Masjid dan Peran Memakmurkan Umat

Selasa, 05 Oktober 2021, Dibaca : 95 x Editor : samian

Dok Usman Roin
Usman Roin


                              Oleh: Usman Roin

MEMBICARAKAN masjid menjadi menarik. Sisi kemenarikannya, selain karena penulis pernah aktif menjadi Ketua Remaja Masjid di Kota Lumpia Semarang, masjid yang secara fisik dibangun dengan susah payah, disertai biaya mahal, perlu melakukan langkah pemakmuran secara konkrit. Fakta yang ada, masih banyak masjid di sekeliling kita “merana” menanti uluran tangan pengurus dan jemaah yang mau memakmurkannya. 

Pada porsi ini, tulisan ini hendak menajamkan peran penting masjid untuk keumatan. Karena yang pasti, peran masjid perlu dilekatkan pada problematik-sosiologis. Sehingga, antara masjid dan umat terjadi saling menjaga dan memakmurkan. Hal itu, sebagaimana slogan Ketua Umum PP Dewan Masjid Indonesia (DMI), H. M. Jusuf Kalla yakni, “Memakmurkan dan dimakmurkan”.

Baca Lainnya :

    Keberadaan masjid, mengutip data simas kemenag ter-update menyebut sudah ada 284.067 bangunan secara nasional. Itu belum termasuk data musala. Tentu data tersebut secara kuantitatif sangat banyak, sehingga yang perlu dilakukan kemudian adalah menformulasikan agar masjid diseluruh pelosok negeri memiliki peran pemakmuran untuk masyarakat sekitar.

    Bicara masjid dan pemakmuran, Ahmad Yani (2018:7) menegaskan sangat signifikan sekali. Tujuannya dalam rangka menelaah secara kontekstual berbagai upaya pemakmuran umat melalui keberadaan masjid sebagaimana yang telah dilakukan masjid pada masa awal Islam. 

    Baca Lainnya :

      Langkah Pemakmuran

      Hemat penulis, dalam konteks kekinian, upaya pemakmuran umat melalui masjid dapat dilakukan melalui aspek pemenuhan kebutuhan ekonomi. Pada porsi ini, masjid mengambil peran sebagai penjamin kebutuhan hidup umat (jemaah masjid) yang kurang mampu. Bisa dalam bentuk pemberian konsumtif bagi jemaah yang sudah tidak mampu bekerja, hingga pelatihan soft skill yang output-nya kemudian menghasilkan produk yang bisa dipasarkan dan menghasilkan income mandiri untuk jemaah. Jika hal itu dilakukan, tentu dana kotak infak yang dimiliki oleh masjid tidak stagnan (tersimpan sebagai kas), melainkan dilahirkan berbentuk program pemakmuran kepada umat yang sedang membutuhkan uluran bantuan. 

      Selain dari sisi ekonomi, pemakmuran umat melalui masjid juga bisa dilakukan dengan menggiatkan kembali fungsi tarbiyah (pendidikan). Artinya, secara terminologis Ahmad Yani (2018:22) menegaskan, bahwa fungsi pendidikan di masjid adalah upaya mencerdaskan umat dalam memahami ajaran Islam secara kontinu (istimroriyah), lalu melahirlah amaliah keumatan yang implementatif secara baik dan benar. Hal itu bisa dilakukan melalui kegiatan majelis taklim, pendirian taman belajar Al-Qur’an, hingga pengadaan perpustakaan masjid. 

      Pada kegiatan majelis taklim, keterwujudan pelaksanaannya bisa dilakukan mingguan atau bulanan. Sebagai contoh, studi kasus yang pernah penulis lakukan berwujud Tesis (2020:109) menunjukkan, bahwa karakter religius masyarakat muslim di Kelurahan Palebon, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, terbentuk melalui kegiatan majelis taklim mingguan setiap Ahad pagi, pukul 07.00-08.00 Wib, yang tempatnya bergantian di enam masjid. Mulai dari Masjid Al-Ikhlas, kemudian minggu berikutnya di Masjid Al-Muhajirin, lalu Masjid Nurul Iman (1), diteruskan Masjid Al-Ikhsan, Masjid Al-Hikmah, dan terakhir Masjid Nurul Iman (2).

      Berangkat dari asas “kebersamaan” ingin memperdalam pengetahuan agama Islam di wilayah perkotaan inilah, format majelis taklim tersebut kemudian diabadikan namanya menjadi Pengajian Ahad Pagi Bersama (PAPB) yang kini sudah berjalan 21 tahun sejak 7 Mei 2000.

      Selain majelis taklim, pendirian taman belajar Al-Qur’an hingga pendirian perpustakaan masjid adalah sarana tarbiyah dalam rangka mencerdaskan umat. Taman belajar Al-Quran atau yang mafhum dikenal dengan Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) adalah sarana belajar nonformal anak sejak dini utamanya pada bagaimana anak-anak menguasai baca tulis Al-Qur’an dengan baik dan benar berdasarkan ilmu tajwid.

      Adapun perpustakaan masjid, walau masih belum tampak dimiliki oleh mayoritas masjid, adalah sarana menggairahkan kegiatan literasi khazanah keislaman secara mandiri para jemaah pasca berjemaah di masjid. Alhasil, bila masjid memiliki perpustakaan sendiri, maka aktivitas tidur-tiduran di masjid tentu bisa diminimalisir. Sebab, masjid memiliki tempat pengganti berupa ruang baca, untuk mengalihkan jemaah dari pasif keilmuan menjadi aktif, produktif, hingga melek keilmuan.

      Oleh karenanya, kini fungsi tarbiyah di masjid sudah harus dipikirkan secara seksama oleh para takmir masjid. Bukan sekadar memikirkan fungsi ibadah an sich, yang dalam terminologi Ahmad Yani (2016:79) sangat sempit jika ingin mengimplementasikan kejayaan masjid sebagaimana masa awal Islam.

      Karena, selain fungsi ibadah, masih ada fungsi pendidikan (tarbiyah) dan sosial kemasyarakatan (ijtima’iyah), yang harus diurai pengimplementasinya dalam konteks kekinian. Dua konteks urgen dan strategis ini semoga menjadi fokus para takmir dalam rangka mewujudkan kemakmuran umat melalui masjid. Amin.

      * Penulis adalah Dosen Prodi PAI Fakultas Tarbiyah Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) Bojonegoro.


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more