Rusia Jamin 60 Persen Crude Oil Kilang Tuban

Rabu, 08 Juli 2020, Dibaca : 1705 x Editor : teguh

suarabanyuurip.com/tbu
Ilustrasi : Kilang di TPPI Tuban. PT Pertamina bersama perusahaan Rusia, Rosneft, bakal membangun kilang di Jenu, Tuban.


SuaraBanyuurip.com - Teguh Budi Utomo

 

Tuban – Rekan bisnis PT Pertamina (Persero) Tbk dalam proyek Grass Root Refinery (GRR)   Kilang Tuban, perusahaan milik negara Rusia, PJSC Rosneft Oil Company, menjamin crude oil (minyak mentah) 60 persen kebutuhan produksi kilang di wilayah Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Baca Lainnya :

    Sedangkan kilang dengan teknologi tercangggih di jagad tersebut bakal mengolah 300.000 barel per hari (Bph) minyak mentah. Dari jumlah itu badan usaha milik negeri Beruang Merah tersebut menjamin 180.000 Bph.

    “Skema kebutuhan hingga 60 persen minyak mentah oleh Rosneft, menjadi bagian dari kerjasama investasi antara Pertamina dan Rosneft dalam membangun Kilang Tuban,” kata Project Cordinator GRR Tuban, Kadek Ambara Jaya, saat diskusi perkembangan proyek Kilang Tuban dengan jurnalis di Tuban, Rabu (08/07/2020).

    Baca Lainnya :

      Kadek Ambara Jaya yang kala didampingi sejumlah tim proyek Kilang Tuban menambahkan, seluruh kebutuhan crude oil untuk produksi kilang dengan investasi USD 16 miliar, setara  Rp225 triliun, tersebut dari impor. Sebanyak 60 persennya didatangkan dari ladang Minyak dan Gas Bumi (Migas) yang dikelola oleh Rosneft, dengan kandungan Sulfur (asam) relatif rendah di bawah 0,5 persen.

      Teknologi pengolahan yang dikembangkan Pertamina bersama Rosneft dalam GGR Tuban adalah untuk jenis sweet crude oil sehingga produknya pun ramah lingkungan. Oleh sebab itu konsorsium bisnis PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia dengan komposisi saham Pertamina sebanyak 55 persen dan 45 persen Rosneft, tidak dipakai menelan minyak mentah dari dalam negeri yang kandungan sulfurnya rata-rata tinggi.

      Diantara negara yang memiliki lapangan Migas dengan produk sweet crude oil adalah Venezuela, Timur Tengah, dan Eropa. Sedangkan kilang Tuban diproyeksi mampu menghasilkan 30 juta liter BBM (gazoline dan diesel) per hari, dan produk petrokimia 4,25 juta ton per tahun.

      “Dalam bisnis ini Pertamina juga memperhitungkan sharing risiko,” kata Kadek. “Pihak Rosneft sendiri akan menyuplai 60 persen bahan baku dari ladang minyak yang dikelolanya,” tambah Kadek.

      Pada bagian lain, Kadek mengatakan, saat ini progres proyek kilang Tuban memasuki tahap konsultasi publik studi Amdal. Amdal Kilang Tuban yang telah rampung dibuat pada tahun 2017 diadendum, lantaran ada pergeseran lokasi, dan ditambah lagi ada reklamasi laut sehingga akan diikuti beberapa perubahan.

      “Dijadwalkan Amdal setelah dikonsultasikan ke publik bakal rampung pada bulan September,” tambah Manager HSEE GRR Kilang Tuban, Kemas A Johansyah, usai acara di tempat sama.

      Kilang yang menempati lahan seluas 1.050 hektar tersebut, bakal menghasilkan Avtur sebanyak 4 juta liter per hari itu. Pada tahap kontruksi akan menyerap sekitar 27.000 tenaga membutuhkan 2.500 tenaga kerja.

      “Pertamina telah menyiapkan berbagai program dalam menyiapkan warga Tuban, untuk dipekerjakan di kilang mulai saat kontruksi maupun operasi,” sergah Kadek.

      Sejak dimulainya sosialisasi hingga proyek akan memasuki kontruksi, PT Pertamina telah mengeluarkan dana kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) untuk warga sekitare lokasi kilang kurang lebih Rp13 miliar. Itu belum termasuk dana sosial sebagai bentuk kepedulian terhadap Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang nilainya sekitar Rp1,3 miliar. (tbu)


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more