Memaknai Politik, Setelah Gibran dan Gus Ipul Jadi Calon Wali Kota

Minggu, 23 Agustus 2020, Dibaca : 403 x Editor : nugroho

SuaraBanyuurip.com
Sutopo


                       Oleh: Sutopo, S.H.I

BANYAK masyarakat awam mendengar kata "politik" itu seolah-olah adalah hal yang tidak baik, atau bahasa kasarnya politik itu kejam, penuh dengan sandiwara, abu-abu, pencitraan dan lainnya. Bahkan, ada istilah dalam berpolitik itu "tidak ada musuh atau teman abadi, yang ada hanya kepentingan abadi".

Tapi, itu semua hanyalah menurut sebagian orang. Namun, ada juga yang berpandangan bila politik itu unik, seru dan susah ditebak. Bahkan, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin menganggap bila berpolitik itu adalah hobi. Mungkin, ada juga yang berpendapat bila politik itu perjuangan. Sebab, politik bisa menjadi alat untuk mengambil kekuasaan serta membuat kebijakan untuk kemajuan dan kesejahteraan sebuah wilayah desa, kabupaten, provinsi, negara atau kelompok tertentu.

Baca Lainnya :

    Namun, ada bebebrapa orang menyarakan jika berpolitik itu harus siap disakiti, dikecewakan, ditelikung dan lain lain. Jadi, jika orang itu terjun atau bergelut di dunia politik ada yang menyarankan untuk jangan bawa perasaan (baper) atau pun sakit hati.

    Dikutip dari wikepedia, arti kata politik berasal dari bahasa Yunani, yaitu politikos, yang berarti dari, untuk, atau yang berkaitan dengan warga negara. Politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara.

    Baca Lainnya :

      Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik. Dan, politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstil.

      Berbicara tentang politik memang sangat mengasikkan (seru). Apalagi, berkaitan dengan masalah dukung mendukung calon masing-masing. Mulai dari tingkat kepala desa (kades), bupati/wali kota untuk kabupaten/kota, gubernur untuk provinsi dan nasional/negara untuk presiden. Yang, biasanya selalu diwarnai dengan fanatisme para pendukung.

      Pemilihan presiden misalnya, pada Pemilu 2019 diwarnai dukungan dari para warga masyarakat dari berbagai jenis golongan, suku, agama dan lainnya. Saking serunya dan fanatiknya pendukung pasangan calon 01 (Jokowi-Ma'ruf) dan 02 (Prabowo-Sandi) saling klaim bahwa jagoan mereka lah yang paling baik dan kuat serta bisa memenangkan pertarungan untuk menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI.

      Saking fanatiknya, ada sekelompok golongan mendukung secara mati-matian. Hingga, seolah menunjukan rasa tidak suka dengan salah satu calon secara terang-terangan.

      Bahkan, setelah pemilu usai. Setelah pertarungan, adu gagasan, adu strategi dan lain lain selesai dan dimenangkan oleh salah satu calon, ternyata masih terjadi perdebatan hingga ke Mahkamah Konstitusi.

      Tapi, yang namanya politik memang susah ditebak. Politik itu dinamis, politik itu cair bagi sebagian orang. Hal itu terbukti, setelah menjadi rival di dua Pemilu yaitu 2014 dan 2019 akhirnya Prabowo Subianto mau menjadi salah satu menteri di kabinet Jokowi-Ma'ruf. Hal itu, membuat sebagian pedukung fanatik Prabowo Subianto kecewa atas sikap yang diambil oleh mantan Danjend Kopasus itu.

      Realitas lain, yang membuat politik itu unik dan susah ditebak adalah munculnya Gibran Rakabuming Raka yang merupakan anak pertama dari Presiden RI Joko Widodo, maju mencalonkan diri sebagai Wali Kota Solo pada pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak tahun 2020. Sontak, pencalonan Gibran, menyita perhatian publik. Sebab, sebelumnya kakak dari Kaesang Pangarep ini tidak berminat terjun ke dunia politik.

      Ditambah, yang menjadi perhatian adalah pada pencalonan Wali Kota Solo melalui partai PDI-P berlangsung dramatis. Karena, sebelumnya, DPC PDI-P Solo lebih dulu mengusung Achmad Purnomo sebagai bakal calon Wali Kota Solo. Tapi, lagi-lagi politik memang seru, meski sudah berpengalaman dan sangat senior Achmad Purnomo yang saat ini menjabat sebagai Wakil Wali Kota Solo, kalah merebutkan Surat Rekomendasi dari Ketua Umum DPP PDI-P Megawati Soekarno Putri yang jatuh kepada Gibran yang notabennya adalah anak muda dan baru bergabung di partai politik.

      Namun, apa mau dikata. Politik tetap politik, yang kental dengan syarat kepentingan di dalamnya. Tidak pandang umur, tapi, lebih condong ke pada kepentingan.

      Hal yang menjadi perhatian lagi adalah munculnya nama Syaifullah Yusuf atau yang akrab dipanggil Gus Ipul. Ya, mantan Wakil Gubernur Jawa Timur dua periode ini tiba-tiba mencuat ke publik dicalonkan oleh partai PKB dan Golkar maju menjadi Wali Kota Pasuruan. Walau masih mengaku berfikir-fikir dan berkomunikasi dengan bebebrapa pihak, muculnya Gus Ipul menjadi calon Wali Kota Pasuruan adalah menandakan bahwa politik itu susah ditebak dan seru.

      Punulis Adalah Alumni UIN Sunan Ampel Surabaya dan Sekretaris PAC GP Ansor Bubulan


       



      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more