Sering Gagal saat Berproses, Emi Rohmawati Kini Terbitkan 4 Buku

Sabtu, 12 September 2020, Dibaca : 110 x Editor : nugroho

joko kuncoro
Emi Rohmawati menunjukkan salah satu karyanya


SuaraBanyuurip.com - Joko Kuncoro

Bojonegoro - Emi Rohmawati hobi menulis sejak di bangku SMK. Saat itu, ia menulis catatan harian saja. Namun kini, berkat ketekunannya ia sudah menelurkan tujuh karya buku. Selain itu, penulis asal Desa Sumuragung, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, ini juga mengikuti berbagai macam perlombaan menulis.

Bagi Emi, menulis adalah sudah seperti kewajiban. Karena, dengan menulis ia bisa mengurangi kegelisahan dalam pikiran, dengan cara mengutarakan semua keluh kesah kehidupan melalui tulisan.  Ia tak patah semangat saat mengikuti berbagai lomba esai dan gagal. 

Baca Lainnya :

    “Saya berpikiran pantang untuk menyerah. Karena itu, dari sekian banyak kegagalan pasti akan membuahkan hasil,’’ kata Emi sapaan akrabnya.

    Soal kehilangan semangat untuk menulis, Emi juga pernah mengalami. Tapi setelah ingat tujuan awal, untuk menjadi seseorang penebar manfaat dengan berkarya, akhirnya kembali bersemangat. Ia ingat kata-kata penulis besar Pramoedya Ananta Toer, yang mampu menginspirasinya.

    Baca Lainnya :

      “Berbahagialah mereka yang makan dari hasil keringatnya sendiri, berbahagialah mereka yang maju karena pengalamannya sendiri, dan berbahagialah mereka yang bersuka cita karena usahannya sendiri,” tulis Pram dalam salah satu bukunya yang selalu diingat Emi.  

      Emi termasuk orang pantang menyerah dalam keadaan apa pun. Mahasiswi IAI Sunan Giri Bojonegoro ini hampir setiap hari menulis. Meski banyak gagal ia terus berusaha. Seiring berjalannya waktu, ia semakin sadar tulisan essay sudah semakin banyak. Kemudian, ia tertarik dengan tulisan bergenre sastra.

      Dia juga mulai mencoba jenis kepenulisan lainnya. Seperti cerpen, novel, dan puisi untuk menambah pengetahuan kepenulisan. Karena itu, ia tergerak menulis sebuah buku antologi kumpulan tulisan maupun buku solo karya sendiri.

      “Saya tulis setiap hari sedikit demi sedikit, karena ketika menulis buku pertama posisi masih bekerja. Jadi, benar-benar membagi waktu antara tugas kuliah, menulis buku, dan bekerja. Akhirnya, beberapa bulan kemudian tepatnya di bulan Agustus 2019 bisa menerbitkan buku pertama, yang berjudul Jejak Hidup berisi cerita tentang perjalanan hidup saya,’’ kata Emi alumni SMKN 4 Bojonegoro.

      Dari terbitnya buku pertama itulah, perempuan berhijab ini semakin merasa kecanduan dalam menulis buku. Seperti merasa menuliskan huruf dari ayat-ayat Tuhan yang diturunkan lewat pikiran. Karena itu, ia bisa menerbitkan buku-buku berikutnya. 

      Termasuk buku solo yakni Jejak hidup, Coretan Puisi, Kumpulan Quotes "Bangkit". Dan buku antologi bersama teman-teman penulis. Seperti kumpulan essay Kilas Balik Sejarah Desa dan Pengamalannya, Bernada Memorabilia, Gemintang Malam, dan Menembus Cakrawala, semua karya itu dari pikirannya yang diutarakan lewat tulisan.

      Kini, Emi masih aktif menulis baik itu dalam bentuk puisi maupun artil. Dalam sehari, ia mampu menulis dua sampai empat puisi. Namun, berbeda jika menulis artikel butuh waktu lama. Karena harus mencari referensi terlebih dahulu.

      Pengajar di TPQ Wali Songo Desa Sumuragung ini juga mengikuti berbagai macam komunitas literasi. Seperti Komunitas Sastra Amatir, Komunitas Pena Sastra Indonesia, Komunitas Kelas Puisi Online, Komunitas Kali Kening, dan UKM penulisan dan penalaran Griya Cendekia, untuk menambah pengetahuan dalam menulis. (jk)



      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more