Setahun Pembangunan Rumah Sakit Migas Tak Kunjung Tuntas

Kamis, 26 Desember 2019, Dibaca : 864 x Editor : nugroho

dok/sbu
Bupati Djoko Nugroho meletakkan batu pertama revitalisasi rumah sakit PPSDM Migas Cepu pada 25 Januari 2019.


SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno

Blora - Berdirinya kembali Rumah Sakit Migas Milik Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi (PPSDM Migas) Cepu, Kabupaten Blora, menjadi rumah sakit tipe D+ menjadi harapan masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan.

Namun, hingga mendekati tutup tahun 2019, rumah sakit tersebut tak kunjung rampung pembangunannya. Justru bangunan rumah sakit tampak seperti tak terurus. Kondisi pagar rusak parah akibat diterpa angin. Halamannya tampak kumuh karena banyak dedaunan jatuh. Sepi tak ada aktivitas.

Baca Lainnya :

    Padahal, jika pelayanan kesehatan itu berdiri akan menambah jumlah rumah sakit umum maupun rumah sakit swasta di wilayah setempat.

    Peletakan Batu Pertama

    Baca Lainnya :

      Ada dua perusahaan negara berkolaborasi mengaktifkan kembali rumah sakit tersebut. Yakni Perusahaan Gas Negara (PGN) melalui anak perusahaanya PGN Mas bertanggung jawab pada pekerjaan fisik rumah sakit, semantara PT Pertamedika-Indonesia  Healthcare Corporation (IHC) bertanggung jawab pada perlatan kesehatan dan management rumah sakit.

      Pembangunan dimulai awal tahun 2019. Pada 25 Januari 2019, dilakukan peletakan batu pertama bersama oleh Bupati Blora Djoko Nugroho, didampingi Kepala BPSDM Kementrian ESDM, Kepala PPSDM Migas, sebagai tanda dimulainya revilalisasi Rumah Sakit Migas.

      Saat itu, Kepala PPSDM Migas, Wahid Hasyim, menyampaikan, bahwa rumah Sakit tersebut pernah mengalami kejayaan pada masanya. Namun, pada tahun 2011, terpaksa harus menjadi poliklinik. Fasilitas kesehatan tersebut dinyatakan sebagai satu-satunya rumah sakit yang menjadi poliklinik.

      Revitalisasi rumah sakit Migas diharapkan bisa lebih besar dari sebelumnya. 

      "Bisa bermanfaat bagi masyarakat Cepu dan sekitranya," kata Wahid Hasyim.

      Senada disampaikan Bupati Blora, Djoko Nugroho. Orang nomor satu di Bumi Arya Penangsang itu pun siap pasang badan. Akan memberikan kemudahan segala perizinan di daerah sebagai wujud dukungan terhadap revitalisasi rumah sakit migas. 

      Sebab, sudah bertahun-tahun masyarakat menanti diaktifkannya kembali rumah sakit tersebut. Sehingga bisa menjadi solusi bagi masyarakat. Mengingat, hanya ada dua rumah sakit milik Pemkab Blora dan lima milik swasta.

      "Mudah-mudahan ini menjadi barokah. Bukan hanya dirasakan masyarakat di Cepu, tapi juga di Jawa Tengah," kata Kokok sapaan akrabnya.

      Kepala BPSDM Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja Puja, memberikan target Rumah Sakit Migas Beroperasi pada Bulan Oktober 2019. Rumah sakit tersebut didesain bukan sekadar untuk layanan kesehatan, namun bisa menjadi pusat pertumbuhan perekonomian di wilayah Cepu. 

      "Selain dokter, ada kantin dan ada lapangan peketjaan lain," ujarnya.

      Diduga Hilangkan Cagar Budaya

      Pada akhir Juni sampai Juli 2019 lalu, pihak rumah sakit mulai melakukan eksekusi bangunan lama untuk dihilangkan untuk mendukung kelancaran proses revitalisasi. Namun proses pembangunan tidak berjalan mulus. Sebab ada penghapusan asset yang dilakukan oleh PPSDM Migas, yang diduga merusak cagar budaya.

      Menurut Ketua Forum Peduli Sejarah Budaya Blora (FPSBB), Lukman Wijayanto, rumah sakit mgas yang saat ini dalam tahap revitalisasasi telah terdata dalam catatan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Balai Pelestarian Paninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah. Sekarang menjadi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB).

      Sebagai buktinya, tercatat dalam surat keterangan Benda Cagar Budaya Nomor 1399/101.SP/BP3/P-VI/2010, ditandatangani oleh Kepala BP3, Tri Hatmaji, tertangal 9 Juni 2010 di Klaten. Situs Rumah Sakit Migas Cepu bernomor registrasi Inventarisasi 11-16/Blo/21/TB/03, dengan Justifikasi Bangunan berarsitektur kolonial dengan ciri-ciri khas tembok tebal, jendela dan pintu besar, bangunan ini dibangun kurang lebih awal abad XX.

      Berdasarkan hasil penelitian, situs ini dinyatakan sebagai tinggalan purbakala yang dilindungi oleh Undang-Undang RI Nomor 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya dan telah terdaftar di kantor BP3 Jawa Tengah.

      Lukman, menjelaskan, di dalam area rumah sakit tersebut tidak hanya satu bangunan.

      "Satu alamat itu sudah terinventarisir sebagai cagar budaya," tegas Lukman Wijayanto.

      Laporan yang dia terima, pembangunan rumah sakit menghilangkan cagar budaya. Kemudian laporan tersebut ditindaklanjuti oleh Dinas Pemuda Olah Raga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) dengan menemui pihak PPSDM Migas.

      "Saya juga hadir pada saat pertemuan. Dalam pertemuan itu, ternyata pihak PPSDM Migas Cepu belum mengerti kalau rumah sakit tersebut sudah teregistrasi cagar budaya," tutur Lukman.

      Kehadiran tim dari Dinporabudpar, juga sekaligus melakukan sosialisasi cagar budaya. 

      "Kami tunjukkan dari registrasi nasional cagar budaya, dan sudah kami berikan sebuah buku tentang potensi Cagar Budaya Blora, di dalamnya ada data inventaris dan undang-undangnya," jelasnya.

      Sebenarnya dari PT Perusahaan Gas Negara (PGN), selaku investor pembangunan Rumah Sakit Migas, kata dia, sudah memberikan peringatan untuk memastikan status bangunan tersebut.

      "Dari pertemuan itu diperoleh kesimpulan akan dilakukan perubahan maket. Kami sendiri tidak hendak menghalangi karena Blora butuh rumah sakit baru yang baik dan murah. Karena ini adalah tupoksi kami, maka kami sampaikan," ujarnya.

      Targetnya, agar Pemkab Blora tidak terjebak seperti di Baitunnur. 

      "Kasihan stakeholder kalau disalahkan gara-gara cagar budaya," tandasnya.

      Jalan tengah agar pembangunan tetap jalan tanpa dihalangi aturan yakni dengan tidak menghilangkan bangunan cagar budaya.  

      "Hanya diperbaiki tanpa menghilangkan bentuk aslinya. Kami sudah sepakat," jelasnya.

      Terpisah, Kepala Dinporabudpar Blora, Slamet Pamuji, menyampaikan, dari data inventaris potensi cagar budaya Blora dari tahun 1979 sampai dengan 2017, Rumah Sakit Migas masuk dalam data potensi dan masuk registrasi nasional.

      Dijelaskan, ada proses lebih lanjut untuk menjadi cagar budaya. Yakni Harus ada tim pengkaji yang bersertifikasi. 

      "Meskipun sifatnya masih potensi, tapi harus hati-hati dalam perlakuannya," pesan Mumuk sapaan akrabnya.

      Secara formal Dinporabudpar belum diajak bicara. Kalau ada kepentingan, pembangunan seperti saat ini, pihaknya tidak punya kewenangan melarang atau mempersilakan pembongkaran.

      "Kalau seperti ini kami sifatnya menyarankan, ada beberapa bangunan yang disisakan untuk tidak dibongkar," ujarnya.

      Dugaan adanya usaha menghilangkan benda cagar budaya dibantah PPSDM Migas Migas Cepu, karena belum terbukti.

      "Kami tidak pernah diberi info bahwa itu masuk cagar budaya. Seharusnya, kalau itu masuk cagar budaya kami diajak ngobrol," kata Arisona Kepala Sub Bagian Kepegawaian dan Umum PPSDM Migas, Selasa (2/7/2019).

       "Kami tidak tahu kapan penilaiannya, tiba-tiba muncul sebagai cagar budaya," lanjutnya usai rapat di Dinas Perijinan Blora.

      Pertanyaan justru menggelayut di benak PPSDM Migas Cepu. Pihak mana yang telah mengusulkan bangunan rumah sakit migas itu masuk cagar budaya. 

      "Kalau pun ada Benda Cagar Budaya, jadi tertentu saja. Tidak dilakukan secara total. Hanya renovasi saja," tandasnya.

      Oleh karena itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). Apabila benar ada cagar budara. Dijelaskan, bahwa cagar budaya itu memungkinkan dibagun. Supaya lebih bermanfaat dan terurus. 

      "Misalkan ada cagar budaya, ini ditinggal sebagai identitas saja," tandasnya.

      Pembangunan rumah sakit terus berjalan agar masyarakat juga segera mendapat pelayanan kesehatan. 

      "Target kita Oktober atau November selesai," tandasnya.

      Ditegaskan, penghancuran bangunan dan penghapusan asset tidak ada persoalan. 

      "Itu bangunan tahun 1994 yang kami hapuskan," ujar Arisona.

      Pada bulan Juli itu, ternyata pihaknya juga baru melaksankan rapat bersama terkait ijin prinsip serta UKL UPL. Antara PPSDM Migas, anak perusahaan PGN yaitu PGN Mas (PT Permata Graha Nusantara), Dinas Perijinan Blora, Dinas Lingkungan Hidup serta pihak terkait lainnya. Proses perijinan dilaksanakan bersamaan demi mengejar operasional rumah sakit yang ditarget pada bulan Oktober 2019.

      Ditetapkan Sebagai Cagar Budaya

      Pemerintah Kabupaten Blora Jawa Tengah, memastikan hanya satu bangunan cagar budaya di lokasi perbaikan Rumah Sakit Migas Cepu.  Kepastian diperoleh setelah dilakukan kajian dari tim kajian cagar budaya kabupaten.

      "Kami di kabupaten juga ada tim kajian cagar budaya. Jadi, setelah dikaji, ditentukan hanya 1 bangunan cagar budaya," kata Slamet Pamuji,  Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Blora,  Kamis (5/9/2019).

      Menurut Mumuk, sapaan akrabnya, ditengah bangunan Rumah Sakit itu,  ada rumah panggung.  

      "Itulah yang ditentukan sebagai cagar budaya," tandasnya.

      Bangunan tersebut,  kata dia,  akan dituangkan dalam surat keputusan bupati sebagai bangunan cagar budaya.  

      "Ini menunggu SK bupati," ujarnya.

      Sementara untuk langkah perbaikan bisa lakukan. Asal tidak menyeluruh. 

      "Hanya perbaikan kecil tidak apa-apa, " kata dia.

      Revitalisasi Mulai tak Jelas

      Memasuki bulan Oktober 2019, tidak ada kejelasan pembangunan rumah sakit migas. Apakah selesai atau justru gagal. Dari pantauan lapangan, justru gerbang masuk ditutup rapat. Layaknya tidak ada aktivitas apapun. Kondisi itu-pun mengundang pertanyaan masyarakat.

      “Dulu kabarnya selesai Oktober sebelum pergantian Menteri. Tapi sampai sekarang kok belum jadi juga,” kata Djoko, warga Kecamatan Cepu.

      Staf Khusus Bupati Blora, Djati Walujastono, angkat bicara terkait tidak ada kejelasan kelanjutan pembangunan. Dari perkembangan yang dia ikuti, bahwa rumah sakit Migas sampai sekarang ini belum ada perkembagan signifikan.

      Menurut dia, masih perlu rapat intensif antar stake holder untuk membahas dibangunnya RS tersebut. Dari berbagai aspek kerja sama, antara lain PPSDM Migas, Pertamina, dan PGN. 

      “Untuk mempertajam reaktivasi Rumah Sakit PPSDM Migas,” jelasnya.

      Bahkan, dimungkinkan ada alternatif investor lain kalau memang lebih baik dibanding yang sudah ada. 

      “Bisa saja berubah. Mana yang lebih cepat, lebih baik dan kelebihan yang lain,” tegasnya.

      Kerjasama dengan investor lain, menurut dia, masih memungkinkan. Kerena bukan harga mati dengan Pertamina medika dan PGN. 

      “Setahu saya belum ada suatu ikatan yang pasti. Karena ganti pimpinan ganti kebijakan, ganti target rumah sakit tipe D+ berubah C misalnya. Perubahan bangunannya akan berubah biaya dan persoalan lain,” tandasnya.

      Idealnya, lanjut dia, kerja sama itu memang hanya Pertamina, PGN dan PPSDM Migas yang sudah berjalan. 

      “Tapi dipandang tidak jalan atau beda pendapat, ada investor baru yang lebih baik, cepat, kompeten dan lain lain. Kenapa tidak?” tuturnya.

      Sementara Kepala Sub Bagian Kepegawaian dan Umum PPSDM Migas, Arisona, saat dikonfirmasi terkait pembangunan tersebut dia tidak banyak memberikan keterangan. 

      “Nanti kalau sudah fix kami kabari. Bukan seperti itu, karena ini masih pembahasan internal. Kalau sudah ada progres pasti nanti ada kabar, semua sedang berproses,” ungkapnya.

      PPSDM Migas Ancam Gandeng Investor Lain

      Tidak adanya progres siginifikan serta melesetnya target pembangunan Rumah Sakit Migas, membuat PPSDM Migas mengambil sikap. Akhir Oktober 2019, mereka mengancam bakal menggandeng Investor lain dalam pembangunan Rumah Sakit Migas.

      Diketahui sampai sekarang ini pembangunan Rumah Sakit milik PPSDM Migas itu masih mandeg. Menurut Kepala PPSDM Migas, Wahid Hasyim, mandegnya pembangunan RS Migas karena ada perubahan struktur pimpinan di lingkup Investor. Sehingga perlu dilakukan analisa ulang dalam pembangunan tersebut.

      “Pembangunan rumah sakit terkendala karena ada perubahan struktur pimpinan di tubuh investor,” ungkapnya.

      Kendati demikan, pihaknya tetap memberikan kesempatan untuk menyelesaikan. Sekarang ini, keberlangsungan pembangunan masih diberi kebebasan. Kesempatan itu sengaja diberikan untuk mengukur kesanggupan investor. 

      “Tetap kami dorong untuk menyelesaikan. Kalau ada invetor yang lebih baik ya tidak apa-apa,” ujarnya.

      Wahid Hasyim mengaku, merasa tidak ada ikatan lantaran kerja sama itu masih dalam bentuk  Memorandum of Understanding (MoU).

       “Belum ada Perjanjian Kerja Sama atau PKS, hanya MoU saja. Bagi kami belum mengikat," jelasnya.

      Belum adanya ikatan itulah, ada peluang untuk menjalin kerja sama dengan investor lain. 

      "Kalau nanti tidak memenuhi target, ya kami akan melihat yang lain,” ujarnya.

      Pihaknya tetap mengutamakan investor yang sudah ada. Namun, kalau prosesnya terlalu panjang, akan mencari investor baru.

      Di singgung apakah ada batas waktu dari investor lama untuk memenuhi target? Dia menyampaikan, paling tidak tahun 2020 nanti sudah ada pembangunanya. 

      “Awal nanti sudah jelas siapa yang mulai,” ungkapnya.

      Langkah mencari investor baru mendapat dukungan Staf Khusus Bupati Blora, Djati Walujastono. Alasannya belum PKS. Sehingga PPSDM Migas berhak mencari investor untuk pembangunan dan pegelola rumah sakit.

      Investor yang digendeng harus cepat bertindak dan baik.  Artinya profesional dan secara financial menguntungkan ketiga pihak maka investor itulah yang akan bekerjasama dengan PPSDM Migas.

      Perkiraannya, sampai sekarang belum ada titik temu antara Pertamedika IHC, PGN MAS sebagai Investor dan PPSDM Migas.

      Namun begitu Pertamedika IHC dan PGN MAS, bagi PPSDM Migas adalah prioritas utama sebagai investor pengelola dan pembangunan Rumah Sakit Pertamina-Migas Cepu.

      Dalam MoU yang dilaksanakan, ditentukan bahwa PGN MAS bertanggung jawab atas revitalisasi rumah sakit, sedangkan Pertamedika IHC bertanggung jawab atas penyediaan alat rumah sakit. (ams) 

       



      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more