Petani Tembakau Tersenyum, Petani Cabai Menjerit

Rabu, 29 Juli 2020, Dibaca : 233 x Editor : samian

Samian Sasongko
SUBUR : Parno Suwanto sedang merawat tanaman tembakaunya yang tumbuh subur, karena cuaca alam mendukung.


SuaraBanyuurip.com - Samian Sasongko

Bojonegoro - Cuaca alam, dan naik turunnya harga hasil panen tak selalu membuat keseluruhan para petani bahagia. Acap kali juga menjadikan sebagaian petani menjerit, dan tersenyum. Hal ini seperti dialami petani sekitar lapangan Gas Unitisasi Jambaran-Tiung Biru (JTB).

Seorang petani tembakau, Parno Suwanto, mengatakan, tahun ini cuaca alam cukup mendukung membuat petani tembakau tersenyum. Karena acap kali masih turun hujan, dan sumber air belum mengering. Sehingga dapat meringankan beban untuk merawat tanaman tembakau.

Baca Lainnya :

    "Mulai tanam pada bulan Juni, sekarang sudah usia sebulan pertumbuhan tembakau cukup bagus, karena kebutuhan pupuk maupun air tercukupi," kata Parno Suwanto, kepada Suarabanyuurip.com, disela-sela merawat tembakaunya, Rabu (29/7/2020).

    Petani Desa Butoh, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, ini menjelaskan, luas lahan yang ditanami tembakau seluas 8000 meter persegi (M2). Dengan bibit tambakau yang ditanam sebanyak 16 ribu. Diperkirakan pada awal bulan September daun tembakau sudah dapat dipetik untuk dijual dan dirajang.

    Baca Lainnya :

      "Saya tanam tembakau jawa, dan tidak jual daun melainkan rajangan," ujarnya.

      Pria yang juga Perangkat Desa Butoh ini berharap, harga daun tembakau maupun rajangan tahun ini dapat meningkat. Tahun lalu harga daun per kilogram (Kg) Rp2000 sampai Rp3000. Sedangkan harga rajangan rata-rata Rp30.000/Kg.

      "Semoga tahun ini harganya bisa naik melebihi tahun lalu. Jika harga hasil pertanian naik tentunya perekonomian petani juga tambah meningkat," imbuhnya.

      Berbeda dialami petani cabai diring satu lapangan Gas JTB, Dasir. Petani
      yang berdomisili di Desa Pelem, Kecamatan Purwosari, ini mengungkapkan, turunnya harga cabai yang cukup drastis tahun ini membuatnya menjerit.

      "Semula harganya Rp10.000 an per kilogram. Sekarang tinggal Rp5000/Kg. Terpaksa tetap dijual dari pada membusuk. Mudah-mudahan harga kembali naik lagi biar petani tidak semakin merugi," tandasnya.(sam)

       


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more