Lindra dan Riyadi Melawan Bayangan Masa Lampau

Meretas Emosi Pemilik Suara Pemilukada Tuban (2)

Sabtu, 28 November 2020, Dibaca : 303 x Editor : teguh

Suarabanyuurip.com/ist
Tiga Paslon Bupati dan Wabup Tuban mengambil nomor urut yang digelar KPU Tuban beberapa waktu lalu.


Oleh : Teguh Budi Utomo

Berbeda dengan Anna dan Anwar yang bertarung melawan kebosanan, Paslon Bupati dan Wabup Tuban, Aditya Halindra Faridzki dan Riyadi (Lindra Riyadi), juga memiliki problem. Mereka harus bertarung melawan bayang-bayang kebesaran masa lampau.

Setelah hiruk pikuk reformasi pada tahun 1997/1998, Partai Golkar masih menjadi parpol besar di daerah kaya potensi tambang batu kapur. Sepanjang dasa warsa (2001-2011)  partai berbasis massa kekaryaan itu, mengantarkan ketuanya, Haeny Relawati Rini Widyastuti,  sebagai Bupati Tuban, setelah sebelumnya menjabat Ketua DPRD setempat.

Baca Lainnya :

    Sepanjang dua periode pemerintahan ibu kandung Lindra mendedah Tuban. Perempuan bupati pertama di Bumi Ranggalawe di periode pertama berpasangan dengan Sunoto, dan kedua dengan Lilik Soeharjono itu, sangat populer dengan program insfrastruktur jalan. Pembangunan sarana transportasi hingga ke setiap sudut permukiman, dan desa-desa menjadi pemantik kebangkitan sektor pertanian dan tambang galian. Pun diorientasikan menjadi pendukung masuknya investasi.

    Sepanjang pemerintahannya, tak muncul penyimpangan anggaran yang mengarah pada tindak pidana korupsi. Paling tidak lembaga hukum dan antirasuah tak menyoal terjadinya penyelewengan APBD. Hal itu menjadikan trust publik pada kepemimpinannya demikian kuat. Di eranya pola pembangunan ala Tuban menjadi rule model di tanah air.

    Baca Lainnya :

      Munculnya pasangan Lindra dan Riyadi termasuk mengagetkan peta Pemilukada Tuban. Ketua DPD Partai Golkar Tuban berusia 28 tahun, pada Pemilu Legislatif 2019 ini terpilih sebagai Anggota DPRD Jatim termuda. Gesturnya semampai dan ramah mengundang empati tersendiri bagi pemilih milenial.  

      Pasangannya, Riyadi mantan Kepala Desa Maibit, Kecamatan Rengel, Tuban memiliki rekam jejak sebagai pegiat sosial, keagamaan, dan olah raga sepak bola. Meskipun tak termasuk bagian struktural di kepengurusan PCNU, namun pengusaha bidang pangan yang berusia 40-an tahun ini memiliki konstribusi tak sedikit di ormasnya.

      Bagi yang mengerti birokrasi capaian pemerintahan bersih tidak segampang membalik telapak tangan. Disana ada seni memimpin, mengelola anggaran menjadi kinerja politik, dan diperlukan kedisiplinan ketat tanpa meninggalkan regulasi. Kebijakan yang terlahir pun terukur.

      Tak bisa dielak, setelah 10 tahun berlalu, kesuksesan Pemkab Tuban di era pemerintahan Haeny melahirkan kerinduan. Pemilih tak lagi melihat adanya perubahan demi perubahan setelah ia lengser seiring perkembangan teknologi. Tentunya tantangan saat ini bobotnya berbeda dengan era 20 tahun silam.

      Bayang-bayang kesuksesan pemerintahan Bupati Haeny itulah yang sejatinya menjadi lawan dari Lindra dan Riyadi. Apalagi dalam tagline “Mbangun Deso Noto Kutho” yang dulu dipakai Haeny membangkitkan semangat membangun warga Tuban, kembali diusung pasangan ini. Hal itu bisa dilihat sebagai bentuk reunifikasi, dan menggugah kesuksesan untuk masa depan. Oleh karenanya tak keliru jika muncul pertanyaan, bisakah mereka memiliki progres setara atau melampaui capaian Haeny?

      Lindra dan Riyadi butuh strategi berlapis untuk merebut simpati pemegang hak pilih. Diperlukan cara khusus meyakinkan publik, bahwa usia muda tak harus diragukan dalam memimpin daerah. Situasi itu harusnya sudah dipahami pasangan muda tersebut.

      Sejarah telah membuktikan pemimpin muda memiliki prestasi, dan tak perlu diragukan kepabilitasnya. Terbukti pasangan muda Emil Elestianto Dardak dan Muhammad Nur Arifin, terpilih sebagai Bupati Trenggalek tahun 2015. Saat Pemilukada di daerah centra cengkih itu mereka menyabet 76,28 persen suara.

      Demikian juga Muhammad Makmun Ibnu Fuad yang terpilih sebagai Bupati Bangkalan (2013-2018) diusia 26 tahun. Mardani H Maming terpilih sebagai Bupati Tanah Bambu, Kalimantan Selatan (2010-2018) saat berumur 29 tahun.

      Sederet anak muda tersebut mewarnai demokrasi di tanah air, sekaligus menjadi bukti tak ada salahnya dengan pemimpin muda. Perspektif usia pemimpin sejatinya telah selesai, karena regulasi telah membuat pembatasan usia minimum. Tak patut lagi dipersoalkan.

      Mengelola emosi pemilih memang tak mudah. Tak gampang pula menggiring emosi pemegang hak pilih, agar rela menyampirkan harapan kepada pasangan muda. Apalagi Tuban sejak tahun 2017 telah ditetapkan sebagai daerah tujuan investasi di Jatim.

      Di saat industri masuk, perlu dipikirkan nasib 5.091 pencari kerja dengan 2.264 orang diantaranya berpendidikan setingkat SMA, agar tak menjadi penonton kecewa. Termasuk angka kemiskinan di Tuban tahun 2019 sebanyak 178.640 orang (15,31 persen), sehingga Tuban masih menjadi bagian lima besar kabupaten miskin di Jatim.  

      Sekalipun program kerja yang ditawarkan berbasis UMKM berbasis keluarga senada dengan kondisi masyarakat, namun mereka masih perlu terpilih agar bisa membuktikannya. Semuanya berpulang pada kemana arah emosi pemegang hak pilih menentukan pilihan. Galibnya sebagai kandidat Lindra dan Riyadi sangat paham terhadap apa yang harus dilakukan. (bersambung)


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more