Lebih Khawatirkan Air dari Proyek Blok Cepu

Selasa, 23 Desember 2014, Dibaca : 887 x Editor : nugroho

SuaraBanyuurip.com - Samian Sasongko/Bambang Kristanto

Bojonegoro - Meski debit air Sungai Bengawan Solo sempat naik dan memasuki siaga I, namun tak membuat warga di sejumlah desa di bantaran sungai terpanjang di Pulau Jawa di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, resah dan panik. Mereka sudah terbiasa dengan banjir akibat luapan Sungai Bengawan Solo yang terjadi setiap tahun.

Mashun, (40), warga Desa Cegungklung, mengatakan, sudah sejak seminggu ini kondisi bengawan solo naik. Namun belum ada persiapan apapun yang dilakukan warga. Mereka tetap melakukan rutinitasnya setiap hari sebagi petani.

Baca Lainnya :

    "Warga cukup tenang tidak terlalu khawatir,"  kata Mahsun kepada suarabanyuurip.com, Selasa (23/12/2014).

    Dia mengungkapkan, justru saat ini warga lebih mengantisipasi aliran air dari lokasi proyek Banyuurip agar tidak meluber ke areal persawahan maupun ke pemukiman penduduk. Karena, aliran air dari lokasi proyek hampir keseluruhan bermuara menjadi satu. Tidak menyebar seperti sebelum proyek Banyuurip dikerjakan. 

    "Dulu sebelum proyek dikerjakan air hujan bisa menyebar kemana-mana atau ditahan oleh pematang sawah. Tapi, sekarang sudah diratakan untuk pengerjaan proyek sehingga aliranya jadi satu, muaranya ke arah bengawan. Salah satunya, kearah Desa Cengungklung, Sudu, Manukan, Ngraho, Kecamatan Gayam," ujar Mashun, menjelaskan.    

    Baca Lainnya :

      Paridi, warga lainnya menyarankan, agar permasalahan saluran air dari proyek Banyuurip inilah yang harus dicarikan solusi bersama.  Sehingga tidak membahayakan warga yang berdomisili di wilayah utara proyek Blok Cepu. Tentunya, yang berdomisili di bantaran Bengawan Solo.

      "Mudah-mudahan, baik dari Pemkab Bojonegoro, EMCL, Pemdes, dan dinas terkait lainnya segera bertindak untuk mencarikan solusi terbaik terkait saluran air," sambung Paridi warga Cengungklung lain. (sam/kris)  


Show more