Pertamina Dinilai Tak Hargai Pemdes Kilang Tuban

Senin, 24 Januari 2022, Dibaca : 746 x Editor : teguh

Suarabanyuurip.com/tbu
Unjuk rasa warga ring 1 proyek Kilang Tuban. Mereka menuntut diprioritaskan dalam rekrutmen pekerja.


SuaraBanyuurip.com - Teguh Budi Utomo

Tuban - Pertamina dalam pembangunan kilang minyak Grass Root Refinery (GRR) Tuban di wilayah Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jatim dinilai ingkar janji kepada warga, dan tak menghargai pemerintah desa (Pemdes) terdampak proyek.

Hal itu mengemuka saat terjadi aksi unjuk rasa dari paguyuban pemuda dari enam desa terdekat proyek Kilang Tuban, Senin (24/1/2022). Desa tersebut adalah Desa Wadung, Sumurgeneng, Mentoso, Rawasan, Beji, dan Desa Kaliuntu di wilayah Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jatim.

Baca Lainnya :

    Dalam aksinya massa pendemo menuntut prioritas dipekerjakan, lantaran hal tersebut sudah dijanjikan saat pembebasan lahan di desanya. Termasuk rekrutmen tenaga keamanan (Security) yang saat ini dilakukan Pertamina, melalui PT PTC yang dijadikan mitra perekrutan.

    "Selain rekrutmen Security memprioritaskan warga sekitar,  kami menuntut BPJS bagi pekerja proyek kilang," kata kordinator aksi, Suwarno.

    Baca Lainnya :

      Warga menduga, proses perekrutan tenaga Satpam oleh perusahaan rekanan Pertamina tidak memprioritaskan warga dari enam desa terdampak. Oleh karena itu mereka menuntut agar PT PTC dikeluarkan.

      Sedangkan perekrutan tenaga sekurity untuk kepentingan proyek kilang GGR Tuban, saat ini masih berlangsung.

      Kades Wadung, Sasmito, menyatakan, cara berkomunikasi pegawai Pertamina yang ditugaskan di proyek kilang Tuban tidak menghargai Pemdes. Ia minta mereka memperbaiki koordinasi dengan masyarakat dan Pemdes.

      "Khususnya dalam rekrutmen security untuk memprioritaskan warga lokal di enam desa," tegas Sasmito.

      Ia tambahkan, Pemdes dari desa ring 1 kilang bersama Forkopimca Jenu, dan warga lokal telah berkomitmen menyukseskan Program Strategis Nasional (PSN) Kilang Tuban. Program ini jangan dirusak oleh komunikasi yang buruk (pegawai Pertamina di Tuban).

      "Selama ini Kades menjadi bemper kilang, karena terkesan diadu domba ketika ada lowongan pekerjaan," kata Sasmito.

      Ketika ada kebutuhan tenaga kerja yang bisa dikerjakan warga lokal, para Kades dari enam desa terdampak, meminta agar  dikomunikasikan dulu dengan Pemdes. Baru kemudian dilanjutkan ke tahap sosialisasi kepada warga secara terbuka.

      "Bila ada miskomunikasi soal tata cara tes, maka Kades menjadi sasaran dan dicurigai warga," papar Kades Beji, Arifin.

      Ia contohkan, dalam tes security ada yang tanda tangan, dan ada yang tidak. Bagi peserta yang tidak tanda tangan langsung mencurigai kalau yang tanda pesanan Kades.

      Selama ini, ungkap Kades Arifin, para Kades tertekan karena banyaknya tuntutan, dan terus berusaha mendamaikan warga.

      Terkait seleksi petugas security yang disoal warga, petugas Pertamina untuk Kilang Tuban, Solikin, menyatakan, belum bisa memberi jawaban karena masih dikomunikasikan dengan manajemen di Jakarta. Ia meminta waktu dua minggu untuk menyelesaikan masalah  tersebut.

      "Kami target dua minggu rekrutmen security selesai,  sekarang belum dapat memberi keputusan," katanya. (tbu)


Show more