Menkes Terbitkan SK Protokol Kesehatan Fasilitas Umum, Pengelola Wisata Bojonegoro Tunggu Kepastian

Minggu, 21 Juni 2020, Dibaca : 729 x Editor : nugroho

dok/sbu
MEMBLUDAK : Pengunjung Agrowisata Belimbing Ngringinrejo sebelum adanya wabah virus corona.


SuaraBanyuurip.com - d suko nugroho

Bojonegoro - Pengelola wisata di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mulai kelimpungan. Sejak 15 Maret 2020 lalu, objek wisata ditutup akibat pandemi virus corona atau Covid-19. Praktis tiga bulan lebih mereka tidak memperoleh pendapatan.

Padahal, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto telah menerbitkan Keputusan Menteri Kesehatan nomor HK.01.07/MENKES/382/2020 tentang Protokol Kesehatan bagi Masyarakat di Tempat dan Fasilitas Umum yang disahkan pada Jumat, 19 Juni 2020. Salah satunya tempat wisata.

Baca Lainnya :

    "Belum tahu mas, kata kepala desa disuruh persiapan dulu. Kita ngikuti aja mungkin awal bulan Juli sudah siap buka," ujar Priyo Sulistiyo, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, Pengelola Agrowisata Belimbing-kepada suarabanyuurip.com, Minggu (21/6/2020).

    Priyo menceritakan, sebelum adanya pandemi virus corona, jumlah pengunjung Agrowisata Belimbing Ngringinrejo mencapai 136.712 pada tahun 2019. Jumlah tersebut meningkat dibanding tahun 2018 sampai Juni sebanyak 99.610 orang. 

    Baca Lainnya :

      Di agrowisata ini pengunjung dapat melakukan petik buah langsung di kebun. Ada 10.800 pohon belimbing yang berada di areal seluas 20 hektar dengan jumlah petani sebanyak 108 orang.

      Setiap orang dikenakan tiket masuk Rp2.000. Per tahunnya, Pokdarwis Ngringinrejo bisa menyetorkan pendapatan ke desa di atas Rp30 juta.

      "Biasanya hari Sabtu dan Minggu yang ramai. Sama liburan sekolah seperti ini," ucapnya.

      Priyo mengaku meski Agrowisata Belimbing Ngringinrejo belum dibuka secara resmi, namun bebarapa hari ini sudah lumayan banyak pengunjung yang datang. Jumlahnya mencapai 500 an orang. Mereka diwajibkan mematuhi protokol kesehatan pencegajan virus corona.

      "Belum kita tarik tiket masuk. Masih gratis. Untuk buka resminya tunggu dari pemdes," tegasnya. 

      Namun demikin, pengelola Agrowisata Belimbing Ngringinrejo sekarang ini sedang mempersiapkan kelengkapan prtokol kesehatan untuk menyambut pemberitahuan resmi dari Pemerintah Kabupaten terkait dibukanya kembali tempat wisata.

      "Kita memperbanyak tempat cuci tangan, pembuatan bener anjuran protokol kesehatan dan yang utama bersih bersih kawasan agro karena lama tutup," ujarnya.

      Senada disampaikan pengelola Wisata Edukasi Gerabah Rendeng, Kecamatan Malo, Mutjabah. Wisata dipinggiran Sungai Bengawan Solo itu belum membuka kembali wisata tesebut.

      "Kalau untuk pelatihan anak-anak belum. Nunggu sekolah masuk. Tapi orang belanja gerabah sudah ada. Sehari paling dua sampai lima orang," ujarnya dikonfrontir terpisah. 

      Begitu juga dengan objek wisata Bukit Cinta Atas Angin di Desa Deling, Kecamatan Sekar. Wisata di ujung selatan Bojonegoro yang menyuguhkan spot foto dengan latar belakang pemandangan alam yang eksotic itu masih belum dibuka sejak ditutup pada 15 Maret 2020.

      Para pengelola wisata di Bojonegoro ini berharap segara ada keputusan resmi dari Pemerintah Kabupaten untuk pembukaan kembali wisata. Tentunya dengan tetap mematuhi prtokol kesehatan pencegahan virus corona.

      "Harapannya seperti itu," pungkas pelaku jasa industri wisata Bojonegoro, Wahyu Setyawan.

      Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Bojonegoro, Masirin membenarkan jika belum ada keputusan resmi pembukaan tempat wisata di masa pandemi virus corona.

      "Belum ada," pungkasnya.

      Sementara itu, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto telah mengeluarkan surat keputusan tentang tentang Protokol Kesehatan bagi Masyarakat di Tempat dan Fasilitas Umum. Pedoman tersebut penting karena tempat dan fasilitas umum merupakan salah satu lokus masyarakat beraktivitas yang akan mendukung keberlangsungan perekonomian, namun berpotensi menjadi lokus penyebaran COVID-19. Perlu protokol kesehatan dalam pelaksanaan kegiatan di tempat dan fasilitas umum untuk mencegah penularan COVID-19.

      Menkes Terawan Agus Putranto mengatakan tempat dan fasilitas umum merupakan area dimana masyarakat melakukan aktifitas kehidupan sosial dan berkegiatan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Risiko pergerakan orang dan berkumpulnya masyarakat pada tempat dan fasilitas umum, memiliki potensi penularan COVID-19 yang cukup besar.

      ''Masyarakat harus melakukan perubahan pola hidup dengan tatanan dan adaptasi kebiasaan yang baru agar dapat hidup produktif dan terhindar dari penularan COVID-19,'' katanya dilansir dari situs resmi Kementerian Kesehatan.

      Tempat dan fasilitas umum yang dimaksud dalam Keputusan Menteri Kesehatan tersebut antara lain pasar dan sejenisnya, Mall/pertokoan dan sejenisnya, Hotel/penginapan/homestay/asrama dan sejenisnya, rumah makan/restoran dan sejenisnya, sarana dan kegiatan olahraga, moda transportasi, stasiun/terminal/pelabuhan/bandar udara, lokasi daya Tarik wisata, jasa perawatan kecantikan/rambut dan sejenisnya, jasa ekonomi kreatif, kegiatan keagamaan di rumah ibadah, jasa penyelenggaraan event/pertemuan.

      Protokol kesehatan berlaku bagi siapa saja yang terlibat atau berada di tempat dan fasilitas umum. Prinsipnya protokol kesehatan di tempat dan fasilitas umum harus memuat perlindungan kesehatan individu seperti memakai masker, cuci tangan dengan sabun, jaga jarak fisik dengan orang lain, dan meningkatkan daya tahan tubuh dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).(suko) 


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more