Musim Ketigo Datang, Kebahagiaan Anak Desa Bermain Layangan

Senin, 29 Juni 2020, Dibaca : 215 x Editor : samian

Samian Sasongko
BERMAIN LAYANGAN : Sejumlah anak-anak riang gembira bermain layangan meski dibawah panasnya terik matahari.


SuaraBanyuurip.com - Samian Sasongko

Bojonegoro - Datangnya musim kemarau atau ketigo menjadi kebahagiaan tersendiri bagi anak desa sekitar Lapangan Gas Unitisasi Jambaran-Tiung Biru (JTB) untuk bermain layang-layang. Seperti dilakukan anak Desa Trenggulunan dan Butoh, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Saban musim panas datang, anak desa setempat beramai-ramai membuat layang-layang berbagai jenis dan ukuran. Mereka bersama rekan sejawatnya berlarian kesana kemari di tengah lahan pertanian yang kosong untuk bermain layangan. Seakan tak kenal lelah dan panasnya terik Sang Bagaskara menjelang singgah diperaduannya.

Baca Lainnya :

    Tentu saja permainan turun temurun ini tak hanya digemari oleh anak-anak saja. Namun orang dewasa, bahkan tidak jarang orang tua juga ikut memainkan benang layang-layangnya di setiap sore hari.

    Salah satu warga Desa Trenggulunan, Parijan, mengungkapkan, selain mempunyai hobi bermain layang-layang, dirinya juga bisa membuat layang-layang sendiri.

    Baca Lainnya :

      “Biasa setahun sekali di musim ketigo warga disini setiap sore suka bermain layang-layang. Saya membuat sendiri, kalau bikin sendiri kan layangan bisa dibikin unik-unik sesuai selera,” ujar Parijan kepada Suarabanyuurip.com, Senin (29/6/2020) disela-sela bermain layang-layang.

      Menurut pria bertubuh jangkung ini menjelaskan, pembuatan layang-layang tersebut menggunakan bahan berfariasi menurut ukuran dan bentuknya. Kerangka layangan menggunakan bahan dari bambu, lembarannya bisa menggunakan kertas minyak ataupun plastik.

      "Layangan ada yang dipasang batrai, jadi kalau diterbangkan malam hari terlihat berkedip sehinga terlihat unik dan menarik," ucapnya.

      Berbeda dengan Rudi, seorang anak asal Desa Butoh. Dia mengaku layangan yang dipunyai dari pembelian karena tidak bisa membuat sendiri.

      "Harganya Rp 2000 per layangan. Saya seneng banget setiap sore bersama teman-teman main layangan di sawah yang kosong ini. Menjelang sholat Magrib baru pulang," sambung anak berusia 10 tahun ini.(sam)

       


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more