Sebut Normalisasi Kali Jadi Solusi Banjir Cepu

Sabtu, 09 Januari 2021, Dibaca : 194 x Editor : samian

dok SBU
BANJIR : Salah satu ruas jalan di wilayah Kecamatan Cepu saat terendam banjir Jumat (8/1/2021).


SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno

Blora - Kawasan perkotaan wilayah Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, menjadi langganan banjir bandang, apabila terjadi hujan lebat dalam waktu cukup lama. Menjadi hal lazim bagi masyarakat setempat. Ngeluh. Tidak lagi.

Justru jadi arena bersenang-senang. Sebab, sudah bertahun-tahun persoalan banjir di kota minyak ini belum ada solusi nyata.

Baca Lainnya :

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blora, beranggapan, yang menjadi masalah banjir di willayah Cepu, karena terjadinya penyempitan saluran dan pendangkalan saluran air dan kali kecil yang bermuara di Bengawan Solo.

    Ada sejumlah titik kali yang patut menjadi perhatian supaya banjir bisa dikurangi. Terutama di wilayah Ngareng, Kecamatan Cepu, yang sering menjadi langganan. Namun, pada hari Jum’at (8/1/2021), jalur protokol yang semula tidak diterjang banjir, kini harus kena imbas banjir bandang. Di Cepu hampir merata diterjang banjir.

    Baca Lainnya :

      Kepala BPBD Blora, Hadi Praseno, menyampaikan, perlu ada pelebaran masing-masing 1 meter kanan dan kiri kali.

      “Terutama kali yang melewati Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi (PPSDM) Migas,” ujarnya.

      Titik lain, kata dia, seperti di kawasan Mentul dan Kelurahan Ngroto. Perlu mendapatkan perhatian. Kali tidak lagi mampu menampung debit air, apabila terjadi hujan deras.

      “Cepu sendiri berada di dataran rendah,” kata Hadi Praseno.

      Pihaknya mengaku, sudah melakukan koordinasi dengan Dinas Perumahan Pemukiman dan Perhubungan (Dinrumkimhub) dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR), terkait wacana normalisasi tersebut. Apakah akan ada rekomendasi tertulis, dirinya belum bisa memberikan penjelasan.

      "Akan kami koordinasikan lagi,” jelasnya.

      Sementara, Abdul, warga yang biasa beraktifitas di Cepu ini menyampaikan, jika langkah normalisasi adalah langkah tepat. Namun, ketika dihadapkan dengan padatnya permukiman di wilayah yang akan dinormalisasi akan sulit.

      “Mereka diperkirakan menolak pindah,” jelasnya.

      Solusi nyata yang sekarang ini dibutuhkan masyarakat adalah rumah pompa. Agar saat genangan air hujan atau air sungi mencapai ketinggian tertentu, pompa air langsung nyala.

      "Air disedot dialirkan ke bengawan solo,” tandasnya.

      Diketahui, dari vedeo beredar di jejaring sosial maupun pesan berantai, warga Cepu sebagian menikmati banjir. Mereka berenang menggunakan bekas, ada juga yang bermain voly air.

      "Banjir disini bukan pertama kali. Sudah sering terjadi. Jadi masyarakat biasa aja sih, sambil main gini,” ungkap salah satu warga Keluarahan Balun, Cahyo.

      Untuk diketahui, data diperoleh dari BPBD Blora, hujan lebat di wilayah kecamatan Cepu dan sekitarnya serta wilayah hulu hulu sungai yang melintasi wilayah Kecamatan Cepu dengan durasi lama menyebabkan banjir luapan dari Sungai Ngareng, Kelurahan Cepu. Yang melewati pemukiman mengakibatkan banjir.

      Adapaun rumah terdampak di Kelurahan Cepu, RW 04 RT 08 sebanyak 8 rumah, RW 04 RT 01  terdapat 10 rumah, RW 04 RT 5 sebanyak  6 rumah, RW 1 RT 1 sebanyak 33 rumah, RW 1 RT 2 sebanyak 26 rumah, RW 1 RT 3  terdapat 27 rumah, RW 1 RT 5 berjumlah 5 rumah, RW 1 RT 7 berjumlah 22 rumah, RW 8 RT 1 berjumlah 12 rumah, RW 8 RT 2 berjumlah 1 rumah.

      Ketinggian air masuk ke pemukiman warga kurang lebih 50 sampai 100cm. Pada peristiwa itu terdapat satu rumah warga tergerus longsor dan roboh di jalan Surabaya no 8, RT 1 RW atas nama Saminem. Banjir juga merendam akses jalan utama kecamatan sepanjang 500meter. Sebagian pasar plaza terendam dengan ketinggian 30 sampai 40 centimeter (cm), dengan ketinggian rata-rata pemukiman dan jalan sekira 50 cm - 100 cm.

      Sementara di Kelurahan Balun, di RW 11  terdapat 60 rumah terendam dengan ketinggian air 50 cm sampai 125 cm. Sekaligus merendam akses jalan kelurahan sepanjang 100 meter. Di Rukun Warga (RW) 12  terdapat 35 rumah terendam dengan ketingian air 50 cm sampai 125 cm. RW  09 terdapat 50 rumah terendam, RW 10 sebanyak 35 rumah terendam, RW 13 terdapat 25 rumah terendam. Rata-rata ketinggian sama.

      Kemudian air juga merendam pemukiman warga di Kelurahan Karangboyo. Diantaranya, RW 8 RT 1 sebanyak 60 rumah dengan ketinggian air mencapai 40 cm sampai 60 cm, RW 6 RT 3 sebanyak 32 rumah, RW 3 RT 2 terdapat 25 rumah, RW 3 RT5 sebanyak 18 rumah, RW 3 RT 4 terdapat 17 rumah, RW 7 RT 1 sebanyak 5 rumah, RW 01 sebanyak 125 rumah, dan Sekolah Dasar (SD) Karangboyo 3, rata-rata ketinggian 50 cm sampai 70 cm.

      Di Kelurahan Ngelo, air juga menggenangi rumah warga. Diantaranya, di RT 1 RW 8 sebanyak 7 rumah, RT 1 RW 3 sebanyak 5 rumah, RT 2 RW 3 terdapat 27 rumah, RW 4 sebanyak 20 rumah, RW 5 sebanyak 85 rumah, dan RW 1 sebanyak  40 rumah. Rata-rata air menggenang dengan ketinggian 40 cm sampai 60 cm.

      Adapun di Kelurahan Ngroto, hujan lebat diwilayah hulu menyebabkan banjir luapan Sungai Giyanti dan menggenangi rumah warga. Diantaranya, di RW 1 sebanyak 115 rumah, RW 2 sebanyak 60 rumah,  dan RW 3 sebanyak 105 rumah. Dengan ketinggian air masuk pemukiman skitar 50 cm sampai 100 cm.

      Di Desa Mulyorejo, banjir luapan Sungai Joho merendam Sekolah Menengah Pertama (SMP) 4 Cepu dengan ketinggian air 25 cm dan Jalan Provinsi dengan ketinggian air 30 cm panjang jalan 100 meter.(ams)


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more