Kisah Dramatis Masa Lalu Kesongo

Kamis, 27 Agustus 2020, Dibaca : 1354 x Editor : nugroho

Ahmad Sampurno
Rawa Kesongo Kecamatan Jati, Kabupaten Blora, memiliki cerita masa lalu yang dramatis.


Rawa Kesongo memiliki kisah dramatis. Sembilan orang tewas secara tragis di tanah berlumpur yang hari ini meletus.

Dahulu pada tahun 725 Masehi ada tokoh yang bijaksana. Ia berasal dari Medang Kamulaan, Teluk Lusi Blora. Masih garis keturunan Datsu Dewi Simaha. Pemuda tampan dan berkarisma tersebut bernama Hang Sanjaya.

Sanjaya adalah anak dari pasangan Sanaha dan Saladu. "Ia dilahirkan di Sucen, Doplang, Blora, Jawa Tengah atau dahulu disebut Medang Pakuwon pada akhir abad ke-7 Masehi," ujar koordinator komunitas Jelajah Misteri Kabupaten Blora, Eko Arifianto, Kamis (27/8/2020).

Baca Lainnya :

    Pemerhati sejarah ini, mengungkapkan, pada waktu itu, pamannya yakni bernama Sana baru saja diangkat menjadi datu di Galuh Kerajaan Tarunanegara. Namun tak selang berapa lama, Sana meninggal secara tiba-tiba.

    Sana meninggal dunia akibat diracun oleh konspirasi yang terjadi di istana Galuh karena perebutan kekuasaan.

    Baca Lainnya :

      Pangeran dari Kerajaan Tarumanegara ini ingin merebut tahta dari tangan Sana, lalu ia dibantu istrinya berhasil meracun Sana.

      Mayat Sana oleh para pengikutnya dibalsam agar tidak menimbulkan bau tidak sedap. Kemudian mayatnya dibawa pulang ke kampung halamannya di Sucen, Doplang, Medang Pakuwon, Blora.

      Ia diantar oleh sembilan orang pengawalnya dan seorang pekathik (pelayannya yang bertugas memelihara kuda).

      Namun sesampai di Medang Pakuwon, kakak perempuan Sana yang bernama Sanaha menjadi murka dan memerintahkan 9 orang pengawalnya dibunuh karena dianggap tidak mampu melindungi keselamatan adiknya.

      Hanya satu orang yang dibiarkan tetap hidup yakni seorang pemelihara kuda yang dianggap orang kecil dan tidak tahu duduk perkaranya.

      "Dari situ muncul kisah cerita tutur tentang Kesongo, yaitu matinya sembilan orang yang tragis dan dramatis," ungkap Koko, sapaan akrabnya.

      Tempat 9 orang pembantu Sana dibunuh sekarang dinamakan Desa Kesongo, Kecamatan Jati, Kabupaten Blora.

      Tempat terbunuhnya 9 orang sekarang berupa hamparan dataran rendah dengan tanah berlumpur. Semburan lumpur bisa mencapai 3 meter.

      Di tempat itu ada tanah berlumpur yang sering menyemburkan lumpur yang disertai gas belerang yang menyebabkan banyak burung dan hewan mati karena keracunan.

      Akibat semburan lumpur dengan bau gas belerang itu, banyak hewan mati dan penduduk tidak perlu susah-susah berburu mencari makanan.

      Disampaikan, pada tahun 416 M, Keraton Medang Kamulyan di hilir sungai Lusi Blora sudah padat penduduknya. Sebagian penduduk berpindah ke arah Barat Daya menyusuri Sungai Lusi hingga mencapai hutan jati di wilayah Blora Selatan.

      Para pendatang membangun pemukiman baru. Wilayah tersebut diberi nama Pakuwuan atau Pakuwon dengan lokasi kedaton di Sucen.

      Kedaton dipimpin oleh seorang perempuan bernama Sanaha. Sanaha adalah kakak perempuan Sana penguasa Galuh Kerajaan Tarumanegara yang merupakan garis keturunan Kandayun.

      Medang Pakuwon sekarang terletak di Desa Kesongo. Sanaha jatuh di Medang Pakuan pada tahun 696 Masehi.

      Cerita ini, tambah dia, mengambil sumber dari Buku Babad Kanung, Sejarah Perjalanan Orang Jawa 230 SM - 1292 M.

      Cerita pilu Rawa Kesongo hari ini, Kamis (27/8/2020), terulang. Rawa Kesongo meletus dan menyemburkan lumpur panas. Dua warga keracunan dan 17 ekor kerbau terkubur lumpur.(ahmad sampurno)






      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more