Pasar Modern di Lamongan Nyaris Tutup

Senin, 14 Januari 2013, Dibaca : 4517 x Editor : nugroho

totok martono
SEPI PENGUNJUNG : Plaza Lamongan yang dibangun menggunakan dana puluhan milyar dari APBD terkesan mubazir.


SuaraBanyuurip.com - Totok Martono

 

Lamongan - Pembangunan pasar  modern di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur,  tak mampu menggerakan denyut nadi perekonomian. Rata-rata pasar yang dibangun dengan dana ratusan milyar yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja (APBD) tersebut dijauhi pedagang sehingga tidak ada pembeli yang datang.

Baca Lainnya :

    Sejumlah pasar modern yang keberadaannya mubazir itu diantara pasar agrobis semando di Desa Plaosan, pasar baru babat dan Lamongan Plaza. Kondisi ketiga pasar tersebut selama bertahun-tahun sepi. Kios dan lapak yang disiapkan untuk pedagang tidak ada yang menempati. Dampaknya, jumlah pengunjung yang datang relatif sepi.

    Dipasar Agrobis Semando, mislanya,  diharapkan menjadi sentra agrobis di Bumi Sunan Drajad-sebutan lain Kabupaten Lamongan- sejak diresmikan Bupati Masfuk 27 juli silam. Walau pasar ini sudah banyak mengundang pengunjung namun masih jauh dari target yang diharapkan.

    Baca Lainnya :

      Puluhan kios dipasar itu tampak masih kosong. Sedang para pedagang lebih banyak duduk-duduk karena sepinya pembeli. Padahal untuk setiap kios harga jualnya mencapai Rp75 juta – Rp250 juta.

      “Iya Mas, sepi sekali jualan disini. Nggak mesti lakunya,” kata Cintya pedagang sepatu.

      Dia mengaku tak mengetahui penyebab sepinya pengunjung di pasar ini.  Karena untuk harga sepatu yang dibandrolnya  sudah relatif murah dibanding dipasar lainya.

      “Saya kulak dari magetan. Karena itu berani menjual sangat murah. Tapi gak tahu kenapa kok ya masih sepi pembeli,” ungkapnya.

      Dari pantauan SuaraBanyuurip, pasar agrobis yang dibangun dengan dana Rp52 milyar itu justru berubah meriah saat malam hari. Bila malam menjelang, di pasar ini banyak dijumpai warung kopi (Warkop) yang tidak pernah sepi pembeli yang mayoritas kaum laki-laki.

      Karena ditengarai mayoritas pemilik warkop lesehan tersebut memberikan ‘servis’ lebih berupa wanita-wanita cantik yang akan menemani para penikmat kopi. Pasar agrobis pun telah populer dengan istilah kopi pangkon.

      Tidak jauh dari pasar agrobis, pasar babat nasibnya juga tidak jauh berbeda. Pasar yang dana pembangunannya mencapai Rp55,225 milyar tersebut justru ditinggalkan oleh pedagang lama. Para pedagang yang seharusnya dimanjakan dengan bangunan pasar yang lebih representatif malah memilih menggelandang menjadi Pedagang Kaki Lima (PKL) karena harga jual kios yang setinggi langit.  Untuk kios berukuran  2X2 meter saja harganya mencapai Rp14,7 juta.

      Yang tak kalah ironis adalah Lamongan Plaza. Pasar yang menempati lahan seluas 7.864 meter persegi itu merupakan satu-satunya pusat perbelanjaan modern di Lamongan. Namun kondisi pasar juga sepi. Padahal pasar megah itu dibangun dengan dana sebesar Rp62,97 milyar dari APBD Lamongan tahun 2008, 2009, 2010.

      Lamongan Plaza dengan tiga lantai ini itu terdiri dari 280 unit pertokoan yang terdiri dari 144 berbentuk stan, 126 konten terbuka, dua area dept store satu area food court saat ini hanya tinggal 10 kios yang buka.

      Sepinya beberapa pasar modern di Lamongan tersebut, menurut anggota Komisi C DPRD Lamongan, Ashari, dikarenakan tidak adanya perencanaan yang matang dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) sebelum melaksanakan pembangunan.

      “Pemkab terkesan grusa-grusu dan memaksakan kehendak, akibatnya, setelah jadi (bangunan pasar modern) semuanya sepi. Hasil pembangunan seakan mubazir," tegas Ashari.

      Sementara itu, Kepala Bagian (Kabag) Humas dan Informasi dan Komunikasi (Infokom) Pemkab Lamongan, M.Zamroni mengungkapkan, pembangunan beberapa pasar modern itu bertujuan mengangkat kemajuan daerah sekaligus mendongrak kesejahteraan masyarakat.  (tok)

       


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more