Komisi VII Ingatkan Aturan Pengelolaan Logam Tanah Jarang

Selasa, 12 April 2022, Dibaca : 1723 x Editor : nugroho

dok.dpr-ri
Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Patijaya.


SuaraBanyuurip.com - d suko nugroho

Jakarta - Penambangan logam tanah jarang (LTJ) di Indonesia memiliki potensi untuk dikelola dan menarik investor. Namun, Komisi VII DPR RI mengingatkan kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berhati-hati dalam melakukan pengelolaan, pengolahan ataupun penambangan LTJ, sebelum ada regulasi yang jelas.

LTJ atau Unsur logam langka adalah kumpulan 17 unsur kimia pada tabel periodik, terutama 15 lantanida ditambah skandium dan itrium. Skandium dan itrium ini dianggap logam langka karena sering ditemukan pada deposit-deposit bijih lantanida dan memiliki karakteristik kimia yang mirip.

Baca Lainnya :

    "Berdasarkan amatan kami, hambatan dalam pemanfaatan logam tanah jarang salah satu masalahnya ialah regulasi," ujar Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Patijaya saat rapat dengar pendapat (RDP) bersama Dirjen ILMATE Kementerian Perindustrian, dan Dirjen Minerba Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral membahas soal Monasit, Senin (11/4/2022) kemarin. 

    Menurutnya regulasi belum jelas mengatur pemanfaatan logam tanah jarang (LTJ), seperti salah satu mineral yang didapat saat penambangan timah yakni Monasit.

    Baca Lainnya :

      "Monasit, senotim itu memang golongan logam. Cuman di dalam Monasit saat ini kekhususannya adalah sekitar kurang lebih 0,3% itu mengandung Torium yang juga sangat bernilai,” ujarnya.

      Monasit dianggap sebagai mineral logam dan bukan mineral pembawa langsung radioaktif. Namun terdapat Torium yang juga menjadi bagian yang melekat di dalamnya yang dalam peraturan tersebut masuk dalam mineral radioaktif.

      Di satu sisi, Bambang memaparkan, Indonesia bisa keluar dari jebakan pemanfaatan, karena dari dulu BATAN dan Kemenhan meyakini bahwa itu merupakan barang radio aktif. Tapi di sisi lain ada kandungan lain yang juga bernilai.

      “Ini barang lost sangat besar, karena investasi yang masuk ke sini adalah mengambil Fosfatnya (Monasit), bukan mengambil torium-nya yang nilainya tinggi. Jadi jangan sampai gegabah untuk penambangan dan pengolahannya. Sebelum ini clear, jangan dikasih dulu fosfat (monasit) nya,” tegas Politisi dari Fraksi Partai Golkar ini.

      Dirjen Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin menjelaskan telah memetakan potensi LTJ. Sejauh ini ada delapan lokasi di Indonesia yang memiliki potensi. Namun masih baru dalam tahap eksplorasi awal.

      Logam tanah jarang paling banyak berada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, tepatnya di pertambangan timah. Ada puluhan bahkan ratusan ribu ton potensi logam tanah jarang di provinsi tersebut.

      Berdasarkan data yang dipaparkan, di Bangka Belitung ada potensi logam tanah jarang sebanyak 186.663 ton dalam bentuk monasit dan 20.734 logam tanah jarang bentuk senotim. Kemudian dalam bentuk laterit di Sulawesi Tengah sebesar 443 ton dan Kalimantan Barat sebesar 219 ton, dan jugadi Sumatera Utara sebesar 19.917 ton.

      "Potensi ini bisa menarik investor," ujarnya.(suko)



Show more