Selamat Jalan Sang Maestro

Selasa, 05 Mei 2020, Dibaca : 308 x Editor : teguh

SuaraBanyuurip.com/tbu
Melati Putih


SAYA lupa hari, tanggal, maupun bulannya. Ingat saya sekitar tahun 2002/2003.  Saya bersama bebersapa kawan wartawan bertemu Didi Kempot di Madiun. Kebetulan saat kami makan siang di pasar swalayan Sri Ratu, Jalan Pahlawan-Kota Madiun lelaki gondrong berperawakan sedang itu datang.

Tak berbeda dengan kakaknya komedian kondang almarhum Mamiek Prakoso, putra seniman Ranto Edi Gudel asal Ngawi itu juga ramah. Tertawanya lepas. Tanpa sekat dalam berkomunikasi dengan jurnalis. Khas seorang pelakon seni yang akrab di jalanan.

“Kita sama-sama seniman, Sampeyan di seni tulis menulis, aku seni musik,” kata Didi Kempot waktu itu. Obrolan pun mengalir, mulai selera kuliner hingga ranah musik yang digeluti lelaki terlahir dengan nama Dionisius Prasetyo itu. 

Baca Lainnya :

    Pria yang lahir di Surakarta ujung Desember 1966 itu memang berbeda. Perjuangannya menggendong musik dengan genre Campursari di awal karirnya tak mudah. Tragisnya disaat mazhab yang jadi ikonnya di dunia musik tanah air mencapai puncaknya harus ia tinggalkan berpulang mendadak hari Selasa (05/5/2020) pagi.

    Di akhir tahun 1980-an dan tahun 1990-an, hegemoni aliran pop begitu membumi. Band dengan genre Pop pun tumbuh bak cendawan di musim hujan. Sebut saja di era itu ada Dewa 19, Kla Projeck, Padi, Slank, God Bles, termasuk Jamrud dan kelompok musik Pop lainnya.

    Baca Lainnya :

      Sedangkan di kalangan single penyanyi, kala itu cukup kuat didominasi kalangan Pop juga. Sebut saja Yuni Sara, Paramitha Rusady, Anggun C Sasmi, Ruth Sahanaya, dan tentunya Nicky Astria. Di kalangan penyanyi pria ada penembang elegi, Ebied GAD, Gito Rollis, Iwan Fals, Doel Sumbang, Jopie Latul, Johan Untung, Chrisye, Indra Lesmana, dan sederet pegiat olah vocal beraliran Pop lainnya. Jangan lupa era itu juga ada Bosanova dengan Ermi Kulit-nya.

      Kemunculan Didi Kempot mengusung Campursari bagai melawan arus di sungai beraliran deras. Musik ini merupakan kolaburasi dari seni tradisi Jawa, Gamelan, dangdut, dan keroncong. Ketiganya bersimbiosis dalam sinkretis yang kemudian disebut Campursari. Warna musiknya dan lirik lagunya kental dengan bahasa Jawa. 

      Karib saya, Joko Wahyono, pemerhati dan pelakon seni yang belakangan tinggal di Ngawi setelah capek kelayaban ngalor ngidul di ibu kota dan kota buaya menyatakan, “di ranah seni musik membawa genre berbeda di saat publik telah dihegemoni musik Pop adalah kemuskilan, kecuali aliran baru tersebut menjanjikan hal yang benar-benar berbeda dan memikat.”

      Terlebih seni tradisi semacam Gamelan, sebagian warga di Jawa tengah dan timur menyebut Klenengan atau Uyon-uyon, Keroncong, dan Dangdut di era itu distigma kuno. Tidak mbois, kata kalangan muda kala itu. Pun dianggap aliran musik yang udik bagi publik yang terlanjur gandrung aliran mudik Pop, dan Rock and Roll. 

      Melihat fenomena di awal kemunculannya,  seorang Didi Kempot, menurut saya, adalah seniman yang berani berbeda meski tidak asal beda. Aliran yang dipopulerkannya di tengah gegap-gempitanya Pop, dan Rock n Roll bukan perkara mudah. Butuh kejelian dalam membuat terobosan.

      Perlahan namun pasti, aliran yang diusung Didi menembus aliran yang mapan, dan sebelumnya telah membumi. Mungkin pada sisi kolaburasi piranti musiknya yang pas dalam mengaransemen hingga melahirkan karakter tersendiri.

      Bisa pula lirik dari sederet lagu yang dibesut Didi Kempot kental beraroma asmara, sehingga mampu merebut hati penggemarnya. Sebut saja lagu Sewu Kuto, Ojo Sujono, Cidro, dan Pamer Bojo hingga Sang Maestro Campursari ini disebut The Godfather Of Broken Heart di Indonesia. 

      Lebih dari itu nilai sastrawi dari lirik lagu ciptaannya terasa kental. Jika dimaknai secara serius rima yang keluar dari liriknya pun melayangkan, mengombang-ambingkan fikiran, penikmatnya. 

      Sebut saja lirik lagu Ojo Sujono; ... “Ronce-ronce melati benange lawe/pupus klapa sing ngelingke/nganti tuwa  aku isih tresna kuwe/senadyan ana goda sepiro akehe...”  Lirik tersebut mengarah pada kesetiaan cinta pada seseorang, sekalipun betapa besar cobaan yang akan dihadapinya.

      Sedangkan warna irama yang rancak di lagu Pamer Bojo. Sekalipun pada hakekatnya lirik tembang tersebut tak lebih dari ungkapan tirai hati yang terkoyak.

      Yang pasti Campursari dengan segala hitam putihnya yang dibawa Didi telah membumi. Segmentasi penggemarnya pun dari berlapis kalangan. Tak hanya kaum pinisepuh (sebut saja orang tua-Red) tapi juga kawula muda menggandrunginya. Di setiap gelaran panggung yang mendatangkannya dipadati penonton. Hampir semua stasiun televisi berhasrat mewancarainya.

      Mantan pengamen jalanan di Jakarta pada kisaran 1987-1989 yang telah menciptakan 700 lagu, sebagian besar liriknya berbahasa Jawa, itu memang luar biasa. Lagu Campursari acap dilantunkan penyanyi Dangdut, bahkan Dangdut Koplo. Sebut saja Via Valen dan Nela Kharisma, yang apik membawakan lagu balada Banyu Langit karya sang maestro.

      Belum lagi anak-anak muda bermain musik akustik, mempopulerkan dirinya secara indie di media Youtube, membawakan lagu ciptaan suami Yan Vellia tersebut. Upaya Didi menembus hegemoni genre musik tertentu pun berhasil. Di dalam negeri dan luar negeri pelantun lagu Stasiun Balapan itu dikenal.

      Suksesnya bersama Campursari kian melegenda. Berpulangnya pun menyisakan kenangan bagi jutaan penggemarnya, Sobat Ambyar.  

      “Tak ada yang mudah di dunia ini, tapi tak akan sulit jika mau berusaha dengan serius,” pungkas kata Didik Kempot sebelum meninggalkan kami di Sri Ratu Madiun kala itu. Selamat jalan sang Maestro Campursari. (tbu)

       


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more