Peta Kekayaan Bojonegoro

Sabtu, 22 Agustus 2020, Dibaca : 2201 x Editor : nugroho

Ist
Peta Bojonegoro.


                         Oleh : Kajar Alit Djati


SECARA sederhana, Bojonegoro terbagi menjadi dua wilayah. Yakni wilayah utara berada dekat sungai Bengawan Solo, dan wilayah selatan berupa perbukitan dan hutan. Wilayah utara adalah desa-desa yang dilewati Bengawan Solo, yang punya lahan pertanian subur. Padi bisa panen sampai tiga kali. Kebutuhan air selalu tercukupi.

Sedang wilayah selatan yang perbukitan mempunyai ciri-ciri tanah kering namun penghasil kayu jati terbaik. Wilayah selatan juga mempunyai beberapa lapangan minyak dan gas bumi yang memberi sumbangan besar bagi pendapatan daerah. 

Baca Lainnya :

    Selain kekayaan alam tersebut, Kabupaten Bojonegoro juga mempunyai kekayaan sejarah, budaya, dan manusianya. Bojonegoro punya peradaban tua, sehingga tak heran jika di kabupaten ini banyak ditemukan fosil dan moluska. Di Bojonegoro juga banyak ditemukan gua hunian, situs peninggalan era Majapahit hingga Mataram Islam.  

    Berkah Bengawan Solo

    Baca Lainnya :

       Kita perlu melihat sungai Bengawan Solo dari berbagai sisi. Sungai terpanjang di pulau Jawa ini jangan hanya dipandang sebagai sungai yang melintasi 15 kecamatan, dari Ngraho di sisi hulu hingga Baureno di sisi hilir. Akan tetapi Bengawan Solo menjadi jalur utama penentu ekonomi di masa lampau. Meski kini perannya berkurang, tapi peran bengawan solo untuk ekonomi masyarakat masih cukup tinggi.

      Selain untuk pertanian, Bengawan Solo menghadirkan bentangan sejarah yang tak akan habis untuk dikaji. Dulu, sungai ini menjadi satu-satunya jalur transportasi untuk ekspor. Kayu jati Bojonegoro yang terkenal kualitasnya dikirim ke Gresik melalui jalur sungai. Banyak dermaga besar yang dimanfaatkan kapal-kapal pengangkut kayu. Akan tetapi, setelah adanya jalur kereta api tahun 1850 an, jalur transportasi air tergantikan.   

      Kini, fungsi Bengawan Solo terbesar adalah di bidang pertanian. Masyarakat sekitar Bengawan memanfaatkan air sungai untuk mengairi sawahnya terutama untuk tanaman padi. Sehingga petani sekitar bengawan bisa panen tiga kali dalam setahun. Meski di musim hujan berpotensi terkena banjir, tapi petani itu tak mengurangi semangat untuk menanam tiga kali dalam setahun.

      Sungai Bengawan Solo juga menjadi ‘ladang’ mata pencaharian banyak orang. Mulai orang memancing, mencari benda-benda kuno, mengeruk pasir, hingga penyedotan air untuk berbagai keperluan industri. Oleh karena itu, keberadaan sungai Bengawan Solo di Bojonegoro harus dipandang sebagai berkah yang harus dijaga kelestariannya karena menyangkut kehidupan banyak orang. 

      Sumber Migas

       Sebagai daerah dengan peradaban tua, tanah Bojonegoro menyimpan jutaan fosil. Tak heran jika di Bojonegoro banyak ditemukan sumber minyak dan gas bumi. Yang terbesar adalah lapangan minyak Banyuurip yang telah menghasilkan pendapatan cukup besar, dan lapangan gas Jambaran yang kini sedang tahap ekspolitasi dan diperkirakan produksi tahun 2021. Selain itu ada beberapa lapangan minyak lain, seperti lapangan Sukowati dan Kedungkeris. 

      Bojonegoro juga mempunyai ladang minyak tradisional yang berada di Kecamatan Kedewan. Sumber minyak ini menjadi penopang ekonomi masyarakat sekitar. Kini, lapangan minyak tua ini tak sekadar dikelola secara ekonomi saja melainkan juga dipadukan sebagai kawasan wisata geopark yang menjadi kekayaan Bojonegoro.

      Migas menjadi sumber pendapatan Kabupaten Bojonegoro. Tahun 2018 menjadi puncak pendapatan dari migas yang mencapai Rp 2,27 triliun. Dana Bagi Hasil (DBH) Bojonegoro yang melimpah menjadi berkah tersendiri bagi daerah. Meski tak sedikit kekhawatiran terkait pengelolaan keuangan daerah yang berujung korupsi. 

      Pendapatan dari sektor migas tentu saja tidak hanya DBH melainkan juga dari sumber-sumber lain, diantaranya dari Participating Interest (PI) atau penyertaan modal. Selain itu, perputaran ekonomi dari migas juga berasal dari dana CSR serta proyek-proyek fisik yang dilakukan oleh kontraktor migas atau perusahaan-perusahaan pendukung sektor migas.

      Artinya, dengan kekayaan alam migas yang melimpah, Bojonegoro bisa menjadi pusat ekonomi di masa depan. Karena pendapatan daerahnya cukup besar dan hanya bisa dikalahkan oleh Kota Surabaya. Dengan pendapatan besar, Bojonegoro harus mampu mengelolanya dengan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan masyarakat. 

      Sejarah dan Budaya

       Kekayaan daerah Bojonegoro non alam ini cukup besar. Mengingat Bojonegoro memiliki peradaban tua, maka simpanan kekayaan sejarah dan budaya ini tak ternilai. Sayangnya, kajian-kajian sejarah dan budaya yang mengeksplore Bojonegoro masih tak semarak bidang-bidang lain seperti kajian ekonomi dan pariwisata.

      Meski demikian, dalam beberapa tahun terakhir ini kesadaran untuk eksplorasi budaya dan sejarah mulai tampak. Penelusuran sejarah daerah, potensi kuliner khas daerah, seni tari khas daerah dan berbagai potensi budaya daerah terus digali. Sejumlah festival digelar oleh Pemerintah Daerah untuk mendorong semarak budaya Bojonegoro. 

      Tahun 2019 lalu digelar Thengul International Folklore Festival (TIFF) yang mengenalkan tari thengul khas Bojonegoro. Dalam festival tersebut juga mengenalkan sego buwuhan yang kemudian meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI).  Berbagai festival juga digelar oleh Pemkab, seperti festival Bengawan Solo yang juga berusaha melestarikan sungai tersebut. 

      Bojonegoro dalam perspektif sejarah dan budaya memang harus terus dikaji, karena itu akan makin mengukuhkan Bojonegoro sebagai daerah dengan peradaban tua. Jika mengenalkan Bojonegoro ke dunia luar sebagai daerah kaya peninggalan sejarah, perlu didukung narasi dan data yang valid.  

      Mendorong Sinergisitas

      Apa yang saya tulis di atas hanyalah sekedar gambaran singkat untuk memudahkan mengenal Bojonegoro. Harapannya, dengan mengetahui peta kekayaan Bojonegoro, baik alam maupun non alam, maka stakeholder yang ada mampu menjadikannya pijakan untuk menentukan masa depan Bojonegoro. Jangan sampai kebijakan yang bertujuan menyejahterakan masyarakat Bojonegoro tidak dilandasi pemikiran untuk mengoptimalkan potensi yang ada.

      Tugas pemerintah daerah adalah menjadi dirijen irama pembangunan daerah. Pemerintah daerah harus makin memahami daerahnya agar mampu memaksimalkan potensinya. Salah satunya adalah mensinergikan semua potensi. Sinergi tidak selalu harus dimaknai berkolaborasi secara langsung, tapi juga bisa secara tidak langsung.

      Sekedar contoh, Kabupaten Bojonegoro dikenal mempunyai cerita rakyat Anglingdharma. Cerita itu harus dimanfaatkan sebagai kekayaan yang bisa dieksplore untuk kebutuhan wisata religi hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat. Misal dibikin batik motif Anglingdharma yang khusus untuk pajangan atau selendang.

      Selain Anglingdharma, Bojonegoro juga punya tokoh yang bisa dilacak dalam sejarah. Yakni Sasradilaga yang menjadi salah satu panglima perang Pangeran Diponegoro. Sasradilaga kini menjadi nama jembatan yang membelah sungai Bengawan Solo. Sosok ini harus terus dikenalkan kepada masyarakat, digaungkan namanya di berbagai bidang seperti dalam bidang seni hingga bidang ekonomi. 

      Sebagai penutup tulisan, masyarakat dan pemkab Bojonegoro perlu bersinergi untuk mengeksplore potensi Bojonegoro menjadi segala sesuatu yang bisa menyejahterakan masyarakat. Karena apapun yang dilakukan pemkab, seharusnya bermuara pada tujuan kesejahteraan, bukan sebaliknya.  

      Kajar Alit Djati adalah penulis dan pecinta sejarah lokal. 



                



      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more