RUU Migas Mendesak Dituntaskan, Pemerintah Harus Ambil Alih

Jum'at, 30 April 2021, Dibaca : 345 x Editor : nugroho

dok/sbu
TUMPUAN PEMERINTAH : Lapangan Migas Banyu Urip, Blok Cepu di Kabupaten Bojonegoro, Jatim, yang dikelola EMCL.


SuaraBanyuurip.com - d suko nugroho

Bojonegoro - Perdebatan tentang Undang-undang No.22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (UU Migas) kembali bergulir. Sejumlah akademisi, praktisi dan pengamat energi menyatakan revisi undang-undang migas harus segera dituntaskan untuk  memberikan kepastian investasi hulu migas di Indonesia.

Demikian hasil Forum Group Discusion di kampus Unair Surabaya, yang menghadirkan Pengamat Migas yang juga mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Susilo Siswoutomo, M. Kholid Syerazi  Sekjen PP ISNU, Dekan Fakultas Hukum Unair Iman Prihandono dan Pengamat Energi Indria Wahyuni. FGD ini dibuka oleh Rektor UNAIR Prof. Dr. Mohammad Nasih, Jumat, (30/4/2021).

Baca Lainnya :

    Sekjen PP Ikatan Sarjana Nahdlatul ulama, Kholid Syerazi mengatakan UU Migas yang dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi sebagai sebuah kebobolan Undang-undang dalam pengelolaan kekayaan alam yang menguasai hajat hidup orang banyak. 

    “Revisi Migas harus segera dilakukan dengan tetap mengacu pada keputusan MK tahun 2012, yaitu harus dikelola oleh Badan Usaha Khusus Milik Negara,” ungkapnya.

    Baca Lainnya :

      Agar revisi UU Migas dapat dituntaskan, Kholid Syerazi mengusulkan agar inisiasi revisi UU Migas diambil alih oleh Pemerintah. Kemudian Kholid juga mengusulkan agar SKK Migas ditetapkan diubah bentuknya dan ditetapkan sebagai BUMN. 

      “Namun ada tantangan jika SKK Migas menjadi BUMN yang mengelola hulu migas yaitu bagaimana modalnya? Karena ini juga nantinya konsep participating interest (PI) 10% akan dilakukan oleh BUMNK ini,” ujar penulis buku  Tata Kelola Migas Merah Putih ini.

      Selain itu bahwa UU Ciptaker subsektor Migas belum menunjukan upaya memberikan kepastian. Sebagai penutup, Kholid mengusulkan bahwa mengurus migas tidak cukup modal semangat nasionalisme saja, harus ada tiga kombinasi yaitu peran negara yang kuat, iklim investasi yang investor friendly dan keterlibatan masyarakat. 

      Sementara itu, pengamat energi Indria Wahyuni menyoroti belum adanya lembaga permanen yang mengelola hulu migas pasca putusan Mahkamah Konstitusi, sehingga mengakibatknya tidak adanya kepastian usaha bagi investor.

      “Selama 9 tahun berjalannya lembaga sementara maka masih berkutat pada conflict of norms, padahal ada komisi pengawas yang di dalamnya terdapat menteri sampai kapolri, namun ini tidak menyelesaikan masalah,” bebernya.(suko) 



      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more