com, Sabtu (02/01/2021).

    Perpaduan selera masakan yang berbeda dari pasangan Tan Tjian Liem dan Oey Han Nio, dirasa memberi rasa khas pada kerupuk produksi generasi pertama yang tanpa ada nama. Tan Tjian Liem menyukai masakan eropa, sementara istrinya menyukai masakan jawa.

    Baca Lainnya :

      "Para pelanggan masa itu sering menyebut rasa kerupuk yang dikenal dengan nama kerupuk abang ijo, atau kerupuk bangjo. Ada juga yang menyebut kerupuk kelenteng karena pabriknya dekat dengan kelenteng," jelas pria ramah 47 tahun ini.

      Cita rasa gurih alami kerupuk buatan sang kakek buyut tetap dipertahankan generasi penerusnya hingga kendali pabrik tradisional dipegang oleh Anton sejak 2015.

      "Tidak ada ajaran khusus kepada kami, hanya dari keseharian kami melihat proses pembuatannya jadi bisa dengan sendirinya. Soal cita rasa dijamin tidak berubah sejak 1929," tandas warga Kelurahan Banjarejo, Kecamatan Bojonegoro ini.

      Kakak pertama dari dua bersaudara ini juga mengisahkan, bagaimana sikap kekeluargaan kepada bakul (pembeli) dipelihara oleh keluarganya hingga kini. Terbukti adanya ruangan besar dengan pintu menghadap keluar, yang dulu disediakan untuk tempat bermalam para bakul yang rumahnya jauh.

      "Pembeli yang dulu mengayuh sepedanya dari jauh, disediakan tempat bermalam disini. Ada dari Baureno, Dander, Sumberejo, Tuban, boleh menginap dan disiapkan makan sampai esoknya, jadi sudah seperti keluarga sendiri," terang Anton yang lebih memilih meneruskan usaha kerupuk saat ayahnya sakit ketimbang bertahan pada karirnya di fotografi.

      Memasuki era revolusi industri 4.0, pemanfaatan kemudahan akses informasi untuk menunjang pemasaran produk, tak ketinggalan juga dilakukan oleh Anton. Termasuk uji kualitas bahan di laboratorium Sucofindo. Dibantu oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, sertifikat halal pun dikantonginya.

      Kalau dulu kerupuk klenteng dipasarkan dengan bungkus daun jati, hingga berganti koran, kemudian berganti plastik pada 1978, sejak beberapa tahun terakhir digunakan plastik khusus pembungkus bahan makanan.

      "Kami sekarang menggunakan plastik khusus bersertifikat MSDS (Material Safety Data Sheet), untuk kemasan berlabel kerupuk kelenteng abang ijo rasa asli. Selain untuk memberi rasa aman pengkonsumsi sekaligus sebagai identifikasi produk asli," imbuh Anton.

      Menjelang seratus tahun eksistensi kerupuk yang telah sukses hadir di hampir seluruh meja makan keluarga se karesidenan Bojonegoro, Anton mengaku masih mempunyai mimpi yang ingin diwujudkannya.

      "Saya ingin kerupuk kelenteng lebih jauh bisa dipasarkan ke luar Karisidenan Bojonegoro, membawa nama dan budaya kota asalnya lebih dikenal kemana saja," tutupnya.(Arifin Jauhari)

       


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more