SKK Migas Masih Bahas Detail Pemanfaatan Gas Banyu Urip

Rabu, 30 September 2020, Dibaca : 276 x Editor : nugroho

beritasatu.com
Plt. Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas, Susana Kurniasih.


SuaraBanyuurip.com - d suko nugroho

Bojonegoro - Rencana pemanfaatan gas ikutan dari Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu, oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Bojonegoro, Jawa Timur, PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS), masih dibahas secara detail di Divisi Komersial Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

"Masih dalam proses, dan membutuhkan waktu," ujar Plt. Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas, Susana Kurniasih dihubungi suarabanyuurip.com, Rabu (30/9/2020).

Baca Lainnya :

    Susana menjelaskan, pembahasan detail rencana pemanfaatan gas Lapangan Banyu Urip perlu dilakukan untuk mengetahui siapa pembeli gas, pemanfaatannya hingga harganya. Sehingga ketika diajukan kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) seluruh proses sudah clear.

    "Ini nanti jadi hal penting yang akan disampaikan ke pak Menteri ESDM ketika minta persetujuan alokasi. Karena nanti yang memutuskan alokasi dan harga gasnya Pak Menteri," tegasnya. 

    Baca Lainnya :

      Direktur Utama PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS), Thomas Gunawan menyampaikan jika lapangan minyak Banyu Urip akan mengalami kelebihan gas sebesar 10 Juta Standar Kaki Kubik per Hari (Million Standard Cubic Feet per Day/MMSCFD) pada awal 2022. Dengan jangka waktu delapan tahun.

      Karena itulah, mantan Director Project Lapangan Gas Jambaran - Tiung Biru (JTB) PT Rekayasa Industri (Rekind), itu mengajukan penawaran pembelian 5 MMSCFD. Gas tersebut akan dimanfaatkan untuk kebutuhan perumahan, perhotelan, resto, dan rumah sakit. Sedangkan sisanya akan dipasarkan untuk industri di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah. 

      "Perkiraan kita dari alokasi itu hanya 20-30% yang akan terserap untuk pasar di Bojonegoro," ucapnya saat rapar kerja dengan Pimpinan DPRD Bojonegoro beberapa waktu lalu. 

      PT BBS, lanjut Thomas, telah menandatangani kerja sama dengan PT Pertamina Gas (Pertagas) untuk membangunan fasilitas pemrosesan gas bersama dan pemasaran. Karena Pertagas juga sama-sama mengajukan penawaran pembelian gas dari Lapangan Banyu Urip. Sekarang ini BBS-Pertagas sedang menyeleksi beberapa kontraktor yang akan membangun fasilitas tersebut. 

      "Kenapa kami menggandeng Pertagas, karena secara infrastruktur dan pemasaran lebih siap. Pertagas sudah memiliki jaringan pipanya," tegasnya.

      Sebelumnya, sumber suarabanyuurip.com di Lembaga Minyak dan Gas (Lemigas) yang enggan disebut namanya menyampaikan, ada sejumlah pertimbangan yang harus diperhatikan Pemkab Bojonegoro untuk mengelola gas suar bakar Lapangan Banyu Urip. Yakni keekonomisan gas yang akan diolah, investasi, dan pasar dari produk yang dihasilkan.

      Sebab, lanjut dia, flare gas di Lapangan Banyu Urip memiliki kadar karbon dioksida (CO2) dan Hidrogen Sulfida (H2S) tinggi, yakni hampir 40%. Sehingga membutuhkan biaya proses (investasi) yang lebih mahal untuk mengolahnya karena harus memisahkan H2S dan CO2. Sedangkan sisa komponen hidrokarbon yang bisa diolah jadi methana atau CNG dan LPG hanya sekitar 50% dari volume total.

      "Menurut saya, idealnya untuk keekonomisan gas yang akan diolah sebesar 50 MMSCFD. Sebab dari jumlah itu yang bisa diolah hanya sebesar 25 MMSCFD," ujar pria yang lebih dari 30 tahun malang melintang di industri hulu migas ini.

      Namun persoalannya, kata dia, Lapangan Banyu Urip sedang digenjot untuk tingkatkan produksi minyak dari rencana awal 165 ribu barel per hari (Bph) menjadi 235 ribu (Bph). Untuk mencapai target tersebut maka dilakukan injeksi air dari bawah lapisan minyak, dan injeksi gas dari atasnya.

      "Setahu saya semua gas ikutan atau associated gas diinjeksi untuk tingkatkan produksi minyak. Sisa yang dibakar sebagai flare biasanya sedikit sekali, di bawah 10 MMSCF, kecuali saat ada perbaikan dan pemeliharaan sistem injeksi," pungkasnya.(suko)



      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more