SANTRI dan INDONESIA (bagian 1)

Kamis, 21 Oktober 2021, Dibaca : 878 x Editor : nugroho

dok.Murtadho
Murtadho.


                   Oleh : Murtadho

Sruput kopinya dulu loer !!!

Bangsa ini menghapa harus bangga pada santri atau menjadi bagian dari proses perSANTRIan?. Dalam kesempatan kali ini penulis paparkan secara gamblang namun singkat dan sederhana, dalam menyambut hari santri yang telah dicanangkan sejak 2015 silam oleh Presiden Joko Widodo dengan Keppres Nomor 22 tahun 2015, hal ini menjadi titik balik bagaimana peran santri dan pesantren membangun negeri ini, yang sejak zaman Belanda dan Presiden Soekarno style santri dan pesantren dianggap sebelah mata.

Baca Lainnya :

    Banyak kalangan mengulik tentang apa, siapa, bagaimana kapan dan mengapa santri dan pesantren bertumbuh di negeri ini. Pada kesempatan hari santri kali ini penulis mencoba kembali menggelitik alam fikir kita, apa makna sebenarnya santri dan pesantren itu sendiri. Sehingga semua kalangan menjadi sadar bahwa ada yang salah dengan oknum negeri ini terhadap keberadaan santri dan pesantrennya.

    Asal-Usul Kata Santri Salah satu versi mengenai asal usul istilah “santri”, seperti dikutip dari buku Kebudayaan Islam di Jawa Timur: Kajian Beberapa Unsur Budaya Masa Peralihan (2001) karya M. Habib Mustopo, mengatakan kata “santri” berasal dari bahasa Sanskerta. Istilah “santri”, yang artinya "melek huruf" atau "bisa membaca".

    Baca Lainnya :

      Demikian juga menurut C.C. Berg yang menyebut istilah “santri” berasal dari kata shastri yang dalam bahasa India berarti "orang yang mempelajari kitab-kitab suci agama Hindu". Sanskerta merupakan bahasa liturgis dalam agama Hindu, Buddha, dan ajaran Jainisme, satu dari 23 bahasa resmi di India.

      Sedangkan Sanskerta sendiri pernah digunakan di Nusantara pada masa Hindu dan Buddha yang berlangsung sejak abad ke-2 Masehi hingga menjelang abad ke-16 seiring runtuhnya Kerajaan Majapahit, seperti dikutip oleh Zamakhsyari Dhofir dalam buku Tradisi Pesantren (1985), mendukung rumusan Berg dan meyakini bahwa pendidikan pesantren, yang kemudian lekat dengan tradisi edukasi Islam di Jawa, memang mirip dengan pendidikan ala Hindu di India jika dilihat dari segi bentuk dan sistemnya.

      Nurcholis Madjid menautkan pendapat tersebut dengan menuliskan bahwa kata “santri” bisa pula berasal dari bahasa Jawa, yakni cantrik yang bermakna "orang atau murid yang selalu mengikuti gurunya".

      Ada pula yang mengaitkan asal usul istilah “santri” dengan kata-kata dalam bahasa Inggris, yaitu sun (matahari) dan three (tiga), menjadi tiga matahari. Dinukil dari tulisan Aris Adi Leksono bertajuk “Revitalisasi Karakter Santri di Era Milenial” dalam NU Online, maksud tiga matahari itu adalah tiga keharusan yang harus dimiliki oleh seorang santri, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan.

      Istilah “santri” bisa pula dimaknai dengan arti “jagalah tiga hal”, sebagaimana yang tertulis di buku Sejarah Pergerakan Nasional (2015) karya Fajriudin Muttaqin dan kawan-kawan, yaitu menjaga "ketaatan kepada Allah, menjaga ketaatan kepada Rasul-Nya, dan menjaga hubungan dengan para pemimpin".

      Dari bahasa Arab, asal usul istilah “santri” juga bisa ditelaah. Kata “santri” terdiri dari empat huruf Arab, yakni sin, nun, ta’, dan ro’ yang masing-masing mengandung makna tersendiri dan hendaknya tercermin dalam sikap seorang santri, demikian dikutip dari buku Kiai Juga Manusia: Mengurai Plus Minus Pesantren (2009).

      Menurut ulama dari Pandeglang, Banten, K.H. Abdullah Dimyathy, huruf sin merujuk pada satrul al‘awroh atau "menutup aurat", huruf nun berasal dari istilah na’ibul ulama yang berarti "wakil dari ulama"; huruf ta’ dari tarkul al ma’ashi atau "meninggalkan kemaksiatan"; serta huruf ‘ro dari ra’isul ummah alias "pemimpin umat".

      Sedangkan dalam pandangan K.H. M.A. Sahal Mahfudz, Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 1999-2014, kata “santri” berasal dari bahasa Arab yakni santaro yang berarti “menutup”. Santri adalah orang yang belajar, bukan justru menutup. Maka, dikutip dari jurnal Ulul Albab (2014) seorang santri mustahil santaro.

      Selanjutnya santri dan pesantren tidak bisa dipisahkan begitu saja bahkan lebh dari pada itu, sampai sejarah berdirinya bangsa Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran dan perjuangan pesantren. Sejak masa awal kedatangan Islam, terutama pada masa walisongo hingga masa penjajahan belanda, masa kemerdekan hingga kini, persantren telah menyumbang sejuta jasa yang tak ternilai harganya bagi Indonesia terutama kepada pengembangan agama Islam.

      Sebut saja Raden Fatah, Raja pertama Demak adalah salah satu santri di Pesantren asuhan Sunan Ampel. Begitu pula Sunan Giri, Sunan  Kalijaga, Sunan Muria, Sunan Kudus yang merupakan panglima perang kerajaan Demak adalah generasi awal santri Pesantren yang perannya dalam penyebaran agama Islam sangatlah besar.

      Dalam masa penjajahan, di Jawa ada nama Pangeran Diponegoro, di Sumatera ada Tuanku Imam Bonjol yang dijuluki Harimau Nan Salapan, di Aceh ada Teuku Umar dan Teuku Cik Di Tiro, di Makasar ada Syeh Yusuf  yang kesemuanya berjuang mengorbankan jiwa dan raga menentang penjajah Belanda.

      Pada kurun waktu tahun 1900-an,  muncul pula nama-nama besar seperti KH. Hasyim Asyari, Hos Cokroaminoto pendiri SI (Sarekat Islam), KH  Ahmad Dahlan, dan lain sebagainya. Pada masa kemerdekaan, muncul nama-nama seperti KH. Wahab Hasbullah, M. Natsir, KH. Wahid Hasyim, Buya Hamka, KH. Saifuddin Zuhri. 

      Dan pada masa sekarang terdapat sesepuh ulama seperti KH. Maemun Zubair, KH. Dimyati Rois dan lain-lain, dimana bisa kita lihat perannya dalam dunia politik maupun pengembangan agama Islam (Pesantren). Ada pula ulama yang lebih muda seperti alm. Gus Dur, Hidayat Nur Wahid, Din Syamsyuddin, KH. Hasyim Muzadi, KH. Said Aqil Siroj dan masih banyak lagi.

      Maka dari itu keberadaan Pesantren dapat dikategorikan menjadi empat Periode; Periode masa awal Islam di Indonesia, Periode penjajahan, Periode kemerdekaan, Periode reformasi sampai sekarang.

      Pesantren atau Pondok Pesantren adalah sekolah/madrasah Islam yang berasrama atau diasramakan. Para pelajar Pesantren disebut santri. Kata santri menurut Profesor Johns berasal dari bahasa Tamil yang berarti guru mengaji. Sedang kata pondok berasal dari bahasa Arab funduq yang berarti hotel atau asrama.

      Dalam bukunya “Tradisi Pesantren” Zamakhsyari Dhofier menyatakan; “Pondok, Masjid, santri, pengajaran kitab-kitab Islam klasik dan Kyai merupakan lima elemen dasar dari tradisi Pesantren”. Jadi bisa dibilang kelima hal tersebut adalah syarat atupun rukun berdirinya Pondok Pesantren.

      Satu hal yang menarik adalah disebutkanya Masjid. Ya, sejak zaman Nabi Masjid memang menjadi pusat pendidikan Islam dan kedudukan ulama yang menjadi pewaris para Nabi menuntut mereka untuk mewarisi sunnah Nabi tersebut.Dan sejarah pun membuktikan bahwa pembangunan Pondok selalu didahului dengan pembangunan Masjid dimana sang Kyai mengajar. Kemudian ketika santri sudah cukup banyak diperlukan tempat penginapan, barulah dibangun Pondok, seperti halnya yang terjadi pada Pesantren Tebuireng (Jombang) dan juga Pesantren al-Anwar (Rembang). (bersambung...)

      Sruput kopinya lagi aagh... !!!

      Penulis adalah : warga Bojonegoro - 352215xxxxxx0002


Show more