Refleksi 10 Tahun Perda Konten Lokal : Memuliakan “Tamu”

Dirgahayu Orang-orang Merdeka

Senin, 16 Agustus 2021, Dibaca : 1049 x Editor : nugroho

Dok.Gus Ris
Agus Susanto Rismanto.


                     Oleh : Gus Ris

Akhir-akhir ini banyak menerima pesan WhatsApp  (WA) maupun dari aplikasi  media sosial lainya di akun pribadi. Hal berkaitan dengan maraknya para ekpstariat (tenaga kerja luar Bojonegoro) yang bekerja di sektor migas maupun mengerjakan proyek APBD. Di sektor migas, biasanya pekerjaan berskala besar dikerjakan kontraktor-kontraktor  dari kota besar, beserta dengan tenaga kerjanya. Kontraktor Bojonegoro biasanya hanya sekedar nge –sub dengan skill yang terbatas. Tetapi sejak 2019 – 2021 fenomena di Proyek Migas Blok Cepu dapat dijumpai di proyek –proyek yang anggarannya berasal APBD Bojonegoro. Syahdan bukan hanya proyek besar saja yang dikelola kontraktor dari luar, pekerjaan di bawah 200 juta sudah biasa dikerjakan para ekspatriat.

Pesan – pesan itu meminta review atas fenomena itu,  mengingat saya sebagai salah satu inisiator pembebasan lahan Blok Cepu dan sebagai Ketua Pansus Perda Konten Lokal. Salah satu opsi /syarat percepatan pembebasan lahan Blok Cepu yang sempat mundur beberapa tahun adalah melibatkan konten /masyarakat lokal dalam setiap kegiatan di Blok Cepu. Hal ini untuk menghindari gejolak sosial atas beralihnya status lahan/mata pencaharian dari pertanian menjadi lokasi eksploitasi migas. Begitu juga dengan pengelolaan APBD yang akan ditompang dari bagi hasil migas (DBH)  harus mengakomodasi mayoritas masyarakat/badan usaha/konten lokal Bojonegoro kecuali yang high technology tetapi dengan syarat tetap harus mengakomodasi masyarakat Bojonegoro dalam rangka alih tehnologi.

Baca Lainnya :

    Almarhum yang saya cintai  Bapak H.M Santoso, Bupati Bojonegoro periode 2003- 2008 dalam satu kesempatan, diakhir tahun2005,  “Dik kita... , masyarakat Bojonegoro tidak boleh nasibnya seperti Arun Aceh. Gasnya habis, rakyatnya tidak sejahtera, tidak dapat bekerja apalagi alih tehnologi, awakkmu kudu ndang mulai mikir, diapakno Blok Cepu kedepan,” begitu beliau pernah berpesan, sehingga beberapa saat kemudian teman-teman legislatif dan eksekutif diajak melihat secara langsung kondisi Arun Aceh pasca penambangan.  

    Begitu juga Kang Yoto, kawan dan juga rival berdebat saya (Bupati Bojonegoro 2008- 2014) di bulan Oktober 2010, saat beliau mengikuti LEMHANAS Jakarta menyempatkan telephon, “Mas ki kudu segera dibuatkan aturan biar masyarakat Bojonegoro tidak jadi penonton, tidak terjadi gejolak sosial, yang lebih penting jangan sampai orang Bojonegoro dicuri kesempatan sejahtera nya karena keterbatasaan-keterbatasan, harus ada proteksi, segera. Kalau belum bisa Perda minimal Perbup dulu, karena eksploitasi Blok cepu segera akan dimulai.”

    Baca Lainnya :

      Maka beberapa minggu setelah saya berdiskusi dengan teman sekerja, juga dari kalangan media, munculah inisiasi Perbup tentang Konten Lokal yang kemudian menjadi Perda ditahun 2011. Meskipun dalam pelaksanaannya tidak mulus, dan juga ditentang penguasa dan pengusaha Jakarta, tapi Perda ini sebuah itikad baik memproteksi dari gempuran para ekpatriat yang akan meminggirkan kepentingan lokal, yang akan berimbas pada situasi sosial dan alasan gangguan kamtibmas.

      Setelah APBD Bojonegoro ditahun 2020 -2021 diatas RP. 6 Triliun lebih , juga ekploitasi Blok cepu bertambah ke Jambaran Tiung Biru, rasa-rasanya yang dulu kita takutkan dan antisipasi  mulai terjadi. Data yang saya miliki terbatas, tetapi jika indikator untuk penunjukan langsung ( dibawah 200 juta rupiah) proyek APBD Bojonegoro bisa dikerjakan orang /badan usaha dari luar Bojonegoro, maka pilihan kesimpulan surveynya : Ekspatriat Dominan atau Sangat Dominan !!

      Apakah situasi seperti ini salah ? Saya tidak akan memberikan opini subyektif, karena sebagai orang yang berbasic praktisi hukum, tentu segala sesuatu yang tidak taat aturan akan menimbulkan potensi penyimpangan dengan motif dan modus yang beragam !!

      Tetapi hari-hari ini, setelah 11 tahun mengesahkan Perda Konten Lokal, pikiran protagonis dan antagonis berseliweran dikepala. Sehingga muncul judul Memuliakan “Tamu” di atas. Beberapa kali mendengar ceramah Gus Baha, “Sahabat nabi itu, kalo ingin memuliakan tamunya nabi, itu sangat dramatis. Agar tamunya tidak tahu kalo dipiringnya sendiri tidak ada makanan, lampu rumahnya dimatikan, sehingga tamu Rasulallah jangan sampai merasa tidak enak hati makan sendirian, sementara dipiring tuan rumah tidak ada makanannya.”  Dramatis !! Menutupi kemisikinannya sendiri demi memuliakan tamu. Setelah mendengar ceramah-ceramah serupa saya jadi merasa gundah,  karena pernah iri, marah, mencaci  dan menghujat pada ekspatriat dan pengusaha yang membawa kendaraan-kendaraan  besar proyek lalu-lalang, mobil-mobil mewah, pekerja-pekerja borong kerja, sementara teman-teman, dan tetangga kesulitan dapat pekerjaan.

      Kini pikiran saya berubah, saya memahami mereka adalah tamu yang harus kita muliakan. Para ekspatriat itu sudah bertaruh modal, pasang badan meninggalkan keluaraga jauh-jauh dari Nusa Tenggara, Surabaya, Solo, Yogya, Jakarta dan kota besar lainnya hanya untuk melayani “wong “ Bojonegoro.  Mereka yang siang malam bekerja memperbaiki jalan, membangunkan jembatan, memperbaiki got-got yang kalo hujan jadi banjir. Mereka yang rela berdebu membawa material-material berat dari luar kota untuk melayani dan menyenangkan orang Bojonegoro sang tuan rumah.  Harusnya kita harus meniru sahabt nabi tersebut, kita harus muliakan para tamu kita. Kita sembunyikan lapar kita, kita beri senyum cerah setiap bercengkrama, kiat berikan sambutan –sambutan padatamu-tamu kita, yang sudah berlelah –lelah bekerja di Bojonegoro demi “nglenyerno” jalan Bojonegoro.

      Mereka-mereka ini meski bukan pengusaha miskin, kita tetap harus kasihan dan menghargai pengorbanan mereka, membawa  puluhan bahkan ratusan kendaraan proyek dan alat berat yang harus dibayar cicilannya setiap bulan, berapa modal  yang harus ngutang – bayar bunga di Bank untuk nomboki dulu proyek proyek ini.

      Looh....Jadi Perda Konten Lokal terus bagamina ?

      Sabar, saat ini sepertinya para tamu-tamu kita lagi bener-bener  dan sangat butuh uang dari APBD kita. Mungkin ada sesuatu yang kita tidak tahu, kenapa mereka begitu butuh uang APBD Bojonegoro yang berasal dari DBH Migas, hasil dari pengorbanan  para petani kita di Mojodelik, Gayam, Katur, dan sekitarnya yang rela melepaskan lahannya untuk ekploitasi Migas yang kini menghasilkan uang triliunan demi NKRI dan  “wong Bojonegoro.”

      Jadi bersabarlah saudara-saudara , karena Allah SWT bersama orang-orang yang bersabar bukan bersama orang pemarah. Kuatkan hati dan keluarga kalau sampai hari ini masih jadi penonton, karena para “tamu-tamu” yang bekerja tak kenal lelah 2 tahun ini lebih membutuhkan. Rejeki tidak akan pernah tertukar, Tuhan tidak akan menukarkan yang mestinya kita terima.

      Dan jangan ikut-ikut berbuat dholim, karena janji Allah pasti ditepati !

      Bar Nulis iki kok rasane kudu misuh !!!

      Penulis adalah mantan Anggota DPRD Bojonegoro periode 2009-2014

       

       


Show more