Takut Dikeroyok, Terdakwa Pembunuhan Dilarikan Loncat Pagar

Kamis, 04 Juli 2013, Dibaca : 1576 x Editor : nugroho

edi purnomo
LONCAT PAGAR : Terdakwa pembunuhan, Samiedi, saat dievakuasi petugas untuk menghindari pengeroyokan keluarga korban.


SuaraBanyuurip.com - Edy Purnomo

Tuban –  Khawatir dikeroyok oleh keluarga korban, Samiedi (22), terdakwa pembunuhan takmir masjid di Dusun Sundulan, Desa Sumberagung, Kecamatan Plumpang, Tuban, terpaksa dievakuasi dengan cara meloncati pagar tembok belakang Pengadilan Negeri (PN) Tuban, Jawa Timur, Kamis (4/7/2013).

Dalam evakuasi itu terdakwa harus meloncat pagar tembok setinggi 2 meter lebih usai menjalani persidangan yang beragendakan putusan. Cara itu dilakukan karena terdakwa nyaris dikeroyok keluarga dari Hadi Pramono (50), takmir masjid sekaligus korban yang dibunuh terdakwa, serta keluarga dari Munatun (48), yang merupakan istri dari korban yang saat ini mengalami cacat permanen. Terdakwa melakukan pembunuhan itu pada Pebruari 2013 lalu.

Baca Lainnya :

    Usai melompati pagar, terdakwa langsung digiring dan masuk kesalah satu mobil yang ada di lingkungan Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban karena pagar tersebut merupakan pembatas antara Kantor PN dengan Kantor Pemkab Tuban.

    “Kami mencegah adanya upaya-upaya anarkis dari keluarga korban. Karena masih jengkel dan tak terima dengan putusan pengadilan,” kata Kapolsek Kota, AKP Basir, saat berada di gedung PN Tuban.

    Baca Lainnya :

      Sementara itu, keluarga korban yang tidak tahu arah evakuasi yang dilakukan petugas hanya bisa berteriak dan menghujat terdakwa. Mereka menganggap putusan seumur hidup yang dibacakan Hakim Imam Supardi, dinilai masih belum setimpal dengan perbuatan yang telah dilakukan terdakwa. Karena selain menghilangkan nyawa takmir masjid, juga sang istri, Munatun, saat ini mengalami cacat permanen.

      Menanggapi vonis hukum yang terlalu ringan, Pengacara terdakwa, Muhammad Soleh, mengaku masih berfikir untuk melakukan banding. Meskipun putusan itu lebih berat tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) yakni 20 tahun penjara.

      “Kita akan pikir-pikir dulu selama tujuh hari, karena vonis ini lebih besar dari tuntutan,” ungkap Soleh.(edp)


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more