Mengenang Jasa Santoso, Mantan Bupati Bojonegoro

Kamis, 09 Juli 2020, Dibaca : 659 x Editor : nugroho


SuaraBanyuurip.com - d suko nugroho

"Innallillahi wainnallillahi Rojiun. Telah meninggal Dunia Bapak Moch Santoso pada hari ini tgl 8 Juli 2020 pkl 17.30 di RS. Darmo Surabaya Karena Sakit. Rec akan disemayamkan di Rumah Hayammuruk G78 Surabaya,  besok siang di makamkan di Pemakaman umum Pare Kediri."

Kabar duka tersebut beredar di banyak group WhatsApp (WA), Kamis (8/7/2020), pukul 18.33 Wib. Sesaat kemudian bertebaran foto almarhum HM Santoso berpakaian dinas saat menjabat Bupati Bojonegoro, Jawa Timur, periode 2003-2008, sambil diiringi ucapan bela sungkawa.

Baca Lainnya :

    Kabar tentang Santoso setelah divonis terbukti melakukan kasus korupsi tidak banyak menghiasi media massa. Hari-harinya dihabiskan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Bojonegoro, setelah empat tahun lengser menjadi Bupati. Bahkan ketika istrinya meninggal dunia lebih dulu beberapa tahun lalu, masa hukumnya belum habis.

    Ada dua kasus korupsi yang melilit Santoso. Yakni dana bantuan sosial APBD Bojonegoro 2007 sebesar Rp 6 miliar. Dia divonis hakim empat tahun penjara. 

    Baca Lainnya :

      Kemudian korupsi dana pembebasan lahan Blok Cepu sebesar Rp3,8 miliar. Dia divonis 6 tahun penjara pada 2014. Sehingga total hukuman yang harus dijalani selama 10 tahun.  

      Kasus pembebasan lahan Blok Cepu ini menyeret sejumlah mantan pejabat Pemkab Bojonegoro yakni Sekretaris Daerah, Bambang Santoso, dan Asisten I Kamsoeni (almarhum).

      Semua Forpimda dan mayoritas kepala organisasi perangkat daerah (OPD) kala itu menerima aliran dana pembebasan lahan dari Operator Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limted, karena masuk dalam tim koordinasi pengendalian dan pembebasan lahan (TKP2L). Namun mereka bebas dari jeratan hukum.

      Santoso memang memiliki secuil catatan hitam selama menjadi Bupati. Namun tak sedikit pemikirannya ingin memajukan Bojonegoro. Di antaranya, mendorong agar Blok Cepu segera digarap pasca pengambilalihan dari Humpuss Patra Gas ke tangan ExxonMobil Oil. 

      Bahkan, kala itu, Santoso mendukung perwakilan warga ring satu dari sejumlah desa di sekitar Blok Cepu datang ke Jakarta untuk melakukan hearing dengan Komisi VII DPR-RI, pascapenandatanganan Joint Operating Agreement (JOA) pada 15 Maret 2006.

      Dengan segera digarapnya Blok Cepu tentu akan membuka peluang usaha dan kerja bagi warga Bojonegoro. Juga tentunya akan menambah pundi-pundi pendapatan yang dapat mendongkrak APBD dari dana bagi hasil migas.

      Santoso kala itu juga turut berjuang mendapatkan Participating Interest (PI) Blok Cepu. Dengan gaya cowboy-nya, ia meminta kepada pemerintah pusat agar 10% PI dikelola Bojonegoro. Namun gagal. Bojonegoro mendapat jatah 4,5% (paling besar), sisanya dibagi Kabupaten Blora, Pemprov Jateng, dan Pemprov Jateng.

      Santoso kala itu meyakini jika Blok Cepu cepat beroperasi, Bojonegoro akan menjadi texas kedua karena besarnya kandungan minyak yang dimiliki. Karena itu, konsep pembangunan untuk mendukung industri migas disiapkan di era pemerintahannya. Sekalipun saat itu APBD Bojonegoro masih cupet.

      Pembangunan tersebut diantaranya rumah sakit dan sekolah bertaraf internasional-sekarang dijadikan RSUD Sosodoro Djatikoesoemo dan Sekolah Model Terpadu. Pembangunannya dilakukan dengan sistem multiyears karena minimnya APBD.  Selain itu juga membangun Hotel Griya Dharma Kusuma (GDK).

      Harapannya, dengan pembangunan rumah sakit bertaraf internasional, dan hotel itu akan bisa dimanfaatkan tenaga-tenaga profesional migas yang bekerja di Bojonegoro. Begitu juga dengan pembangunan sekolah bertaraf internasional untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) Bojonegoro agar nantinya bisa terlibat di industri migas Blok Cepu.

      Bahkan, saat itu Santoso juga merencanakan pembangunan Jalan Lingkar Selatan. Tujuannya untuk mengurai kemacetan ketika proyek Blok Cepu berjalan. Namun rencana tersebut belum terwujud.

      Pemikiran Santoso yang jauh kedepan juga dibuktikan dengan memindah terminal Bojonegoro. Terminal yang dulunya berada di Jalan HOS Cokroaminoto dipindah ke Jalan Veteran. Rencana sebelumnya, terminal tersebut akan dibangun di Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander dan diintegrasikan dengan Jalan Lingkar Selatan.

      Pemkab Bojonegoro di era pemerintahan Santoso telah membebaskan lahan di Desa Ngumpakdalem-sebagian lahannya sekarang dibangun GOR- untuk pembangunan terminal. Namun terminal gagal dibangun. Salah satu penyebabnya karena melintasi rel kereta api di Jetak dan Proliman, Kecamatan Kapas. 

      Membuka daerah isolir di utara Sungai Bengawan Solo juga sudah menjadi pemikiran Santoso saat menjabat orang nomor wahid di Bumi Angling Dharma. Buktinya, pada masa pemerintahannya ia membangunan Jembatan Kalitidu-Malo yang melintang di atas Sungai Bengawan Solo. 

      Pascalengser menjadi Bupati, Suarabanyuurip.com terakhir bertemu Santoso pada 1 Agustus 2008. Secara tidak kebetulaan. Saat itu, pensiunan TNI AD, itu sedang kontrol di Poli Jantung RSUD Sosodoro Djatikoesoemo Jalan Veteran.

      Tidak ada pengawalan khusus. Santoso hanya ditemani pengacaranya. Tak ada perlakukan istimewa yang diberikan rumah sakit plat merah kepadanya. Sama seperti pasien lainnya, Santoso harus mengantre dan menunggu giliran panggilan dari pengeras suara dari dalam ruangan Poli Jantung. 

      Orang-orang yang sedang duduk di kursi antrean Poli Jantung tidak ada yang mengenali Santoso. Orang yang pernah memimpin Bojonegoro. 

      Maklum, secara fisik, Santoso saat itu beda dengan sepuluh tahun lalu. Kulitnya mulai keriput, dan tubuhnya renta dimakan usia. 

      suarabanyuurip.com sempat berbincang dengan Santoso. Mantan Kepala Bulog itu menceritakan mulai kontrol rutin setelah awal Januari 2018 lalu, opname di 

      "Sekarang rutin kontrol tiap sebulan sekali," ucapnya menceritakan kondisinya saat itu. 

      Dalam kesempatan itu, Pak San, biasa disapa, juga menceritakan tentang rencana pembangunan Bojonegoro pada masa pemerintahannya. Diantaranya pengembangan Bojonegoro yang diarahkan ke wilayah selatan dan utara, karena wilayah timur dan barat sudah tidak memungkinkan lagi. 

      "Dulu tanah di wilayah Sumbertlaseh ke selatan itu murah sekali. Per meter perseginya tidak sampai Rp50 ribu. Sekarang sudah naik di atas Rp500 ribu," tutur Pak San.

      Wilayah selatan Bojonegoro sekarang ini tumbuh subur usaha perumahan. Mulai Desa Sumbertlaseh, Ngumpakdalem, hingga Desa Dander. 

      Sedangkan di wilayah utara Bojonegoro, selain telah membangun jembatan Kalitidu - Malo, ada tiga lagi jembatan di atas Sungai Bengawan Solo yang menjadi rencana Pak San untuk dibangun.  Yakni Jembatan Padang - Kasiman yang sudah terealisasi. Jembatan Bojonegoro - Trucuk yang sekarang ini menunggu penyelesaian, dan Jembatan Kanor - Rengel, Tuban.

      Tujuannya agar agar wilayah utara bengawan berkembang, tidak terisolir. Belum sempat itu terealisasi Santoso sudah keburu lengser jadi bupati.  

      Sunaryo Abu Main, mantan anggota DPRD Bojonegoro periode 2004-2009 menyampaikan sosok almarhum Santoso adalah sorang pemimpin yang visioner. Banyak gagasannya untuk memajukan Bojonegoro saat itu.

      Menurut Mbah Naryo, panggilan akrabnya, almarhum Santoso selama memimpin Bojonegoro selalu mengedepankan kepentingan umum atau rakyat daripada kepentingn pribadi.

      "Selama ini saya nggak pernah dengar ada orang Bojonegoro bicara bahwa Pak Santoso orang jelek. Semua yang dikatakan tentang Pak Santoso positif. Pak San adalah orang baik dan jujur.  Dia siap jadi korban tumbal demi memperjuangkan rakyat Bojonegoro," pungkas Mbah Naryo yang sedang berada di rumah duka, Kamis (9/7/2020). 

      Berpulangnya Santoso diusia 75 tahun, Rabu kemarin, telah meninggalkan catatan sejarah bagi Bojonegoro. Pemikirannya memajukan Bojonegoro akan selalu abadi. Selamat jalan Pak San.(suko)



      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more