Klaim Lahan Kritis di Jatim Menyusut

Selasa, 29 November 2016, Dibaca : 851 x Editor : samian

Ali Imron
Gubernur Jatim, Soekarwo saat memberikan pemaparan diacara kunjungan kerja Presiden Joko Widodo di Tuban.


SuaraBanyuurip.comAli Imron

Tuban- Gubernur Jawa Timur, Soekarwo mengklaim jumlah lahan kritis di wilayahnya terus menyusut setiap tahunnya. Berdasarkan review 5 tahun oleh balai pengelola Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas jumlah lahan kritis di Jawa Timur (Jatim), mulai tahun 2004 hingga 2013 berkurang dan tersisa 256 ribu hektar (ha).

“Pencapaian ini karena tingginya kepedulian masyarakat menanam sekaligus merawat pohon,” kata Gubernur Soekarwo, kepada suarabanyuurip.com, ketika ditemui dalam penanaman serentak 238 ribu batang pohon di Desa Tasikharjo, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Senin (28/11/2016).

Baca Lainnya :

    Pria yang akrab disapa Pakde Karwo itu menjelaskan, besarnya potensi Sumber Daya Alam (SDA) di Jatim patut disyukuri. Sekaligus dilindungi untuk kemajuan pembangunan masyarakat jangka panjang.

    Hasil review 5 tahun balai pengolahan DAS Brantas, lahan kritis Jatim tahun 2004 mencapai luasan 823 ribu ha. Pada tahun 2009 turun menjadi 598 ribu ha, dan 2013 tersisa 256 ribu ha lahan kritis.

    Baca Lainnya :

      Digambarkan pula, hingga saat ini kawasan hutan negara di Jatim seluas 1. 361.146 ha atau 28,38 persen dari luas daratan Jatim. Sedangkan hutan rakyat seluas 743.933 ha atau 15,51 persen dari luas daratan Jatim. Artinya tutupan lahan seluruh Provinsi Jatim antara hutan negara dan rakyat seluas 43,89 persen dari luas daratan yang ada.

      Semakin berkurangnya lahan kritis, dan luasnya tutupan lahan di Jatim diiringi dengan bertambahnya sumber mata air.  Catatan sejak 2012 jumlah sumber air  mencapai 3.872 lokasi, dan di bulan Juli 2016 bertambah menjadi 4.389 lokasi.

      “Artinya ada penambahan 517 lokasi sumber air di Jatim,” imbuhnya.

      Selama ini Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim sangat serius dalam program penanaman dan pemeliharaan hutan. Terbukti pada tahun 2007 telah diterbitkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 12 tahun 2007, tentang rehabilitasi hutan lahan kritis. Dilanjutkan dengan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 25 tahun 2008, tentang gerakan menanam dan memelihara pohon di Jatim untuk menyelamatkan bumi.

      Buktinya keberhasilan regulasi dan kesadaran masyarakat, menjadikan Jatim selama tiga tahun berturut-turut mampu menjadi terbaik di tingkat Nasional. Melalui gerakan pohon 1 miliar pada tahun 2010, 2011, 2012. Sedangkan untuk tahun 2013 dan 2014 dihentikan. Terakhir pada  tahun 2015, Jatim menjadi juara umum lomba Wana Lestari di Kalimantan Timur.

      Pakde Karwo mengatakan, saat ini Unesco juga telah menetapkan 11 cagar Biosfer di Indonesia, paling banyak di Jatim. Meliputi Biosfer Bromo Tengger Semeru, Arjuna, Blambangan dengan Zona Inti Alas Purwo Banyuwangi yang lokasinya cukup wingit. Ditambah Kawah Ijen, Taman Nasional Merubentiri, dan Taman Nasional Baluran.

      “Prestasi ini tidak akan terwujud tanpa kerjasama yang baik antara Pemprov, daerah, kecamatan, desa hingga tingkat Rukun Tetangga (RT),” jelasnya.

      Kegiatan penanaman serentak yang dilakukan selama ini di lahan rakyat Jatim, juga berdampak positif terhadap pemenuhan bahan baku industri kayu rakyat. Dari 942 industri pengguna kayu bulat, sebanyak 906 industri atau 98,18 persen bahan baku berasal dari hutan rakyat. Dimana rata-rata produksinya 2.708.538 meter kubik selama tiga tahun ini.

      Sementara, Presiden Joko Widodo, berpesan alangkah baiknya jika menanam pohon sedikit jumlahnya, namun hidup semua. Dibandingkan menanam banyak, tapi yang hidup dapat dihitung jari.

      “Lebih baik lagi apabila menanam pohon dalam jumlah banyak, dan dirawat dengan serius pasti hasilnya lebih bermanfaat,” pungkasnya. (Aim)

       


Show more