Pertamina EP Cepu Dukung Rencana Pemerintah Turunkan Harga Gas Industri

Selasa, 11 Februari 2020, Dibaca : 274 x Editor : nugroho

Ist
Lapangan Gas JTB yang dikelola Pertamina EP Cepu, sekarang ini sedang tahap pembangunan EPC-GPF oleh PT Rekind.


SuaraBanyuurip.com - d suko nugroho

Bojonegoro - Rencana pemerintah menurunkan harga gas industri telah diketahui Pertamina EP Cepu (PEPC). Penurunan harga gas industri sesuai amanat Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2016 tentang Penetapan Harga Gas Bumi maksimal USD 6/MMBTU (Million Metric British Thermal Unit).

"PEPC aware ada rencana Pemerintah itu," kata Vice President Legal & Relation PT Pertamina EP Cepu, Whisnu Bahriansyah kepada suarabanyuurip.com, belum lama ini. 

Baca Lainnya :

    Kebijakan harga gas saat ini masih dalam pembahasan di pemerintah, yakni Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

    "Sebagai anak perusahaan Pertamina, PEPC akan tetap mendukung kebijakan Pemerintah," ucap Whisnu.

    Baca Lainnya :

      Catatan suarabanyuurip.com, Lapangan Gas JTB memiliki cadangan 2,5 triliun kaki kubik (TCF) dengan target produksi 192 Juta Standar Kaki Kubik per Hari (Million Standard Cubic Feet per Day/ MMSCFD) pada 2021. Produksi akan berlangsung selama 25 tahun. 

      Dari produksi tersebut sebanyak 100 MMSCFD dibeli Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan harga US$ 7,6/MMBTU. Sedangkan sisanya akan dijual Pertamina untuk memenuhi kebutuhan industri di wilayah Jatim dan Jateng.

      Gas JTB yang dibeli PLN nantinya dialirkan melalui pipa transmisi Gresik-Semarang (Gresem) untuk pembangkit listrik di Tambaklorok, Semarang, Jawa Tengah. Pembelian gas oleh PLN ini telah tertuang dalam Head of Agreement (HoA) dengan jangka waktu 30 tahun dari 2020 sampai 2050.

      Sebelumnya, pemerintah sedang menyiapkan tiga opsi guna menurunkan harga gas untuk industri. Pertama, mengurangi bagian negara serta efisiensi penyaluran gas melalui pengurangan porsi Pemerintah dari hasil kegiatan KKKS hulu minyak dan gas bumi (migas) dan penurunan biaya transmisi di wilayah Aceh, Sumut, Sumbagsel, Jawa Barat dan Jawa Timur.

      Opsi kedua, mewajibkan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) untuk memenuhi kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) gas. Nantinya, Pemerintah akan membagi gas ke industri-industri yang strategis dan industri pendukung, namun tetap mengacu pada perdagangan yang wajar.

      Ketiga, memberikan kemudahan bagi swasta mengimpor gas untuk pengembangan kawasan-kawasan industri yang belum memiliki atau terhubung dengan jaringan gas nasional.

      Menteri ESDM Arifin Tasrif sebelumnya memastikan dari ketiga opsi tersebut tidak akan merugikan KKKS.  

      "Kebijakan baru mengenai harga gas ini tidak akan mengurangi porsi daripada kontraktor," tandas Arifin dilansir dari website resmi Kementerian ESDM.

      Data di Kementerian ESDM, beberapa industri sudah mencapai harga di bawah 6 dollar AS/MMBTU. Ketiga industri yaitu Pupuk, dengan perincian: PKT1-4 sebesar US$ 3,99 per mmbtu, Pusri US$ 6 per mmbtu, PIM US$ 6 per mmbtu dan Kujang US$ 5,84 per mmbtu. Selanjutnya, petrokimia yaitu PKG sebesar US$ 6 per mmbtu, KPI US$ 4,04 per mmbtu dan KMI US$ 3,11 per mmbtu, serta PAU US$ 4 per mmbtu. Juga, baja yaitu Krakatau Steel US$ 6 per mmbtu.

      Sedangkan industri yang harga gasnya belum disesuaikan adalah keramik US$ 7,7 per mmbtu, kaca US$ 7,5 per mmbtu, sarung tangan karet US$ 9,9 per mmbtu, serta oleokimia US$ 8-10 per mmbtu. 

      Akibat masih tingginya harga gas selama ini menyebabkan PT Pupuk Kujang Cikampek membatalkan rencananya membangun pabrik di Bojonegoro dengan memanfaatkan gas dari Jambaran-Tiung Biru (JTB), di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, yang dikelola Pertamina EP Cepu. 

      Saat itu, Pertamina  menawarkan gas JTB sesuai rencana pengembangan (Plan of Development/PoD) tahun 2012 adalah USD 8 dengan eskalasi dua persen. Sedangkan PT Pupuk Kujang Cikampek (PKC) sempat menawar harga gas  sebesar US$ 7 per MMBTU dengan eskalasi 2% per tahun sejak on strem yakni 2019.(suko)



      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more