Masa Pandemi Ratusan Pedagang Bojonegoro Digusur Tanpa Ada Solusi

Minggu, 13 September 2020, Dibaca : 388 x Editor : nugroho

Ist
DIBONGKAR : Salah satu bangunan milik pedagang di Desa Ngumpakdalem sudah rata dengan tanah akibat adanya penggusuran.


SuaraBanyuurip.com - d suko nugroho

Bojonegoro - Pandemi virus corona atau Covid-19 di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, belum berakhir. Kondisi ekonomi masyarakat masih lesu. Namun ratusan pedagang di sepanjang jalan nasional Bojonegoro - Nganjuk, tepatnya mulai Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander hingga Desa Pacul, Kecamatan Bojonegoro, harus menerima penggusuran.

Bangunan tempat mereka berjualan yang berada di tanah pengairan dibongkar. Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air Bojonegoro memberi deadline bangunan harus bersih paling lambat Sabtu, 12 September 2020.

Baca Lainnya :

    Pembongakaran sebagian besar dilakukan para pedang sendiri sejak Sabtu. Mayoritas mereka adalah pedagang kecil seperti penjual makanan dan minuman yang selama ini menggantungkan hidup dari usaha tersebut. 

    "Saya dikasih surat peringatan ke tiga. Paling lambat tanggal 12 harus dibongkar. Jika tidak akan dibongkar paksa petugas," ujar Karis, penjual makanan dan minuman di depan perumahan Griya Rajekwesi Indah, Minggu (13/9/2020).

    Baca Lainnya :

      Ia mengaku kecewa dengan penggusuran tersebut karena sekarang ini masih masa pandemi virus corona yang membuat ekonomi belum stabil. 

      "Nggak apa-apa digusur, karena saya tahu ini tanah pengairan. Tapi mbok ya jangan sekarang. Akhir tahun lah," tuturnya.

      Akibat penggusuran ini Karis terpaksa pindah lokasi di jalan desa dekat Gelanggang Olahaga Dabonsia Ngumpakdalem. Ia harus menyewa lahan pertahunnya Rp 4 juta.

      "Ya mau bagaimana lagi. Wong cilik bisa nurut, nggak berani mau nuntut," ucapnya dengan logat jawa.

      Pedagang lainnya, Rohman menyayangkan tidak adanya solusi dari Pemerintah Kabupaten maupun Pemerintah Desa Ngumpakdalem atas nasib para pedagang yang menempati tanah pengairan.

      "Pinginnya kita dicarikan tempat baru di mana gitu. Kan bisa para pedagang ini dicarikan tempat dikumpul menjadi satu lokasi. Bisa menjadi wisata kuliner atau apalah namanya," harp penjual nasi pecel yang berada di perempatan Pasar Desa Ngumpakdalem. 

      Akibat penggusuran ini praktis mayoritas pedagang kehilangan pekerjaan. Mereka menjadi penggangguran baru.

      "Mau kerja ikut kuli bangunan ya nggak kuat. Belum tahu mau kerja apa," ujar bapak dua anak itu. 

      Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air Bojonegoro, Tedjo Sukmono membenarkan jika telah memberikan surat peringatan ketiga kepada pedagang yang menempati tanah pengairan mulai Desa Ngumpakdalem sampai Desa Pacul. Ada seratusan pedagang yang mendirikan bangunan di tanah irigasi baik di sisi timur dan barat jalan.

      "Kita beri kesempatan mereka membongkar sendiri bangunannya paling lambat tanggal 12 September ini. Jika tidak akan kita bongkar paksa ," ujar Tedjo.

      Menurut Tedjo, para pedagang telah melanggar Peraturan Daerah No 38 Tahun 2011 tentang Sungai. Mereka dilarang mendirikan bangunan di saluran irigasi. 

      "Penertiban ini untuk menormalisasi kembali sungai di wilayah itu agar jika hujan deras tidak meluber dan terjadi banjir," pungkasnya.(suko)



      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more