Pembangunan Daerah di Bojonegoro Perlu Libatkan Perempuan dan Disabilitas

Kamis, 13 Januari 2022, Dibaca : 241 x Editor : nugroho

joko kuncoro
DISKUSI : Peserta FGD menyampaikan perlunya keterlibatan perempuan dan disabilitas dalam pembangunan di Bojonegoro.


SuaraBanyuurip.com -  Joko Kuncoro

Bojonegoro - Pembangunan daerah di Bojonegoro, Jawa Timur perlu melibatkan partisipasi perempuan dan disabilitas. Hal itu mengemuka dalam diskusi partisipasi komunitas perempuan, yang digelar di EJSC Bakorwil, Rabu (12/1/2021).

Diskusi melibatkan perwakilan Komunitas Suara Perempuan Penggerak, poverty resource center initiative (PRCI), BPD Perempuan, perkumpulan penyandang disabilitas Indonesia (PPDI) Bojonegoro, dan beberapa jurnalis di Bojonegoro.

Baca Lainnya :

    Direktur Bojonegoro Institute (BI) Aw Syaiful Huda mengatakan, pembangunan daerah terutama di Bojonegoro perlu melibatkan partisipasi perempuan dan disabilitas. Karena saat ini keterlibatan mereka masih sangat minim.

    "Sebenarnyaitu telah tercantum dalam berbagai regulasi, seperti UU No. 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, Peraturan Pemerintah No 45 tahun 2017 tentang Partisipasi Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Pemerintah, Permendagri No 86 tahun 2017 dan lainnya," kata Awe sapaan akrabnya.

    Baca Lainnya :

      Langkah keterlibatan ini mulai dari Musrenbang desa, Musrenbang Kecamatan, Musrenbang Kabupaten, hingga penyusunan Rencana Kerja perangkat daerah. Sayangnya, saat ini tingkat kedatangan mereka minim.

      "Sehingga kesenjangan sosial berbasis gender masih terjadi dalam beberapa sektor pembangunan," jelasnya.

      Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 menunjukkan, rata-rata lama sekolah perempuan di Bojonegoro masih berada di 6,80 tahun, sedangkan rata-rata lama sekolah laki-laki sudah mencapai di 7,82 tahun. Begitu pula dari dimensi ekonomi yang dilihat dari rata-rata pengeluaran perempuan di Bojonegoro tahun 2020 hanya sekitar Rp 8,5 juta per orang per tahun, sementara rata-rata pengeluaran laki-laki sudah mencapai Rp 14,9 juta per orang per tahun.

      “Rata-rata lama sekolah perempuan di Bojonegoro sekitar 6,51 tahun, masih di bawah laki-laki. Tingkat pendidikan dan pengetahuan perempuan yang masih tertinggal dibandingkan laki-laki,” jelasnya.

      Sementara, Pegiat komunitas Suara Perempuan Penggerak Komunitas (SPeAK), Nita Puji menambahkan, selain berpartisipasi hadir, kelompok perempuan dan penyandang disabilitas di Bojonegoro perlu memanfaatkan kanal-kanal aspirasi dan pengaduan publik yang telah tersedia.

      "Bahwa di Bojonegoro sebenarnya sudah ada berbagai media atau kanal aspirasi dan pengaduan publik, baik dalam bentuk online maupun offline," jelasnya.

      Diantaranya layanan aspirasi dan pengaduan online rakyat (LAPOR), dan SMS Malowopati. Sedang, yang offline, di antaranya Forum Musrenbang Khusus Perempuan, Sambang Desa dan Cangkrukan bareng Buk’e.

      Nita berharap, Pemkab Bojonegoro merespon dan menindaklanjuti semua aspirasi dan pengaduan publik yang sudah tersampaikan melalui berbagai kanal tersebut. Di samping itu juga ditunjang pengelola yang memiliki kapasitas mumpuni, responsif, serta alur komunikasi yang interaktif.

      Sementara, Lilis Aprilliati, Budget Advocacy Officer Program SPEAK, mengungkapkan bahwa IDEA bersama Bojonegoro Institute yang didukung Hivos dan Uni Eropa, selama ini telah melakukan berbagai bentuk kegiatan untuk mendorong peningkatan kapasitas, edukasi, pendampingan dan pemanfaatan kanal aspirasi dan pengaduan publik di Bojonegoro oleh komunitas perempuan dan disabilitas.

      Perempuan mantan aktivis KOPRI (Korp Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau PMII Putri) ini juga menjelaskan, komunitas perempuan dan disabilitas di Bojonegoro telah melakukan uji akses terhadap efektifitas penggunaan kanal aduan.

      "95% aduan yang dikirimkan mendapatkan respon, sehingga penting bagi warga terutama kelompok perempuan dan disabilitas untuk memanfaatkan kanal tersebut,” jelas Lilis.(jk)


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more